28 C
Sidoarjo
Tuesday, June 2, 2026
spot_img

Budaya Tari Topeng Malangan Masih Diminati Anak Muda Generasi Z


Kab Malang, Bhirawa
Memasuki zaman Generasi Z (Gen Z) seperti sekarang ini, budaya Tari Topeng Malangan asli Kabupaten Malang masih diminati anak muda. Meski tidak sedikit anak muda perlahan tidak mengenal budayanya sendiri.

Hal ini karena gempuran budaya modern dan digital menjadi tantangan berat. Namun, jika kita melihat langsung ke kantong-kantong budaya di Malang Raya, geliat anak muda dalam melestarikan tradisi ini justru masih sangat terasa, meski bentuk ekspresinya mulai beradaptasi dengan zaman.

Potret realitas dinamika, kata Pemerhati Budaya Malang Sopyan Djalil, Selasa (2/6), kepada Bhirawa, Tari Topeng Malangan masih tetap dilestarikan melalui regenerasi di padepokan seni yang tetap hidup, yang berada di pusat-pusat pelestarian Topeng Malangan, seperti Padepokan Asmorobangun di Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Padepokan Tumpang, Kecamatan Tumpang dan di wilayah Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, untuk melestarikan Tari Topeng Malangan, maka regenerasi harus terus berjalan.

“Anak-anak muda, mulai dari usia sekolah hingga mahasiswa, tetap aktif datang untuk belajar menari dan menata atau mengukir topeng. Karena warisan ini harus dijaga ketat oleh para penerus,” ujarnya.

Sedangkan, kata Sopyan, di Kabupaten Malang ini ada seorang maestro pengukir Topeng Malangan yakni almarhum Mbah Karimoen, yang padepokannya di Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, yang kini diteruskan oleh keturunannya yang mayoritasnya adalah anak-anak muda.

Malang ini sebagai kota pelajar, sehingga harus memanfaatkan ekosistem kampusnya untuk menghidupkan tari topeng ini. Sedangkan saat ini di kampus-kampus seperti Universitas Negeri Malang (UNM), Universitas Brawijaya (UB) Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sudah terbentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Tari yang menjadikan Topeng Malangan sebagai menu wajib workshop atau pementasan mereka.

Berita Terkait :  Seribu Anak Yatim Terima Santunan Pemkab dan Baznas Sampang

“Banyak mahasiswa milenial dan Gen Z yang mempelajari tari topeng ini bukan karena tuntutan adat, melainkan karena kebanggaan akan identitas lokal. Kawula muda tidak serta-merta meninggalkan tari topeng, melainkan membawanya ke platform mereka sendiri,” terangnya.

Selain itu, Sopyan melanjutkan, banyak kreator konten muda Malang yang mengemas estetika Topeng Malangan ke dalam video pendek di TikTok, Instagram, atau YouTube.

Karakter seperti Panji Asmorobangun atau Klana Sewandana kini sering dimodifikasi dalam seni kontemporer, desain grafis, hingga kostum karnaval modern, seperti Malang Flower Carnival. Sedangkan untuk tantangan terbesarnya bukanlah anak muda tidak peduli, namun melainkan masalah ruang dan eksistensi.

Pertunjukan tradisional Wayang Topeng secara utuh bisa memakan waktu berjam-jam. Dengan durasi pertunjukannya yang lama, memang mulai sepi penonton anak muda.

Oleh karena itu dia menyampaikan, anak muda saat ini lebih memilih menampilkan Tari Topeng dalam bentuk fragmen yang durasi pendek, yang lebih dinamis dan sesuai dengan ritme kehidupan modern. Tari Topeng Malangan saat ini sedang berada di fase transformasi.

“Tentunya, perlu dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat luas agar ruang-ruang apresiasi untuk anak muda ini tetap terbuka lebar, dan juga bisa menjadi inspirasi dalam mengembankan budaya Jawa,” pungkasnya. [cyn.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!