Kabupaten Malang, Bhirawa – Selain keindahan alam dan pesisir pantai di bagian selatan, Kabupaten Malang juga memiliki daya tarik wisata berbasis ritual yang mendunia, yaitu kawasan Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari. Kawasan ini secara resmi ditetapkan Pemerintah Kabupaten Malang sebagai Desa Wisata Ritual Gunung Kawi sejak tahun 2002. Di wilayah pegunungan ini juga terdapat destinasi Keraton Gunung Kawi, yang secara letak administrasi lebih berdekatan dengan wilayah Kecamatan Ngajum.
Kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, tak hanya dari Jawa Timur saja, melainkan dari berbagai penjuru Indonesia hingga mancanegara. Di dalamnya terdapat makam Eyang Djoego atau Kanjeng Kyai Zakaria II, serta Eyang Raden Mas Iman Soedjono. Keduanya merupakan tokoh bangsawan dan pengikut setia Pangeran Diponegoro yang mengasingkan diri pasca Perang Jawa, sekaligus menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut dan sekitarnya.
Setiap tanggal 1 Muharam atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan Suro, warga rutin menggelar serangkaian kegiatan budaya, salah satunya kirab budaya. Tradisi ini selalu menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah. Semangat dan inisiatif warga Desa Wonosari dalam menjaga tradisi ini pun menjadi inspirasi bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang untuk semakin memperbanyak agenda kegiatan di kawasan wisata tersebut.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Kabupaten Malang, Hartono, saat diwawancarai wartawan, Kamis (25/6). Menurutnya, kirab budaya saat peringatan 1 Muharam bukan sekadar pelestarian adat, melainkan juga penggerak ekonomi warga. Kehadiran pengunjung sangat membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, serta mengangkat kinerja tempat penginapan di sekitar lokasi wisata.
“Namun, kawasan ini sempat mengalami masa sulit saat pandemi Covid‑19 melanda. Jumlah kunjungan turun hingga 80 persen, banyak pedagang, pelaku usaha, hingga penginapan yang terpaksa berhenti beroperasi karena sepinya pengunjung,” ungkapnya.
Hartono menambahkan, kawasan Gunung Kawi menyimpan kekayaan luar biasa berupa warisan budaya berwujud maupun tak berwujud, yang menyatukan nilai sejarah, spiritual, dan percampuran budaya. Ia sangat mengapresiasi antusiasme masyarakat yang tetap menjaga tradisi seperti kirab budaya meski sempat terhenti sejenak.
“Wisata Gunung Kawi tidak cukup hanya mengandalkan daya tarik religius semata. Kami mendorong pengelola untuk lebih gencar melakukan promosi dan menyelenggarakan beragam kegiatan, guna menghidupkan kembali nilai‑nilai budaya Jawa sebagai agenda rutin tahunan,” tegasnya. [cyn.kt]


