25 C
Sidoarjo
Monday, March 16, 2026
spot_img

Problem Mobilitas Tahunan Masyarakat Merayakan Lebaran

Oleh :
Siti Aminah
Dosen Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politikl (FISIP) Universitas Airlangga

Semakin mendekati puncak arus mudik menjadi penanda mobilitas massal tahunan selama Idul Fitri (Lebaran) di Indonesia telah menciptakan salah satu pergerakan transportasi musiman terbesar di dunia. Jutaan orang melakukan perjalanan dari pusat kota ke kampung halaman mereka dalam tradisi yang dikenal sebagai Mudik. Meskipun tradisi ini memperkuat ikatan sosial dan budaya, hal ini juga memberikan tekanan yang sangat besar pada sistem transportasi umum. Problemnya adalah bagaimana pemerintah memberikan kemudahan dan kelancaran kepada masyarakat untuk melakukan perjalanan pulang kampung dengan selamat dan aman? Pergerakan besar-besaran orang dalam waktu singkat secara bersamaan memberikan tekanan luar biasa pada terjadinya masalah seperti kemacetan, kecelakaan, dan ketidaknyamanan lainnya.

Ada yang patut diperhatikan dari tradisi merayakan Lebaran Idul Fitri di kampung halaman, problem mobilitas geografis dan sosial budaya. Adanya himbauan pemerintah kepada masyarakat untuk tidak menggunakan kendaraan roda dua adalah untuk keselamatan masyarakat cukup kompleks maknanya. Karena dalam pernyataan itu terbersit makna simbolik kritis yang menjadi bentuk gugatan masyarakat terhadap ketersediaan dan keterjangkauan dari transportasi yang berkelanjutan. Apakah pemerintah sudah bisa memberikan jaminan keamanan, keselamatan, dan keterjangkauan harga tiket bagi kelompok masyarakat menengah bawah? Jika belum, maka preferensi masyarakat tidak mengguakan transportasui umum. Pilihan mereka jatuh pada transportasi pribadi. Tentu saja ini memberikan dampak bagi masyarakat secara keseluruhan untuk merayakan Lebaran di kampung halamannya.

Masalah Keselamatan dan Keamanan
Budaya kembali ke kampung halaman untuk merayakan lebaran bersama keluarga besar merupakan tradisi yang sangat bernilai di Indonesia. Selama periode ini, jutaan migran dan pekerja yang tinggal di kota-kota besar kembali ke kampung halaman mereka untuk merayakan hari raya bersama keluarga mereka. Migrasi skala besar ini umumnya disebut sebagai mudik. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan ketaatan beragama tetapi juga identitas sosial dan budaya, memperkuat ikatan keluarga dan rasa memiliki daerah. Kemacetan mulai dirasakan dalam berbagai pergerakan masyarakat untuk pulang ke kampung halaman. Baik menggunakan moda trasportasi kendaraan pribadi maupun umum. Masalah-masalah utama transportasi umum dalam mendukung mobilitas masyarakat dari tahun ke tahun menyisakan masalah yang seakan-akan tidak menemukan pemecahannya.

Berita Terkait :  Kehadiran Galaxy Buds3 FE dan Galaxy Buds Core Buat Konsumen Rasakan Pengalaman Audio Imersif

Selama periode perjalanan Lebaran, termasuk kepadatan penumpang di berbagai moda angkutan umum, keterbatasan infrastruktur (meski sudah ada penambahan panjang jalan, jalan tol, dll), menemukan masalah pada keselamatan, dan akses yang tidak merata. Keselamatan adalah masalah penting lainnya selama perjalanan Lebaran. Kendaraan yang penuh sesak, jarak tempuh yang jauh, dan kelelahan pengemudi berpotensimeningkatkan risiko kecelakaan dan kemudian menimbulkan efek lainnya seperti kemacetan. Korlantas Polri melaporkan penurunan yang signifikan dalam jumlah kecelakaan dan korban meninggal dunia selama arus mudik Lebaran 2025, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam data nasional, kecelakaan lalu lintas turun sebesar 30 persen dari 3.728 kejadian pada 2024 menjadi 2.637 kejadian di 2025. Terjadinya kecelakaan karena banyak faktor menjadi pertimbangan banyak pihak, namun solusi kompehensif dan terintegrasi belum memadai. Selain angka kecelakaan, tingkat kepuasan masyarakat secara umum terhadap penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2025/1446 Hijriah mencapai 90,9 persen. Risiko semacam ini memerlukan penanganan yang baik dari para pemangku kebijakan sesuai dengan tangggungjawabnya.

