Surabaya, Bhirawa – Wajah-wajah ceria siswa baru kelas I SD Muhammadiyah 18 Mulyorejo Surabaya saat masuk sekolah di hari pertama, Senin (13/7) kemarin, pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026. Saat memasuki halaman sekolah yang terletak di Jl Mulyorejo Tengah Nomor 5 ini disambut dengan suasana hutan, bahkan para ustadz-ustadzah juga mengenakan kostum dengan tema hutan.
Mengusung tema Little Explore in The Learning Jungle, maka untuk mengenalkan pada dunia hutan, ada ustadz-ustadzah yang mengenakan kostum pencinta dan pelatih hewan, ada yang mengenakan kostum sapi, jerapah, ada yang mengenakan kostum adat Papua dan Dayak Kalimantan yang masih memiliki hutan sangat luas. Bahkan suasana sekolah dibuat mirip dengan hutan, tanaman dan pepohonan yang lama pun diganti dengan tanaman baru khusus untuk menyambut 104 siswa baru.
Untuk menghibur para siswa juga digelar teatrikal berjudul Stop Bulliying, oleh dua orang guru yang mengenakan kostum sapi diperankan Ustadz Rizky Hidayat dan kostum jerapah diperankan Ustadz Rohmat Soleh, yang salah satu hewan membulli yang lainnya. Namun akhirnya mereka saling memaafkan dan berjanji tidak saling membulli lagi. Bahkan juga hadir Cak Cilik Favorit Surabaya 2026, Raizel Agiya Rajendra kelas IV yang memberikan paparan tentang stop bulliying.
Kepala SD Muhammadiyah 18 Mulyorejo Surabaya, Ustadz Achmad Barizi SPd Gr MPd mengatakan, tema Jungle sengaja dihadirkan untuk menyambut para siswa baru, sehingga mereka merasa senang dan bahagia saat masuk sekolah pertama kali.
“Mengangkat tema Jungle pada MPLS Tahun 2026 ini, harapannya agar anak-anak senang di hari pertama yang awalnya dari TK yakni masa bermain,kini memasuk SD yakni masa mulai belajar, biasanya ada rasa ketakutan tapi Alhamdulillah hari ini tidak ada yang menangis ketakutan. Justru sebaliknya mereka senang dan bahagia. Diharapkan anak-anak dalam 6 tahun atau 1 tahun yang akan datang mereka sudah senang belajar SD Muhammadiyah 18 Surabaya,” jelasnya saat ditemui di sela-sela penyambutan siswa baru.
Ustadz Izzy-sapaan akrabnya menjelaskan, berbeda dengan tahun lalu yang belajar tentang pemilahan sampah, rangkaian kegiatan MPLS tahun ini, siswa baru kenalkan dunia hutan dan ekosistemnya. Selain itu, siswa baru juga akan diajarkan menanam pohon dan membuat pupuk dari air bekas cucian beras. Sehingga, siswa baru diharapkan peduli terhadap lingkungan sejak dini.
“Sebanyak 63 guru dan karyawan semuanya terlibat. Untuk baju dan peran ini kita tentukan ada sebagian yang jadi hewan, ada sebagian yang berperan sebagai perawat hutan. Disimbolkan orang-orang Papua karena kita tahu Papua merupakan hutan terluas dan terbanyak yang dimiliki Indonesia. Pesan kami agar siswa belajar dengan baik dan senang di sekolah dan tetap menghormati orang tua,” katanya.
Pada hari pertama MPLS, para siswa disambut dengan suasana yang menyenangkan dengan diajak bermain dengan game-game, sehingga tidak takut tapi justru muncul perasaan senang. Hari kedua, mulai diperkenalkan lingkungan sekolah diantaranya perpustakaan dan laboratorium. Hari Ketiga dikenalkan dengan semua ustadz-ustadzah. Hari Keempat dikenalkan dengan mata pelajaran dan Hari Kelima diisi dengan penutupan MPLS.
Sementara itu, salah satu wali murid, Holy Ichda Wahyuni, mengaku terkesan dengan konsep MPLS 2026 yang dibuat tim guru dan karyawan SD Muhammadiyah 18 Mulyorejo Surabaya ini. Menurutnya, tema dan penyambutan siswa baru ini sejalan dengan komitmen sekolah untuk menghadirkan MPLS 2026 Ramah Anak. Sehingga, anak-anak bisa ceria, senang, dan tidak takut untuk masuk sekolah.
“Dengan metode yang kreatif, banyak permainan itu membuat anak-anak mudah beradaptasi dan menerima pelajaran tidak menjadi sesuatu yang menakutkan, dan tidak menjadikan itu sebuah hal yang membuat mereka tertekan,” tandasnya. [fen.wwn]


