Program Bedah Rumah Insan Pendidikan Jangkau 138 Penerima Manfaat
Selasa pagi (5/5) menjadi momen yang tak akan dilupakan oleh Wandhori. Pria yang telah 19 tahun mengabdi sebagai satpam di SMAN 2 Surabaya ini akhirnya bisa berdiri di depan rumah yang kini tampak jauh lebih laya, sesuatu yang dulu bahkan sulit ia bayangkan. Program Bedah Rumah Pemprov Jatim melalui Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim ini telah menjangkau 138 penerima manfaat insan Pendidikan Jawa Timur.
Oleh:
Diana Rahmatus S, Kota Surabaya
Selama lebih dari satu dekade, Wandhori bersama tujuh anggota keluarganya hidup dalam kondisi serba terbatas. Rumah yang ia tempati bersama mertua, saudara, istri, dan dua anaknya itu jauh dari kata layak. Dindingnya lembap dan merembes saat hujan, atapnya bocor, bahkan sebagian ruang tidak memiliki plafon.
“Dulu saya tidur di ruang tamu, karena kamar bocor,” ujarnya pelan.
Kini, setelah mendapat bantuan bedah rumah, kondisi itu berubah drastis. Dinding yang dulu rapuh kini berdiri kokoh. Atap tak lagi bocor. Untuk pertama kalinya, ia memiliki kamar pribadi.
“Alhamdulillah sekarang sudah bisa punya kamar sendiri,” ucapnya dengan mata berbinar.
Bantuan ini menjadi titik balik bagi Wandhori. Bukan sekadar perbaikan fisik rumah, tetapi juga pemulihan martabat dan harapan hidup yang lebih baik bagi keluarganya.
Program bedah rumah ini merupakan bagian dari penyaluran zakat yang dihimpun dari keluarga besar Dinas Pendidikan Jawa Timur melalui Baznas. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa program ini adalah wujud nyata kepedulian terhadap insan pendidikan, termasuk mereka yang kerap luput dari sorotan.
“Ini proses penyaluran Baznas dari keluarga besar Dinas Pendidikan Jawa Timur. Zakat yang dikumpulkan oleh staf dapat ditasyarufkan, salah satunya untuk membangun tempat tinggal layak huni,” ujarnya saat meninjau langsung proses bedah rumah.
Menurut Khofifah, program ini tidak hanya dilakukan di satu titik, melainkan tersebar di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur, masing-masing minimal satu lokasi penerima manfaat.
Selain itu, Pemprov Jatim juga menghadirkan program afirmasi bagi siswa dari keluarga kurang mampu dengan bantuan sebesar Rp1 juta per siswa.
“Ini bagian dari upaya kita memastikan bahwa pendidikan tidak hanya bicara kualitas akademik, tapi juga kesejahteraan ekosistemnya,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai, menyebut bahwa momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi saat yang tepat untuk memperluas makna kepedulian dalam dunia pendidikan.
“Bukan hanya guru dan tenaga kependidikan, tapi juga seperti Pak Wandhori ini, penjaga sekolah yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun,” jelasnya.
Ia menuturkan bahwa penerima bantuan dipilih melalui proses survei di berbagai daerah, termasuk Surabaya. Wandhori dinilai sebagai salah satu yang paling layak menerima bantuan.
Program serupa, lanjut Aries, sebenarnya telah berjalan sejak tahun sebelumnya. Pada 2025, sebanyak 138 rumah telah dibedah dengan nilai bantuan sekitar Rp20-25 juta per unit, dengan waktu pengerjaan antara satu hingga dua bulan.
“Tahun ini kita lanjutkan di 38 kabupaten/kota. Harapannya, ini memberi dampak nyata bahwa pendidikan hadir untuk semua,” tegasnya.
Di balik gegap gempita peringatan Hardiknas, kisah seperti Wandhori menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang ruang kelas dan kurikulum. Ada kehidupan nyata di sekelilingnya yang juga membutuhkan perhatian, kepedulian, dan sentuhan kemanusiaan.
Kini, di rumah yang lebih layak, Wandhori menatap masa depan dengan lebih optimistis. Bagi dirinya, bantuan ini bukan sekadar renovasi bangunan, melainkan fondasi baru untuk kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. [ina.gat]


