27.2 C
Sidoarjo
Wednesday, July 1, 2026
spot_img

Teach You a Lesson: Membaca Permendikdasmen No 6 Tahun 2026

Oleh :
Arif Jamali Muis
Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen RI

Ada satu pertanyaan setelah menyaksikan Teach You a Lesson, drama Korea yang belakangan ramai diperbincangkan. Mengapa sebuah cerita tentang sekolah dapat memantik perdebatan yang begitu luas di masyarakat?Barangkali karena drama itu sesungguhnya tidak sedang berbicara tentang Pendidikan di Korea Selatan semata. Ia berbicara tentang kegelisahan yang dirasakan banyak bangsa hari ini: bagaimana mendidik anak-anak ketika otoritas guru melemah, perundungan semakin kompleks, dan sekolah perlahan kehilangan kemampuannya menjadi ruang yang aman sekaligus berwibawa.

Di dalam drama tersebut, guru berada dalam posisi yang serba sulit. Menegur murid dapat dipersoalkan. Mengambil tindakan disiplin berpotensi memicu konflik dengan orang tua. Sementara membiarkan keadaan justru membuat korban perundungan semakin tidak terlindungi. Ketika seluruh mekanisme pendidikan dianggap gagal, muncullah godaan untuk menghadirkan penyelesaian yang keras dan instan.Tentu saja itu adalah drama. Namun, setiap drama selalu lahir dari kegelisahan yang nyata.

Indonesia memang memiliki konteks yang berbeda. Akan tetapi, tantangan yang kita hadapi juga tidak sederhana. Perundungan tidak lagi berhenti di halaman sekolah, tetapi berlanjut di ruang digital. Konflik antara sekolah dan orang tua semakin terbuka. Guru pun kerap berada pada posisi dilematis satu sisi harus melindungi peserta didik, tetapi pada saat yang sama khawatir setiap keputusan yang diambil justru menimbulkan persoalan baru.

Berita Terkait :  Kabupaten Sumenep Kekurangan Seribu Lebih Guru Sekolah Dasar

Karena itu, Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman sebagai langkah yang sangat penting dalam perjalanan pendidikan kita.Regulasi ini bukan sekadar aturan baru tentang pencegahan kekerasan. Ia menandai perubahan cara pandang yang mendasar. Fokusnya tidak lagi semata-mata pada penanganan kasus, tetapi pada pembangunan budaya sekolah yang sehat, manusiawi, dan berkelanjutan.

Pendidikan tidak bisa hanya bekerja dengan logika menghukum setelah masalah terjadi. Perundungan tidak lahir dalam ruang kosong. Kekerasan tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh ketika empati melemah, dialog terputus, dan penghormatan terhadap sesama mulai memudar. Karena itu, membangun budaya jauh lebih penting daripada sekadar menjatuhkan sanksi.

Yang menarik, konsep sekolah aman dan nyaman dalam Permendikdasmen ini tidak hanya berbicara tentang perlindungan fisik. Ia mencakup kebutuhan spiritual, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, dan keamanan digital. Cara pandang seperti ini sangat relevan dengan tantangan pendidikan abad ke-21.Hari ini, luka tidak selalu meninggalkan bekas di tubuh. Ia bisa hadir melalui perundungan di media sosial, pengucilan dalam pergaulan, atau tekanan psikologis yang berlangsung diam-diam. Karena itu, sekolah yang aman bukan hanya sekolah yang bebas dari perkelahian, tetapi sekolah yang menjaga martabat manusia.Tempat setiap anak merasa dihargai. Tempat guru merasa terlindungi. Tempat perbedaan dipandang sebagai kekuatan, bukan ancaman.

Jika dalam Teach You a Lesson negara digambarkan hadir melalui mekanisme yang keras karena sekolah dianggap gagal menjalankan fungsinya, maka Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 justru memilih memperkuat budaya sekolah itu sendiri. Negara tidak mengambil alih peran pendidikan, melainkan memperkuat ekosistem pendidikan.Guru, murid, orang tua, masyarakat, dan bahkan ruang digital dipandang sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan. Keamanan tidak dibangun melalui rasa takut, tetapi melalui kesadaran kolektif untuk saling menjaga.

Berita Terkait :  Kapolres Madiun Silaturahmi dengan Tokoh Agama

Namun demikian, sekolah aman tidak boleh dimaknai sebagai sekolah tanpa ketegasan.Kita sering terjebak pada dua kutub yang sama-sama bermasalah. Di satu sisi, ada pandangan lama yang menganggap disiplin hanya dapat ditegakkan melalui hukuman dan ketakutan. Di sisi lain, muncul kecenderungan yang menafsirkan perlindungan anak sebagai penghapusan batas dan kewibawaan.Padahal pendidikan membutuhkan keduanya: kasih sayang dan ketegasan.

Anak-anak tidak membutuhkan sekolah yang menakutkan. Tetapi mereka juga tidak membutuhkan sekolah yang kehilangan keberanian untuk mengatakan mana yang benar dan mana yang salah. Mereka membutuhkan guru yang tegas tanpa menjadi kasar, berwibawa tanpa merendahkan, dan mampu mendengar tanpa kehilangan keberanian untuk mendidik.

Dalam konteks itu, kita juga perlu mengingat bahwa guru pun berhak merasa aman.Sulit menghadirkan pembelajaran yang mendalam apabila guru mengajar dalam suasana takut. Takut dipersoalkan, takut disalahpahami, atau takut mengambil keputusan. Guru yang takut pada akhirnya hanya akan menjalankan rutinitas. Yang hilang bukan sekadar keberanian guru, melainkan juga kedalaman pendidikan itu sendiri.Padahal arah transformasi pendidikan kita hari ini menempatkan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful sebagai tujuan utama.

Semua itu hanya dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kepercayaan.Tidak mungkin peserta didik belajar secara sadar apabila hidup dalam kecemasan. Tidak mungkin pembelajaran menjadi bermakna jika relasi sosial dibangun di atas intimidasi. Dan tidak mungkin proses belajar menjadi menggembirakan apabila guru sendiri kehilangan rasa aman dalam menjalankan tugasnya.

Berita Terkait :  Bike to Work Perdana, Demplot Mangga-Anggur Dikuatkan

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Teach You a Lesson bukanlah bahwa pendidikan membutuhkan tangan besi. Justru sebaliknya. Drama itu mengingatkan kita bahwa ketika sekolah gagal membangun budaya yang sehat, masyarakat akan selalu tergoda mencari penyelesaian melalui kekuasaan dan paksaan.

Permendikdasmen no 6 Tahun 2026 memilih membangun budaya sebelum menjatuhkan hukuman, memperkuat kolaborasi sebelum melahirkan konflik, dan memulihkan hubungan sebelum memperlebar luka.Sebab sekolah yang aman bukanlah sekolah yang sunyi dari masalah.

Sekolah yang aman adalah sekolah yang memiliki keberanian menghadapi masalah secara adil, manusiawi, dan mendidik.Dan mungkin, itulah pelajaran sesungguhnya yang dapat kita baca dari Teach You a Lesson sekaligus dari Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 bahwa sekolah yang aman bukanlah sekolah yang kehilangan kewibawaan, melainkan sekolah yang mampu memadukan perlindungan, ketegasan, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia di dalamnya.

————– *** —————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!