Jakarta, Bhirawa
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan percepatan transisi energi menuju energi terbarukan harus menjadi strategi industrialisasi nasional yang memberikan manfaat langsung bagi industri dalam negeri
Eddy dalam keterangan di Jakarta, Rabu mengatakan percepatan tersebut juga memberikan lapangan kerja baru (green jobs) bagi tenaga kerja terampil Indonesia.
Dia menjelaskan Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang sangat strategis dengan potensi energi terbarukan nasional mencapai ribuan gigawatt, dengan komposisi signifikan dari tenaga surya, hidro, angin, bioenergi, dan geothermal.
“Green jobs akan membuka peluang bagi insinyur, teknisi, ahli baterai, pekerja manufaktur panel surya, operator BESS hingga tenaga riset dan inovasi. Anak-anak muda Indonesia harus menjadi pelaku utama dan tidak hanya menjadi penonton dalam transisi menuju energi bersih ini,” kata Eddy.
Dia juga menjelaskan keunggulan Indonesia pada critical minerals seperti nikel dan tembaga yang sangat penting untuk baterai kendaraan listrik, battery energy storage system (BESS), dan infrastruktur energi baru dan terbarukan (EBT).
Jika rantai pasok industri itu diproduksi dan diproses di dalam negeri, maka transisi energi dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, dia menekankan implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 berpotensi menciptakan lebih dari 1,7 juta green jobs serta berkontribusi pada pertumbuhan PDB tahunan sebesar 0,1-0,7 persen.
“Anak-anak muda Indonesia harus menjadi pelaku utama dan tidak hanya menjadi penonton dalam transisi menuju energi bersih ini,” kata dia.
Dia mengatakan RUPTL 2025-2034 yang merencanakan tambahan kapasitas terpasang sebesar 69,5 GW, dengan 42,6 GW, di antaranya berasal dari energi baru terbarukan serta tambahan 10,3 GW dari BESS.
Total investasi yang dibutuhkan hingga 2034 diperkirakan mencapai sekitar 190 miliar dolar AS atau sekitar 19 miliar dolar AS per tahun.
“Angka investasi sebesar 190 miliar dolar AS ini adalah peluang industrialisasi baru. Segenap upaya harus dilakukan agar Indonesia menjadi negara yang menarik untuk investasi di bidang energi terbarukan,” katanya.
Selain itu, menurut dia, sinergi antara solusi berbasis alam (nature-based solutions) dan solusi berbasis rekayasa (engineered-based solutions) dapat memperkuat ketahanan ekonomi dan energi nasional.
Dengan cadangan karbon alami yang besar dari hutan, mangrove, dan gambut serta potensi CCS/CCUS yang signifikan, menurut dia, Indonesia memiliki peluang untuk membangun ekosistem ekonomi rendah karbon yang terintegrasi.
“Jika kita mampu membangun industri EBT berbasis produksi domestik, memperkuat manufaktur dalam negeri, dan memanfaatkan mineral kritis secara strategis maka Indonesia akan menjadi juga produsen dan eksportir teknologi rendah karbon,” kata dia.
Untuk itu, dia mengatakan kalangan akademisi dan mahasiswa pascasarjana untuk mengambil peran strategis dalam perumusan kebijakan dan inovasi teknologi. Kampus, kata dia, harus menjadi pusat riset, inovasi, dan inkubasi industri hijau.
“Transisi energi harus menjadi agenda nasional yang dinikmati industri dalam negeri dan membuka lapangan kerja hijau bagi rakyat Indonesia,” katanya. [ant.kt]


