27.4 C
Sidoarjo
Thursday, August 13, 2026
spot_img

Ketika Monas Berhias

Oleh:
Zainal Muttaqin
Kabag Humas Kantor Gubernur Jawa Timur

Belakangan ini saya cukup sering berada di Jakarta. Sepanjang Juli hingga awal Agustus 2026, beberapa tugas membawa saya ke ibu kota, dan kebetulan sebagian besar kegiatan berlangsung di kawasan Jakarta Pusat.

Ada satu kebiasaan kecil yang selalu saya lakukan setiap kali memiliki waktu luang di pagi hari sebelum memulai padatnya agenda di selama di Jakarta, saya menyempatkan diri berjalan kaki atau jogging ringan mengelilingi Monumen Nasional.

Barangkali bagi warga Jakarta, Monas hanyalah ruang publik biasa. Tempat orang berolahraga, berfoto, atau sekadar menghabiskan pagi. Namun bagi saya, Monas selalu punya makna yang sedikit berbeda.

Saya lahir dan tumbuh di pelosok desa di bantaran sungai bengawan solo Jawa Tengah. Dulu, ketika kecil, Monas hanyalah gambar yang muncul di buku IPS, layar televisi, dan kalender dinding kantor sekolah. Begitu pula Istana Merdeka yang berdiri anggun tepat di seberangnya. Dua bangunan itu terasa sangat jauh, seolah hanya dihuni orang-orang penting yang namanya sering disebut pembawa berita televisi.

Saya masih ingat betul doa sederhana ibu saya. “Mugo-mugo anakku sukses, ben iso ndelok Monas nang Jakarta.” Semoga anakku nanti sukses, supaya bisa melihat Monas di Jakarta. Doa itu sederhana sekali. Bukan menjadi pejabat. Bukan menjadi orang kaya. Bahkan bukan pula meminta saya suatu hari masuk ke Istana Negara. Cukup bisa melihat Monas.

Kini, setiap kali berdiri di sana, saya sering tersenyum sendiri. Rupanya doa seorang ibu memang kadang lebih hebat, daripada dokumen perencanaan pemerintahan yang tebalnya seukuran bantal itu.

Cerita Pagi di Monas
Pagi-pagi di kawasan Monas ternyata menghadirkan pemandangan yang berbeda beberapa pekan terakhir. Sejak awal Juli, berbagai persiapan menjelang peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 sudah mulai terlihat di mana-mana.

Berita Terkait :  Abaikan Insiatif Trump

Area sekitar Istana Merdeka dipenuhi aktivitas konstruksi. Panggung-panggung mulai dibangun. Tribun mulai berdiri. Tiang-tiang dekorasi bermunculan. Instalasi ini dan itu dipasang dengan sangat serius. Ornamen merah putih menghiasi hampir setiap sudut kawasan. Monas, yang biasanya tampak gagah dalam kesederhanaannya, kini perlahan berubah menjadi panggung atraksi raksasa. Semuanya terlihat megah. Semuanya terlihat mahal.

Saya tidak tahu berapa anggaran persisnya. Namun logika sederhana saja cukup mengatakan bahwa membangun panggung kenegaraan sebesar itu, memasang dekorasi dalam skala nasional, menyiapkan ribuan personel, sistem keamanan berlapis, latihan berbulan-bulan, hingga rangkaian seremoni yang berlangsung hampir sebulan penuh tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Jika dihitung hanya Jakarta saja mungkin nilainya miliaran rupiah. Kalau ditambah seluruh Indonesia? Barangkali sudah berbicara dalam satuan triliun. Dan menariknya, semua ini dilakukan setiap tahun. Setiap. Tahun.

Refleksi HUT ke-81
Saya kemudian mencoba mengingat kembali tema resmi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.Tema itu sangat indah.Persatuan.Kedaulatan.Keadilan.Kemakmuran.Empat kata yang rasanya sulit ditolak siapa pun.

Persatuan memang harus dijaga.Kedaulatan memang harus dipertahankan.Keadilan memang harus diperjuangkan.Kemakmuran memang menjadi cita-cita bersama.Saya sepakat.Bahkan sangat sepakat.

Namun seperti kebiasaan saya yang terlalu sering berpikir sambil berjalan kaki pagi, muncul pertanyaan-pertanyaan kecil yang terus mengganggu kepala.Benarkah seluruh kemeriahan ini benar-benar memperkuat persatuan?Apakah kemegahan panggung-panggung itu otomatis memperkokoh kedaulatan bangsa?Apakah dekorasi yang memenuhi kawasan Monas membuat rasa keadilan semakin dirasakan rakyat?

Dan yang paling sulit saya jawab: Apakah semua ini benar-benar membawa kemakmuran?Di titik inilah keyakinan saya mulai goyah.Bahkan mungkin hanya tersisa beberapa persen saja.

Sebab pada saat yang sama, di luar pagar Monas dan Istana Merdeka, percakapan masyarakat terasa sangat berbeda.Harga kebutuhan pokok masih menjadi keluhan sehari-hari.Biaya hidup terus meningkat.Lapangan pekerjaan belum benar-benar pulih.Daya beli masyarakat masih sering dipertanyakan.Pelaku usaha kecil masih berjibaku mempertahankan omzet.

