Makassar, Bhirawa – Ketua Dekranasda Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak mengajak pelaku industri wastra dan kriya agar semakin berinovasi agar produk tradisional lebih relevan bagi gaya hidup generasi muda. Pernyataan itu disampaikan usai menghadiri syukuran dan pembukaan HUT ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Trans Studio Mall Makassar, Jumat (10/7).
Arumi menilai tingginya daya beli Generasi Z merupakan peluang besar yang perlu dimanfaatkan melalui pembaruan desain, tanpa menghilangkan identitas dan nilai kearifan lokal.
“Fokus kami adalah bagaimana membuat produk-produk Dekranasda Jawa Timur tetap relevan dengan tren dan kebutuhan pasar saat ini. Sekarang anak-anak muda, khususnya Gen Z, sudah memiliki daya beli yang kuat. Ini menjadi peluang yang harus kita optimalkan,” ujarnya.
Menurut Arumi, regenerasi perajin, desainer, dan pengusaha kreatif penting untuk menjaga keberlanjutan industri wastra yang menghadapi perubahan tren pasar sangat cepat. Salah satu tantangan utama adalah mengubah persepsi bahwa batik dan wastra hanya cocok untuk busana formal. Sentuhan kreativitas desainer muda, katanya, dapat membuat wastra lebih fleksibel dipakai dalam berbagai aktivitas, termasuk oleh kalangan muda.
“Ternyata penerimaan anak-anak muda terhadap produk lokal semakin tinggi. Ini menjadi tantangan yang baik bagi kami untuk terus melakukan regenerasi, mulai dari perajin, desainer wastra, hingga pelaku usaha di bidang wastra,” tambah Arumi.
Komitmen pembinaan diwujudkan melalui program-program seperti kompetisi Kartini Muda yang digelar pada April lalu, sebagai wadah bagi perempuan muda di bidang kuliner, desain, dan wastra untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menerima pendampingan usaha.
Dalam rangkaian HUT ke-46 Dekranas, Arumi dan ketua Dekranasda provinsi se-Indonesia menerima arahan Ketua Umum Dekranas Selvi Gibran Rakabuming yang menekankan pentingnya pembinaan UMKM kriya berorientasi hasil nyata.
Dekranas dan Dekranasda, menurut arahan itu, idealnya tak hanya berfungsi sebagai ruang promosi, melainkan juga sebagai fasilitator, pendamping, dan penghubung antara perajin dengan pasar serta dukungan pemerintah. Arumi menegaskan banyak UMKM masih menghadapi kendala permodalan, legalitas, dan pengembangan usaha, sehingga peran Dekranas dinilai krusial untuk membantu UMKM naik kelas.
“Harapan saya, Dekranas dan Dekranasda dapat terus hadir sebagai jembatan untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut sehingga semakin banyak UMKM yang naik kelas dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” pungkasnya.
Pada perhelatan HUT, Dekranasda Jawa Timur menampilkan beragam produk unggulan dari Bojonegoro, Surabaya, Sidoarjo, dan Jember, mulai wastra, bordir, tas ecoprint, tas hand painting, hingga kerajinan kayu.
Arumi turut mendampingi Ketua Umum Dekranas saat meninjau booth Jawa Timur. Beragam motif batik khas Jatim diperkenalkan, seperti motif Kembang Bungur dari Surabaya serta motif Bojonegoro yang terinspirasi elemen budaya lokal seperti Jati, Kayangan Api, Teksas Wonocolo, Waduk Pacal, Gayatri, dan Bunga Jati.
Dekranasda Bojonegoro juga memaparkan sistem kurasi perajin lewat Bojonegoro Wastra Batik Festival sebagai upaya pembinaan lebih terarah. [aya.kt]


