31.1 C
Sidoarjo
Thursday, July 30, 2026
spot_img

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Lewat Parenting yang Tepat

Pemprov Jatim, Bhirawa – Dalam upaya memperkuat pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai fondasi pembentukan pemimpin masa depan, Dr. Nafik Palil, Founder International Grandmaster Trainer dan pakar parenting, memaparkan serangkaian metode praktis dan mindset baru pada Sosialisasi Hasil Rakernas DPD PP PAUD Jawa Timur. Acara digelar di Ruang Rapat Hayamuruk, Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Kamis (30/7/2026).

Dr Nafik membuka sesi dengan analogi fase tumbuh kembang anak yang menuntut perlakuan berbeda pada rentang usia. Menurutnya, pengasuhan pada 0–7 tahun harus terasa seperti surga dalam keluarga, penuh kelembutan, penguatan emosi, dan kebiasaan positif yang ditanamkan melalui kasih sayang.

Namun memasuki fase 8–14 tahun, dinamika berubah drastis. “Perlakukan anak seperti tawanan perang? Tidak. Maksudnya, orang tua harus berani tegas karena pada fase ini, khususnya bagi anak perempuan yang akan mengalami menstruasi, ada kewajiban baru yang mesti diawasi dan diajarkan secara tegas,” ujarnya.

Penyataan itu menekankan pentingnya kombinasi ketegasan dan pengawasan agar tanggung jawab personal dan ritual (seperti bersuci) dipahami sejak dini.

Dalam kesempatan itu, ia menyinggung empat langkah yang dilakukan Jepang dalam mendidik anak, paksa, bisa, terbiasa dan budaya. Salah satu inti pemaparan Dr Nafik adalah pembelajaran yang diambil dari praktik Jepang.

“Jepang menjadi negara maju dengan empat (4) poin metode. Yaitu, Paksa, Bisa, Terbiasa dan Budaya. Artinya, dengan empat poin metode tersebut para guru PAUD didorong untuk dapat mempraktikkan empat poin tersebut,” jelasnya.

Berita Terkait :  Polda Jatim Lepas 113 Walpri Amankan Pilkada 2024

Keempat elemen itu, menurut Dr. Nafik, bukan maksudnya paksaan kasar, melainkan pengkondisian bertahap, artinya memberi tuntutan terstruktur (paksa), melatih hingga mampu (bisa), mengulang sampai menjadi kebiasaan (terbiasa), lalu menanamkannya sebagai budaya institusi.

Ia mencontohkan praktik sederhana yang diaplikasikan di lembaga berefek besar, penggunaan kartu identitas nomor sebagai alat paksa menyenangkan untuk menertibkan barisan anak. Dengan visualisasi nomor ditambah gambar untuk anak yang belum bisa angka, proses berbaris menjadi cepat, teratur, dan tanpa paksaan yang melanggar hak anak.

Model lain yang ia sorot adalah SOP layanan publik ala minimarket modern, sambutan, posisi pegawai, senyum, semua dijadikan standar perilaku yang kemudian dilabelisasi dan diklasifikasi sehingga menjadi kebiasaan kolektif.

Pembicaraan Dr Nafik juga menekankan transformasi peran guru PAUD. Menggeser peran guru, dari pengatur ke arsitek mutu. “Guru PAUD bukan hanya pengatur kegiatan tetapi menjadi arsitek mutu. Ada enam (6) aspek perkembangan anak usia dini, yaitu nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni,” paparnya.

Dengan pendekatan arsitektural, guru merancang lingkungan, rutinitas, dan intervensi yang mengoptimalkan keenam aspek tersebut secara sistematis.

Kreativitas dan teknologi sebagai jawaban tantangan baru, Dr Nafik memperingatkan bahwa tantangan pendidikan kontemporer tidak bisa diatasi dengan pola lama.

“Tantangan baru tidak bisa dipecahkan dengan pola lama, tetapi dengan cara-cara baru yang lebih kreatif. Guru-guru PAUD saat ini tidak boleh bekerja sendirian, guru harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi, diantaranya adalah AI,” tegasnya.

Berita Terkait :  KRI Bima Suci Sukses Dukung Lattek KJK Taruna AAL Angkatan Ke-71

Ia mendorong pemanfaatan alat digital dan kecerdasan buatan untuk personalisasi pembelajaran, pemantauan perkembangan, serta efisiensi administrasi, sambil menjaga sentuhan humanis yang krusial pada usia dini.

Di sela paparan, Dr. Nafik memperagakan praktik-praktik kecil yang kuat dampaknya, elusan lembut pada kepala anak, salam yang benar (salim dengan jidat), doa singkat orang tua sebelum anak masuk sekolah.

Menurutnya, ritual sederhana tersebut menguatkan kedekatan emosional, menurunkan kecemasan anak, dan membuka pintu berkah agar proses belajar menjadi lebih efektif. Ia mengajak orang tua menyisihkan satu menit setiap pagi untuk salam dan doa singkat, sebuah langkah kecil dengan hasil besar.

Dalam kesempatan itu, Dr Nafik menekankan pentingnya sistem di tingkat lembaga agar praktik baik menjadi melekat. Prinsipnya, identifikasi, klasifikasi, labelisasi, dan pengukuran mutu (monef). Dengan SOP jelas dan penilaian yang konsisten, misalnya memeriksa apakah staf menyambut tamu sesuai standar, sebuah lembaga akan bergerak dari kebiasaan sporadis menuju budaya institusional yang bisa direplikasi dan diukur.

Bagi Jawa Timur, pesan Dr Nafik memberi peta tindakan, perkuat peran guru sebagai arsitek mutu, adopsi pengkondisian bertahap yang memaksa tapi menyenangkan, manfaatkan teknologi untuk dukung personalisasi, serta rutinkan praktik emosional yang menguatkan ikatan keluarga-sekolah.

Jika diterapkan konsisten, pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas PAUD, tetapi juga menumbuhkan generasi yang disiplin, kreatif, adaptif, dan berkarakter, kualitas penting bagi pemimpin masa depan.

Berita Terkait :  Gelar Rakor Usai Dilantik, Khofifah Rumuskan Program Prioritas Dukung MBG, Rumah Murah hingga Ketahanan Pangan

Dalam era di mana perubahan cepat menuntut adaptasi, Dr Nafik Palil mengingatkan bahwa kombinasi ketegasan yang terstruktur, kreativitas, teknologi, dan perhatian emosional adalah resep untuk membentuk ekosistem pendidikan anak usia dini yang berkelanjutan.

“Kalau ingin lembaga eksis dan bermakna, dibutuhkan keterampilan abad 21, communication, collaboration, critical thinking, creativity, dan conditioning, serta komitmen karakter,” tuturnya menutup.[aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!