Berita Terkait :  Komunikasi Politik Yang Mengabaikan Sense Of Crisis

Di media sosial, kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah datang hampir tanpa jeda.Di warung kopi, pembahasannya kurang lebih sama.Di grup WhatsApp, isinya juga tidak jauh berbeda.Kalau ada yang benar-benar stabil akhir-akhir ini, mungkin hanya jumlah orang yang mengeluh.Bahkan itu pun grafiknya tampaknya terus naik.

Saya tentu memahami bahwa negara membutuhkan simbol.Upacara kenegaraan memiliki nilai historis.Perayaan kemerdekaan adalah momentum membangun nasionalisme.Tidak ada yang salah dengan itu.

Yang menjadi pertanyaan hanyalah soal rasa.Apakah pesta yang begitu besar tetap terasa pantas ketika sebagian tamunya masih sibuk menghitung sisa uang belanja hingga akhir bulan?

Dalam budaya Jawa, orang tua sering mengingatkan, “empan papan”. Tahu kapan harus meriah.Tahu kapan harus menahan diri.Bukan karena tidak mampu berpesta.Tetapi karena memahami situasi.

Dampak Tak Tampak
Barangkali ada yang akan menjawab bahwa perayaan sebesar ini menggerakkan ekonomi.Hotel penuh.Transportasi hidup.UMKM banjir pesanan.Vendor bekerja.Percetakan ramai.Penyedia dekorasi dapat proyek.Penyewaan panggung meraup keuntungan.

Saya tidak menolak argumentasi itu.Bahkan mungkin sangat benar.Namun pertanyaan berikutnya justru lebih menarik.Ekonomi siapa yang bergerak?Siapa yang benar-benar menikmati putaran uang tersebut?

Apakah dampaknya sampai ke pedagang sayur di pelosok Halmahera?Apakah nelayan di Kepulauan Aru ikut merasakan kenaikan pendapatan karena Monas berhias?Apakah petani jagung di Nusa Tenggara merasakan manfaat langsung dari panggung kemerdekaan yang berdiri megah di Jakarta?Apakah guru honorer di pelosok Papua ikut tersenyum karena dekorasi nasional semakin mewah?

Ataukah manfaat ekonomi itu lebih banyak berputar di kawasan yang memang sejak awal sudah menjadi pusat aktivitas ekonomi?Kalau jawabannya yang terakhir, maka kita sedang berbicara tentang pertumbuhan.Bukan pemerataan.Padahal sila kelima tidak berbunyi “Keadilan Sosial bagi Sebagian Wilayah Indonesia.”

Panggung Kehidupan
Saya kemudian kembali berjalan mengitari Monas.Di kejauhan, para pekerja masih sibuk memasang berbagai perlengkapan.Mereka bekerja sejak pagi.Mungkin sampai malam.Mungkin juga lembur.Saya justru ikut senang melihat mereka memperoleh pekerjaan.Artinya ada ekonomi yang bergerak.

Berita Terkait :  Menanam Kembali Akar Hemat di Tengah Badai Krisis

Tetapi saya tetap berharap suatu hari nanti kemeriahan kemerdekaan tidak hanya berhenti pada dekorasi.Yang lebih penting adalah menghias kehidupan rakyat.Menghias kualitas pendidikan.Menghias layanan kesehatan.Menghias kesejahteraan petani.Menghias masa depan nelayan.Menghias harapan anak-anak muda yang sedang mencari pekerjaan.

Sebab Monas boleh berhias semegah apa pun.Tetapi kalau dapur rakyat tetap sepi, rasanya kemerdekaan belum selesai dirayakan.

Saya percaya pemerintah tentu memiliki pertimbangan.Saya juga percaya banyak pihak bekerja keras agar peringatan kemerdekaan berlangsung khidmat sekaligus membangkitkan optimisme nasional.

Tulisan ini bukan ajakan untuk meniadakan upacara.Bukan pula untuk mengurangi rasa hormat kepada para pahlawan.Justru karena menghormati perjuangan merekalah saya berharap setiap rupiah yang dibelanjakan atas nama kemerdekaan benar-benar menghasilkan kemerdekaan yang bisa dirasakan.

Bukan sekadar dilihat.Karena kemerdekaan bukan hanya tentang betapa indahnya panggung.Melainkan tentang betapa banyak rakyat yang akhirnya bisa berdiri tegak di atas panggung kehidupannya sendiri.

Trik Meracik Intrik
Pagi itu saya meninggalkan kawasan Monas dengan langkah pelan.Beberapa pekerja masih memasang ornamen.Bendera-bendera mulai berkibar.Suasana semakin semarak.Saya menoleh sekali lagi ke arah Istana Merdeka.

Lalu tiba-tiba muncul satu pikiran yang entah datang dari mana.Kalau setiap tahun persiapannya semakin panjang.Panitianya semakin besar.Rangkaian acaranya semakin banyak.Anggarannya semakin fantastis.

Jangan-jangan suatu hari nanti kita benar-benar akan memiliki kementerian, atau setidaknya sebuah lembaga negara khusus yang membidangi penyelenggaraan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dan saya pun tersenyum kecil.Lalu menyeruput perlahan Specialty Black Coffee-nyakangen.kopi hadiah dari sahabat saya kemarin saat bertemu disebuah acara.

Barangkali hanya secangkir kopi yang paling setia menyimpan kritik; ia pahit apa adanya, tak pernah perlu diracik dengan intrik.Sebab di negeri ini, kadang-kadang yang paling pahit bukan kopinya.Tetapi kenyataan yang terlalu sering dipoles oleh gemerlap seremoni, meninggalkan getir yang jauh lebih lama di kepala.

————– *** —————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!