23.9 C
Sidoarjo
Monday, June 29, 2026
spot_img

Pemkab Kediri Kembangkan Wisata Budaya Gunung Kelud Lewat Tradisi Larung Sesaji

Kabupaten Kediri, Bhirawa. – Pemerintah Kabupaten Kediri terus memperkuat pengembangan sektor pariwisata Gunung Kelud dengan mengangkat potensi budaya lokal. Salah satunya melalui penyelenggaraan Ritual Larung Sesaji Gunung Kelud.

Tradisi tahunan masyarakat lereng Gunung Kelud tersebut tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga dikembangkan sebagai atraksi wisata yang mampu menarik minat pengunjung dari berbagai daerah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi mengatakan, pengembangan wisata Gunung Kelud tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Menurutnya, kekayaan tradisi masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman wisata yang lebih beragam.

“Tradisi ini bukan hanya harus dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi kekuatan pariwisata Kabupaten Kediri. Keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar tradisi tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujar Mustika saat menghadiri Ritual Larung Sesaji Gunung Kelud yang digelar di kawasan Parkiran Atas Wisata Gunung Kelud Pos II, Kecamatan Ngancar, Minggu (28/6).

Ia menjelaskan, Ritual Larung Sesaji Gunung Kelud telah masuk dalam Kalender Event Tahunan Kabupaten Kediri. Dengan masuknya agenda tersebut, promosi wisata budaya dapat dilakukan secara lebih luas sehingga potensi wisata Gunung Kelud semakin dikenal masyarakat dari berbagai daerah.

Menurut Mustika, antusiasme pengunjung dalam pelaksanaan tahun ini menunjukkan tren positif. Perpaduan antara wisata alam dan budaya dinilai mampu memberikan daya tarik tersendiri serta membuka peluang peningkatan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Kediri.

Berita Terkait :  Digitalisasi Menjawab Ekspektasi dan Realisasi Pajak di Sidoarjo

Larung Sesaji Gunung Kelud merupakan tradisi ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang melimpah. Kegiatan ini juga menjadi doa bersama agar masyarakat di kawasan lereng Gunung Kelud diberikan keselamatan, kesejahteraan, dan perlindungan dari berbagai bencana.

Tradisi yang rutin digelar setiap bulan Suro atau Muharram tersebut menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang terus dijaga masyarakat hingga saat ini. Rangkaian kegiatan diawali dengan berbagai pertunjukan seni budaya, mulai dari tari tradisional, Reog, hingga atraksi Bujang Ganong. Beragam kesenian tersebut menghibur ribuan pengunjung yang hadir di kawasan wisata Gunung Kelud.

Prosesi utama ditandai dengan hadirnya sosok yang memerankan Ratu Kediri Dewi Kilisuci dengan membawa bokor berisi bunga sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah Kerajaan Kediri. Bokor tersebut kemudian diserahkan kepada Camat Ngancar dan diteruskan kepada Penjabat Kepala Desa Sugihwaras sebagai bagian dari rangkaian prosesi budaya.

Kepala Pusat Pengembangan Kebijakan dan Keterpaduan Rencana Pembangunan Desa dan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan PDT, Agus Kuncoro, menilai pelestarian budaya lokal memiliki nilai strategis dalam menjaga identitas daerah sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. “Pelestarian budaya penting untuk menjaga identitas daerah sekaligus mengenalkan sejarah dan nilai luhur kepada generasi muda,” kata Agus.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi saat menghadiri Ritual Larung Sesaji Gunung Kelud.

Sementara itu, Kepala Desa Sugihwaras, Mariana Dwi Noventi mengatakan Ritual Larung Sesaji merupakan puncak rangkaian kegiatan budaya yang telah berlangsung sejak 18 Juni 2026. Selama hampir dua pekan, masyarakat bergotong royong menyiapkan berbagai kegiatan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan warga.

Berita Terkait :  Prudential Syariah Edukasi Pelaku UMKM PT PNM Surabaya tentang Pentingnya Asuransi Syariah

Dalam prosesi puncak tahun ini, masyarakat secara swadaya menyiapkan 18 tumpeng nasi dan 15 gunungan hasil bumi. Seluruh hasil bumi tersebut kemudian diperebutkan pengunjung sebagai simbol keberkahan dan rezeki. Mariana menyebut seluruh rangkaian acara berlangsung tertib tanpa menimbulkan kericuhan. Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa Larung Sesaji tetap menjadi salah satu agenda budaya yang dinantikan.

Ia berharap meningkatnya kunjungan wisata ke Gunung Kelud dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian warga sekitar. “Kalau wisata Gunung Kelud kembali ramai, otomatis ekonomi warga meningkat lewat berjualan. Masyarakat di sini sangat bergantung pada sektor wisata dan hasil pertanian, terutama buah nanas yang menjadi komoditas unggulan,” ungkapnya.[van,nov.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!