Hal seperti ini tidak bisa hanya ditangani satu sektor atau satu kementrian. Perlu penangananan multisektor dan lilntas kementrian. Misal sinergitas untuk membuat tata kelola dalam ‘mudik” tahunan dari Kementrian Perhubungan, Kepolisian (POLRI), Kemenkes, Kemendagri, Kemensos, dan juga menyertakan pihak masyarakat perlu ditingkatkan. Dengan peningkatan penumpang, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, jumlah kecelakaan lalu lintas pada musim mudik Idul Fitri 2025 berada di angka 220 kasus kecelakaan dengan jumlah korban 59 orang. Budi mengaku senang dengan catatan tersebut karena jumlah kecelakaan dan korban pada musim mudik Lebaran tahun ini turun drastis dibandingkan tahun lalu.

Berita Terkait :  Film “Pengepungan di Bukit Duri” Karya Joko Anwar Menunjukkan Situasi Kita Sedang Tak Baik-Baik Saja!

Kepadatan, Keterbatasan Infrastruktur, dan Jaringan
Salah satu masalah yang paling terlihat selama perjalanan Lebaran dimanapun itu adalah kepadatan penumpang yang ekstrim di transportasi umum (kapal laut, bandara, stasiun kereta apa, terminal bus. Masyarakat yang memiliki preferensi terhadap kendaraan pribadi disebabkan kondisi transportasi umum selama Lebaran dapat ditandai dengan antrean panjang, terminal yang penuh sesak, keterlambatan, dan suasanan ketidaknyamanan lainnya. Kondisi ini mengurangi persepsi keandalan dan kenyamanan layanan transportasi umum. Karena itu, masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi juga untuk memudahkan aksesibilitas ke daerah yang belum terjangkau kendaraan umum teruitama di daerah pedesaan.

Kendaraan pribadi menyediakan rute yang lebih langsung dari daerah perkotaan ke desa, menghilangkan kebutuhan untuk beberapa kali transit. Kenyamanan ini secara signifikan meningkatkan dayatariknya untuk perjalanan jarak jauh. Yang menggunakan kendaraan pribadi lebih parah saat menempuh perjalanan melewati jalan tol yang panjang dan melelahkan, besar risiko mengalami kecelakaan karena keterbatasan daya tampung dari rest area yang tersedia. Preferensi terhadap kendaraan pribadi selama periode mudik Idul Fitri dibentuk oleh kombinasi faktor struktural, ekonomi, sosial, dan budaya. Fleksibilitas, kenyamanan keluarga, pertimbangan biaya, kapasitas transportasi umum yang terbatas, dan aksesibilitas ke daerah pedesaan semuanya berkontribusi pada pola mobilitas ini.

Bagi yang menggunakan kendaraan/transportasi umum seperti bus, kereta api, atau kapal laut biasanya lebih murah dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi, terutama jika perjalanan dilakukan oleh individu atau keluarga kecil. Biaya bahan bakar, tol, parkir, dan perawatan kendaraan dapat lebih besar jika menggunakan mobil pribadi. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan peningkatan keandalan, aksesibilitas, dan kapasitas sistem transportasi umum selama periode perjalanan Lebaran. Tanpa peningkatan tersebut, kendaraan pribadi kemungkinan akan tetap menjadi moda transportasi dominan selama migrasi mudik tahunan hingga saat ini.

Berita Terkait :  Presiden Sematkan Bintang Mahaputera Utama ke Mendikdasmen

Untuk mengatasi semua problem ketidaknyamanan dalam “mudik” diperlukan beberapa tindakan kebijakan meliputi: pertama,.Perlu kebijakan cuti dan kerja bergilir bagi instansi pemerintah dan nonpemeirntah. Karena kemacetan lalu lintas puncak terjadi karena jutaan orang melakukan perjalanan secara bersamaan atau menawarkan kebijakan cuti yang fleksibel.Kedua, membangun area istirahat yang memadai di sepanjang jalan tol atau disediakan pos medis sementara dan layanan darurat dan ketersediaan makanan, sanitasi, dan fasilitas sholat untuk para pemudik. Ketiga, membangun sistem jaringan patroli keamanan secara digital di sepanjang jalan yang bisa diakses dengan mudah oleh pengguna saat mengalami masalah.

Yang tak kalah pentingnya adalah peemrintah berkolaborasi dengan swasta membangun kolaborasi pelayanan untuk mengatasi problem teknis dan nirteknis dari persoalan ‘modik tahunan” yang dihadapi masyarakat. Mulai dari penetapan harga tiket batas bawah da batas atas yang tetap terjangkau oleh kelompok masyarakat menengah bawah, jaminan kelancaran arus lalu lintas, kenyamanan, dan keselamatan selama perjalanan. Kemampuan pemerintah menyelesaikan masalah itu memengaruhi masyarakat untuk melakukan perayaan Lebaran di kampung halamannya, karena perayaanLebaran di kampung halaman bukan sekadar peristiwa sentimental atau nostalgia, atau dapat dipahami sebagai bentuk praktik budaya yang memperkuat solidaritas sosial. Lebaran di kampung bersama-sama keluarga merupakan proses sosial yang kompleks. Ia menjadi arena di mana identitas komunitas diproduksi, dipertahankan, dan dinegosiasikan kembali dalam konteks perubahan sosial yang semakin kompleks.

————- *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!