Bojonegoro, Bhirawa – Di tengah geliat momentum Hari Koperasi Nasional, kabar positif datang dari kawasan hutan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur, dua koperasi binaan yang lahir dari program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) PT Pertamina EP Cepu (PEPC) yang mengoperatori Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru (JTB). PEPC JTB bersama SKK Migas sebagai regulator hulu migas, membuktikan bahwa semangat berkoperasi masih hidup dan tumbuh subur di tengah masyarakat desa hutan.
Kedua koperasi ini, KPMDH Ngasem Maju Sejahtera dan Koperasi Produsen Rimba Tani Sejahtera, merupakan dua wajah dari program PPM PEPC JTB. Koperasi Ngasem Sejahtera lahir dari program Biru Langit Jambaran-Tiung Biru melalui Agrosilvopastura yang memadukan pertanian, peternakan, serta kelestarian hutan sebagai satu ekosistem ekonomi masyarakat.
Berbasis di Desa Ngasem, koperasi yang berdiri sejak 2023 ini baru saja memaparkan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus untuk Tahun Buku 2024 – 2025 dengan capaian yang menggembirakan. Sisa Hasil Usaha (SHU) tercatat 12,7 juta rupiah, ditopang pendapatan dari sektor pertanian, peternakan, dan jasa yang totalnya menembus 4,4 juta rupiah.
Ketua KPMDH Ngasem Maju Sejahtera, Moch. Gufron, menegaskan bahwa koperasi ini lahir sebagai wadah bersama untuk mendongkrak kesejahteraan anggota melalui budidaya dan pemasaran hasil pertanian-peternakan, bukti nyata bahwa pendampingan PEPC JTB berbuah menjadi kemandirian ekonomi warga.
Total aset koperasi kini mencapai 207,15 juta rupiah, dengan 42 anggota aktif yang terdiri dari 27 laki-laki dan 15 perempuan. Model bagi hasil ternak kambing 50:50 antara peternak dan koperasi menjadi salah satu kunci keberlanjutan usaha, dilengkapi komitmen sosial melalui penyaluran zakat mal via LAZISNU. Memasuki 2026, koperasi ini menatap babak baru: ekspansi ke pertanian hidroponik, sembari tetap merawat budidaya semangka dan cabai sebagai produk andalan.
Bergeser ke Desa Bandungrejo yang masih dalam satu kecamatan yang sama, kisah serupa juga tertulis di Koperasi Produsen Rimba Tani Sejahtera. Baru resmi berbadan hukum sekitar dua tahun lalu atau sejak Oktober 2024, koperasi ini sukses menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) perdananya dengan capaian pendapatan 58,8 juta rupiah sepanjang 2025, yang ditopang tiga lini usaha yakni Pupuk Organik Cair (POC) atau kompos, media tanam, dan hasil panen hortikultura.
Menurut Ketua Koperasi Rimba Tani Sejahtera, Purwiwin, kini para anggota dapat merasa lega karena bisa mewujudkan cita-cita bersama dalam berhimpun dalam tata usaha ekonomi.
” Kami berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh anggota, serta mitra strategis dari PEPC JTB yang telah membimbing kami mewujudkan program peningkatan kesejahteraan petani hutan ini” ujarnya.
Tak berpuas diri, koperasi ini telah mengesahkan Rencana Kerja dan Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Koperasi 2026 dengan target pendapatan sebesar 75 juta rupiah, sembari merambah unit usaha baru: peternakan kambing bernilai ekonomi tinggi dan digitalisasi tata kelola keuangan.
Yang menarik, kedua koperasi ini bukan berdiri sendiri-sendiri. Keduanya merupakan buah dari akar yang sama, komitmen PEPC JTB merangkul masyarakat desa hutan penyangga operasi hulu migas. Salah satunya, melalui pendekatan program komprehensif meliputi berbagai aspek yang berkelanjutan. Satu fokus pada peternakan dan inovasi hidroponik, satu lagi memperkuat rantai pasok pertanian organic. Namun, keduanya berjalan seiring menuju visi yang sama, kemandirian ekonomi berbasis gotong royong.
Manager Comm. Rel & CID PEPC, Rahmat Drajat, menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra binaan yang konsisten menjalankan program ini dengan sungguh-sungguh.
“Kami bangga bisa bersama-sama dengan masyarakat membuat sebuah inisiasi dari gagasan hingga terwujud secara positif dan berfaedah seperti ini,” ujarnya.
Momentum Hari Koperasi Nasional tahun 2026 ini menjadi pengingat bahwa koperasi tetap relevan sebagai soko guru ekonomi rakyat, termasuk di lingkar operasi industri strategis seperti hulu migas. Melalui Koperasi Ngasem Maju Sejahtera dan Koperasi Rimba Tani Sejahtera, PEPC JTB menunjukkan bahwa kehadiran perusahaan energi tidak berhenti pada produksi migas untuk kebutuhan nasional, tetapi juga hadir merawat harmoni dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya, sebuah simbiosis yang pada akhirnya turut menopang kelancaran operasi produksi demi ketahanan energi Indonesia. [bas.kt]


