Pemkot Kediri, Bhirawa. – Pemerintah Kota Kediri mulai mengintensifkan langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino yang diperkirakan membuat musim kemarau 2026 lebih kering. Bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dhoho, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi kekeringan, kebakaran lahan, hingga gangguan kesehatan selama musim kemarau.
Pemkot Kediri, Bhirawa. – Perwakilan BMKG Dhoho, Satria Kridha Nugraha, menjelaskan kondisi kemarau tahun ini dipengaruhi kombinasi fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Menurut Satria, El Nino merupakan fenomena alam yang terjadi akibat penyimpangan suhu permukaan air laut. Pada tahun ini, dampaknya diperkirakan membuat musim kemarau terasa lebih kering, sementara defisit curah hujan terbesar diprediksi terjadi pada September hingga November 2026. Kondisi tersebut bahkan dikenal dengan istilah “El Nino Godzilla” untuk menggambarkan fenomena El Nino yang sangat kuat.
Ia mengatakan dampak El Nino berpotensi dirasakan di berbagai sektor. Di bidang pertanian, berkurangnya pasokan air irigasi dapat menurunkan hasil panen, meningkatkan serangan hama dan penyakit tanaman, serta memengaruhi produktivitas padi akibat suhu udara yang lebih tinggi. Sementara di sektor kesehatan, cuaca panas berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan heat stroke. Risiko lainnya adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.
Satria menambahkan, perubahan iklim bukan penyebab langsung El Nino karena fenomena tersebut merupakan siklus alami. Namun, perubahan iklim dapat memperkuat dampaknya sehingga suhu udara menjadi lebih panas dan musim kemarau terasa lebih kering. “Oleh karena itu, masyarakat perlu menghemat penggunaan air dan menjaga kesehatan. Petani juga diharapkan menyesuaikan waktu tanam, memanfaatkan air irigasi secara efisien, serta menerapkan pertanian berkelanjutan. Pemerintah daerah juga perlu memastikan ketersediaan air bersih, memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan, serta memanfaatkan informasi dan peringatan dini dari BMKG sebagai dasar pengambilan kebijakan,” jelas Satria, Selasa (7/7).
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, Joko Arianto, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi dengan memperkuat koordinasi bersama sejumlah instansi. BPBD berkoordinasi dengan BMKG Dhoho untuk memantau perkembangan cuaca sebagai dasar penentuan langkah kesiapsiagaan. Di sektor pertanian, koordinasi dilakukan bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) guna mengantisipasi potensi gagal panen melalui edukasi kepada petani.
Selain itu, BPBD menyiagakan distribusi air bersih bersama PDAM apabila terjadi kekeringan. Koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Kesehatan untuk memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dan ketersediaan obat-obatan dalam menghadapi penyakit yang dipicu cuaca panas.
Joko mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air bersih dan mengutamakannya untuk kebutuhan pokok. Warga juga diminta tidak membakar sampah ataupun membuang puntung rokok di lahan kering guna mencegah kebakaran.
Selain menjaga kesehatan dengan memperbanyak konsumsi air putih dan membatasi aktivitas di bawah terik matahari, masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila terjadi krisis air bersih maupun kebakaran melalui layanan Mbak Wali 112 agar dapat segera ditangani.
“Yang tidak kalah penting adalah tanggap melapor. Apabila masyarakat mengalami krisis air bersih maupun menemukan kejadian kebakaran di wilayahnya, segera laporkan melalui layanan Mbak Wali 112 agar dapat segera ditindaklanjuti,” pungkas Joko.[van.nov.ca]


