Pasuruan, Bhirawa
Komitmen pelestarian satwa liar di Indonesia kembali membuahkan hasil manis. Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen, di Kabuaten Pasuruan secara resmi mengumumkan penambahan koleksi satwa melalui kelahiran tiga ekor anak harimau benggala (Panthera tigris tigris).
Kehadiran tiga penghuni baru ini menjadi bukti nyata keberhasilan program konservasi eksitu yang dijalankan secara berkelanjutan. Kegembiraan ini terasa istimewa lantaran dari tiga ekor bayi betina yang lahir, satu di antaranya merupakan harimau benggala putih yang memiliki genetik langka. Kelahiran tersebut menambah total koleksi harimau benggala di TSI II Prigen menjadi 20 ekor.
Komisaris Taman Safari Indonesia, Wilem Manansang menyampaikan proses kelahiran ketiga anak harimau itu terjadi dalam rentan waktu yang berdekatan dari pasangan indukan bernama Anja dan Rinjani.
Dua ekor anak harimau berwarna oranye lahir pada 1 Maret 2026, disusul kelahiran satu ekor harimau putih pada 3 Maret 2026.
“Ini adalah bukti dari upaya kami dalam konservasi hewan yang dilindungi. Kelahiran ini bukan sekadar menambah jumlah, tetapi merupakan bagian dari dedikasi kami menjaga populasi satwa agar tetap lestari,” tandas Willem Manangsang TSI II Prigen, di Kabuaten Pasuruan, Senin (4/5) sore kemarin.
Ketiga bayi harimau tersebut kini telah memiliki nama yang sarat akan makna, yakni Sri, Kandi, dan Rajani.
Meski sudah mulai tampak aktif bergerak di area rerumputan dan berinteraksi dengan penjaga satwa (keeper), pihak pengelola masih membatasi akses interaksi dengan pengunjung umum.
Willem menegaskan strategi konservasi di TSI II Prigen tidak hanya berfokus pada kuantitas, namun juga kualitas genetik satwa.
Pencatatan detail mengenai garis keturunan (pedigree) dilakukan dengan sangat ketat untuk memastikan tidak terjadi penurunan kualitas genetik pada generasi mendatang.
Hal ini menjadi krusial, terutama bagi harimau benggala putih yang merupakan pemilik gen resesif langka. Tentu saja, keberhasilan itu sejalan dengan visi pemerintah dalam mendorong konservasi berbasis sains yang berkelanjutan.
“Kami memastikan kualitas genetiknya terjaga. TSI sangat mendukung upaya pemerintah dalam rangka konservasi berbasis sains. Setiap indukan dan anakan tercatat secara detail untuk memantau perkembangan mereka secara jangka panjang,” imbuh Willem Manangsang.
Dari sisi kesehatan, tim medis TSI II Prigen masih memberlakukan pengawasan ekstra ketat.
Dokter hewan Nanang Tedjo Laksono menambahkan bahwa saat ini kondisi ketiga anak harimau tersebut dalam keadaan sehat dan mulai menunjukkan perilaku alami yang aktif.
Namun, faktor ketergantungan pada induk menjadi alasan utama mereka belum bisa dilepas ke area eksibisi umum.
“Anak harimau masih menyusu pada induknya secara penuh. Mereka kami tempatkan di kandang khusus agar asupan nutrisi dan tumbuh kembangnya tetap normal serta terpantau setiap saat,” papar drh Nanang Tedjo Laksono.
Langkah isolasi sementara ini diambil demi menjamin sistem imun bayi-bayi harimau tersebut stabil sebelum nantinya dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas sebagai bagian dari sarana edukasi satwa.
“Harapannya, kehadiran Sri, Kandi dan Rajani dapat meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan perlindungan terhadap predator puncak yang semaki terancam habitatnya ini,” urai Nanang Tedjo Laksono. [hil.kt]


