Surabaya, Bhirawa – Fakultas Teknologi Industri (FTI) UK Petra kolaborasi dengan PT SkyWay Aerospace Technology perkenalkan Petra Drone Academy di Matthew Room, Gedung Radius Prawiro lantai 10, kampus UK Petra Surabaya.
Drone banyak digunakan sebagai transformasi industri modern, seperti smart agriculture, inspeksi infrastruktur, sampai logistik global, tapi Indonesia terdapat kesenjangan besar antara kebutuhan industri dengan tenaga ahli drone yang terampil, Senin, (13/7).
Dekan FTI UK Petra, Handy Wicaksono, S.T., M.T., Ph.D., mengatakan bahwa peluncuran program satu tahun ini tujuannya membantu kesenjangan di Indonesia. “Pada hal pemenuhan kebutuhan tenaga ahli teknis yang tak hanya bisa menerbangkan drone saja, tapi juga menguasai regulasi keselamatan penerbangan sipil, pemrosesan data, integrasi sensor muatan (payload), hingga aspek pemeliharaan,” jelasnya.
Lanjut Handy mengungkapkan menurut data operasional Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI) dihimpun oleh Terra Academy, sekarang ada lebih dari 15.000 drone profesional yang aktif beroperasi untuk kebutuhan pemetaan dan dokumentasi industri di tanah air.
“Berdasarkan laporan riset pasar dari Next Move Strategy Consulting, nilai pasar drone komersial di Indonesia telah menyentuh USD 515,5 juta (sekitar Rp8,2 triliun) tahun 2025, diproyeksikan melonjak hampir dua kali lipat hingga USD 982,8 juta (hampir Rp 15 triliun) pada 2030,” ungkapnya.
Handy menyampaikan lonjakan angka tersebut jadi bukti kebutuhan tenaga ahli teknis drone ialah sesuatu yang sangat mendesak dan tidak bisa ditunda lagi. “Pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 13,77% jelas tidak akan optimal tanpa dukungan ekosistem tenaga terampil yang siap mengintegrasikan teknologi tersebut ke berbagai sektor industri,” katanya.
Handy menjelaskan kurikulum dirancang menjawab kebutuhan industri lokal di Indonesia yang tak hanya mengajarkan regulasi dan navigasi penerbangan saja. “Nantinya mahasiswa dibekali dengan ilmu rekayasa mulai dari kelistrikan, aerodinamika, perakitan mandiri, sampai keunggulan inovatif berupa pengolahan data berbasis kecerdasan buatan (AI-Based Intelligent Recognition),” ujarnya.
Didukung oleh para profesional dan akademisi baik dari China dan Taiwan, tambah Handy, mahasiswa telah menyelesaikan program ini akan mendapatkan Sertifikat Program Teknologi Aplikasi UAV.
“Pelatihan setara dengan 20 SKS terdiri dari delapan mata kuliah profesional dan dua mata kuliah pelatihan praktis khusus dan prospek karir dan jaminan masa depan mahasiswa akan sangat menjanjikan, salah satunya berpotensi magang di Taiwan hingga peluang kerja global,” imbuh Handy. [ren.wwn]


