Sidoarjo, Bhirawa. – Tidak salah bila pengurus dan anggota PWRI Kabupaten Sidoarjo, menyerahkan bantuan kepada Panti Asuhan Sabililah An Nadhliyah, yang berada di kelurahan Gebang Kecamatan Sidoarjo, Kamis (16/7) kemarin.
Ditempat itu terdapat sekitar 109 anak -anak yatim piatu, yang mendapat pembinaan. Disana, anak yatim-piatu tersebut mulai dari usia bayi hingga anak -anak yang sudah berkuliah di perguruan tinggi.
Umi Arifah, istri dari pengelola panti asuhan, menyampaikan anak -anak yang mereka rawat berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
“Merawat anak-anak seperti ini kami harus sabar, ya namanya masih kecil, tingkah laku mereka bermacam-macam, ada yang nakal ada yang pendiam, semuanya kami didik menurut syari’at agama Islam,” komentar Umi Arifah, ketika menerima kedatangan dari pengurus dan anggota PWRI Sidoarjo, yang berkunjung untuk menyerahkan bantuan.
Dirinya menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kepedulian dari PWRI Sidoarjo terhadap nasib anak-anak yang kondisinya yatim dan piatu itu. Bahkan juga ada anak yang diserahkan orang tuanya, karena tidak mampu membiayai hidupnya.
Untuk membiayai kehidupan mereka, menurut Umi Arifah, pengelola panti asuhan mendapatkan donatur, baik dari pihak swasta maupun dari Pemerintah.
Sekretaris PWRI Kabupaten Sidoarjo, Endang Soesianti, didampingi anggota PWRI Sidoarjo lainnya, dalam kesempatan itu menyerahkan bantuan langsung kepada para anak-anak yatim piatu di tempat itu.
Dirinya mengatakan agar jangan melihat besar dan kecilnya bantuan, tetapi manfaat dan keikhlasannya, semoga bantuan yang kami salurkan untuk memperingati HUT PWRI ke 64 tahun 2026 ini, bermanfaat untuk kelangsungan anak -anak yatim disina.
Agustin Iriyani, pengurus PWRI Sidoarjo dari bidang seni dan kerohanian, yang juga ikut hadir dalam penyerahan bantuan kepada anak yatim piatu itu, mengatakan PWRI Sidoarjo dalam peringatan HUT PWRI ke 64, beberapa waktu lalu juga menyerahkan bantuan mashaf Al-Quran kepada sejumlah masjid di Sidoarjo.
Dalam dialog singkat dengan anak anak yatim piatu disana, anak anak itu menyampaikan kondisi keluarga. Seperti disampaikan oleh Asegaf, seorang anak kelas 4 SD asal Kabupaten Gresik, dirinya dititipkan oleh keluarga karena keluarga tidak mampu membiayai hidupnya.
Dirinya berada di panti asuhan itu, saat ini sang ibu bekerja di Bandung, sedang ayahnya tidak tahu kemana, karena orang tua mereka itu telah bercerai saat ia masih kecil. Dirinya kalau besar punya cita-cita menjadi seorang polisi.
Ada lagi anak -anak yatim disana, yang masih PAUD, Jakfar dan Febrian. Jakfar, yang asal Jogjakarta bercita-cita ingin menjadi polisi sedangkan Febrian, yang asal Bandung, ingin menjadi tentara. (kus.hel)


