Buruh di seluruh dunia, tergencet suasana geo-politik (dan geo-ekonomi) tidak menentu. Merembes menjadi “ke-masygul-an” Hari Buruh Sedunia (May Day) 2026. Di Indonesia jumlah kelas menengah diproyeksikan merosot tajam, ditandai dengan penurunan daya beli. Tak terkecuali penghasilan PNS (Pegawai Negeri sipil) yang stagnan, nyaris tanpa tambahan tunjangan. Bahkan pemerintah melakukan penghematan besar-besaran, sampai diselenggarakan WFH (Work From Home, bekerja dari rumah).
Begitu pula upah buruh yang naik, tetapi seketika di-iringi kenaikan harga pangan, dan sandang. Tetapi kalangan buruh tetap menyelenggarakan aksi turun ke jalan. Walau sebenarnya perlu inovasi pergerakan aksi buruh, yang lebih produktif. Bisa digagas bersama Pemerintah Daerah. Bisa jadi aksi buruh akan memperoleh insentif sosial, karena tidak meng-ganggu kenyamanan masyarakat. Sekaligus bisa memperoleh insentif ekonomi (upah) dalam inovasi aksi.
“Ke-masygul-an” Hari Buruh Sedunia (May Day) 2026, ditandai dengan dengan laporan ekonomi nasional. Sekitar 9,5 juta orang kalangan menengah berisiko turun kelas. Tren penurunan telah dijejaki sejak tahun 2024 menjadi 47,9 juta orang. Pada 2025 menjadi 46,7 juta. Serta terus tergerus hingga 2026, menjadi 46 juta-an orang. Ironisnya, kalangan miskin ekstrem turun. Semula (tahun 2025) sebanyak 3,56 juta orang, turun (38%) menjadi 2,2 juta orang. Hanya tersisa 0,78% dari total rakyat Indonesia.
Menyusutnya kemiskinan ekstrem, harus diakui, merupakan “buah” berbagai bantuan sosial (Bansos) yang bertumpuk-tumpuk. Termasuk Sekolah Rakyat, di luar Bansos PIP (Program Indonesia Pintar). Masih ditumpuki dengan Bantuan Pangan Non-Tunai, sebesar Rp 200 ribu per-bulan per-keluarga penerima manfaat. Juga masih terdapat bantuan beras 10 kilogram per-keluarga miskin. Khususnya desil 1 hingga desil 3, dengan pengeluaran sekitar Rp 800 ribu hingga Rp 900 ribu per-bulan.
Bansos juga masih bisa diberikan kepada keljuarga desil 4, dengan pengeluaran berkisar antara Rp1,2 juta hingga Rp1,6 juta. Kadang di perkotaan metropolitan mencapai Rp1,8 juta – Rp2,5 juta per-bulan. Berdasarkan data terbaru kelompok desil 4 tinggi, bisa dikategorikan rentan miskin atau menengah bawah. Populasinya sekitar 31%-40% terbawah.
Yang sulit, adalah desil 5, yang digolongkan sebagai pas-pasan. Serta desil 6, digolongkan sebagai menengah. Pengeluaran per-orang desil 5 (semula) berkisar antara Rp1,3 juta-Rp1,5 juta per-bulan per-orang. Terdapat perbedaan nominal pengeluaran desil 5, dan 6, berdasar per-orang. Sedangkan desil 1-4 pengeluaran dihitung per-keluarga. Sehingga desil 5, pengeluaran bisa mencapai Rp 5,2 juta per-keluarga. Persis setara denga rata-rata upah minimum regional. Sehingga buruh sulit menabung.
Penurunan angka tabungan kelas menengah menjadi takaran kondisi perekonomian nasional. Simpanan di bawah Rp 100 juta mengalami penurunan saldo rata-rata tersisa Rp 1,7 juta. Sebaliknya, kelompok teratas dengan ta ungan Rp 5 milyar, semakin meningkat sampai Rp 30 milyar. Artinya, masyarakat mengurangi investasi usaha, mengalihkan pada tabungan. Pengurangan simpanan berlanjut dengan penurunan daya beli.
Perekonomian nasional 2026, juga ditandai dengan kemerosotan indikasi oleh berbagai pemeringkat perekonomian di Indonesia. Moody’s Investor Service, menurunkan peringkat (risiko) kredit Indonesia, dari level stabil menjadi negatif. Disusul penurunan peringkat oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International). Bahkan MSCI sampai membekukan saham-saham Indonesia dari portofolio miliknya. Serta laporan Fitch Ratings, menurunkan outlook (prospek) empat BUMN perbankan nasional.
Pemerintah (dan daerah) perlu meng-inovasi aksi May Day, lebih produktif. Misalnya, dengan mencanangkan “Tunjangan Hari Buruh” (THB) nominalnya setara upah kerja satu hari. THB diberikan kepada buruh yang melakukan aksi produktif menanam pohon.
——— 000 ———


