28 C
Sidoarjo
Sunday, April 5, 2026
spot_img

Menahan Harga BBM

Berdebar-debar menunggu pengumuman Pemerintah berkait harga BBM (Bahan Bakar Minyak), dan gas bumi.Produsen minyak terbaik di Timur Tengah masih dalam suasana perang hebat, banyak kilang minyak terbakar karena dibom. Serta selat Hormuz yang masih dijaga ketat tentara garda revolusi Iran. Tetapi realitanya, harga minyak global (minyak Brent, yang bermutu) sudah mulai turun ke level bawah US$ 100,- per-barrel. Konon masyarakat sedunia, termasuk rakyat Amerika Serikat (AS), dan Trump, sudah kelelahan akibat perang.

Berbagai media masa (online, dan koran) pada akhir Maret 2026 serempak melansir berita bakal kenaikan harga BBM per-1 April. Dilengkapi dengan berbagai pertimbangan logis. Terutama produksi, keamanan, sampai rente “perburuan” rantai pasok distribusi. Karena tidak semua kapal tanker BBM bisa mulus memperoleh izin berlayar. Pertimbangan lainnya nilai rupiah sampai akhirMaret masih terlelap sampai melebihi Rp 17 ribu per-US$. Serta pemerintah Iran akan memberlakukan tarif lintas sebesar US$ 2 juta (sekitar Rp 33,5 milyar) per-tanker.

Bahkan terdapat pemberitaan viral (dengan kop Danantara) coba menghitung kenaikan harga Pertaliteditambah PPN 11%, dan ongkos distribusi. Sehingga harga akan tembus Rp 14 ribu per-liter.Begitu pula BBM dengan RON 92 ke atas, serta Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53), dikabarkan bakal naik. Rata-rata kenaikan hargaberkisar antara 30% hingga 40%. Ujungnya, terdapat antrean panjang di SPBU pada tanggal 30 dan 31 Maret 2026.

Berita Terkait :  PT SIG Konsisten Dampingi Masyarakat dan Berangkatkan 278 Jamaah Haji

Ragam informasi yang ramai tentang kenaikan harga BBM, bagai coba “menggiring” pemerintahbenar-benar akan menaikkan harga BBM. Niscaya akan menimbulkan multiplier effect (dampak berantai) kenaikan harga seluruh bahan bahan pokok, berkait biaya distribusi. Sehingga kenaikan harga BBM yang cukup tinggi, sangat tidak disukai rezim. Pemerintah Presiden SBY menaikkan harga BBM sampai 33,3%. Bensin (RON 88) dijual dengan harga Rp 6 ribu per-liter, sebelumnya Rp 4.500,-.

Dampak kenaikan BBM (pada Mei tahun 2008), menyebabkan kegaduhan ekonomi. SampaipropinsiJawa Timur meluncurkan program P2SEM (Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat) dampak kenaikan BBM. Berdekatan dengan Pilgub Jatim 2008. Berujung tindak pidana korupsi sebesar Rp 225 milyar, berdalih kompensasi menjaga daya beli masyarakat. Korupsi P2SEM, sangat masif melibatkan pejabat daerah dan DPRD Jawa Timur.

Tetapi pada akhir tahun 2008 (hingga awal 2009) pemerintah Presiden SBY menurunkan harga BBM. Sejak saat itu, harga BBM di Indonesia disesuaikan dengan hara minyak dunia. Bisa naik, bisa turun. Selama periode SBY, tiga kali penurunan harga BBM. Begitu pula selama masa presiden Jokowi, terjadi tiga kali penurunan harga BBM. Artinya, harga BBM menjadi pertaruhan sosial, politik, dan ekonomi.

Maka wajar pemerintahan Presiden Prabowo, tidak menaikkan lagi harga BBM. Karena harga seluruh jenis BBM telah naik awal Maret lalu, khususnya non-subsidi.Rata-rata kenaikan BBM Indonesia, sekitar 3,1% hingga 4,2%. Berlaku di Jawa, Pertamax (RON 92):menjadi Rp 12.300, naik Rp 500,-, Pertamax Green 95:menjaddi Rp 12.900, naik Rp 450,-, Pertamax Turbo (RON 98) menjadi Rp 13.100, naik Rp 400,-.

Berita Terkait :  Mahasiswa Untag Berlajar dan Praktik Ilmu Jurnalistik di Harian Bhirawa

Jenis Dex juga sudah naik. Dexlite (CN 51) sekarang Rp 14.200 (dari Rp 13.250) Pertamina Dex (CN 53) menjadi Rp 14.500 (dari Rp 13.500). Sedangkan di luar Jawa ditambah lagi sekitar Rp 300,- per-liter. Menaikkan harga BBM cukup wajar. untuk menjaga “kesehatan APBN” 2026. Karena subsidi energi rawan membengkak hingga Rp150 triliun akibat dinamika geopolitik global.

——— 000 ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!