Kota Kediri, Bhirawa
Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri memperketat langkah mitigasi pohon rawan tumbang menyusul meningkatnya potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir.
Upaya ini dilakukan melalui intensifikasi pemangkasan dan penebangan pohon berisiko, terutama di jalur protokol dan kawasan permukiman padat. Prioritas diberikan pada pohon tua, terlalu rindang, serta yang memiliki struktur perakaran lemah.
Kepala DLHKP Kota Kediri, Indun Munawaroh, mengatakan pihaknya telah memetakan sejumlah titik rawan, dengan fokus pengawasan di wilayah tengah dan barat kota yang didominasi pohon berusia tua.
“Wilayah tengah dan barat ini cukup rawan, karena banyak pohon tua yang akarnya tidak kuat menahan terpaan angin kencang,” ujarnya saat memantau penanganan di Jalan Kapten Tendean, Senin (30/3).
Selain di Jalan Kapten Tendean penanganan juga dilakukan di kawasan Taman Ngronggo, menyusul dampak angin kencang. Pemantauan rutin pun dilakukan terhadap pohon-pohon besar di sekitar fasilitas umum dan permukiman.
Langkah antisipatif ini diperkuat oleh kejadian hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kota Kediri pada Sabtu (28/3). Peristiwa tersebut mengakibatkan satu warung roboh serta satu rumah mengalami kerusakan berat pada bagian dapur dan toilet akibat abrasi talud.
Pada saat bersamaan, sedikitnya 18 titik pohon dan dahan tumbang dilaporkan terjadi di tiga kecamatan di Kota Kediri. Kejadian tersebut sempat mengganggu arus lalu lintas dan menyebabkan pemadaman listrik di beberapa wilayah. Seorang pengendara juga dilaporkan mengalami luka ringan akibat tertimpa pohon.
DLHKP juga mengoptimalkan layanan pengaduan masyarakat melalui call center 112 serta jalur pengajuan resmi. Setiap laporan dipastikan ditindaklanjuti secara cepat, terutama jika berpotensi membahayakan keselamatan.

Untuk mempercepat respons, personel disiagakan selama 24 jam dan melakukan patroli berkala di titik-titik rawan yang telah dipetakan.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya fenomena La Nina lemah, aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), serta pengaruh tidak langsung siklon tropis di wilayah Samudra Hindia.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan, khususnya di sekitar pepohonan besar, serta segera melapor jika menemukan kondisi pohon yang berpotensi tumbang.(van,nov.hel)


