
Bunda Mamik Sudarsih, Founder Sanggar Tari ADP, dampingi anak-anak didiknya di acara Simfoni Raga di Titik Balik.
Surabaya, Bhirawa
Lahir dan besar di pemukiman kampung tak menghentikan Mamik Sudarsih, atau yang akrab disapa Bunda Mamik, untuk mengejar mimpinya sebagai seorang seniman. Sejak kecil ia memang tidak mendapat kemewahan untuk bersekolah tari karena kedua orang tuanya belum mengenal apa itu sanggar. Namun, bakat tersebut telah mengalir dalam dirinya sejak lama. Bunda Mamik pun mulai menggeluti seni tari saat memasuki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Setelah lulus mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Bunda Mamik memutuskan menghidupkan suasana rumahnya dengan gerakan tari. Ia ingin membalaskan dendam masa kecilnya terhadap sanggar dan mulai mengumpulkan anak-anak kampung untuk dilatih dengan penuh ketelatenan. Berawal dari kegiatan pentas agustusan, komunitas ini kemudian terus berkembang selama 19 tahun hingga menjadi sanggar tari yang dinamakan Army Dance Production (ADP).
Simfoni Raga di Titik Balik
Eksistensi ADP baru-baru ini dibuktikan melalui pagelaran Uji Kompetensi bertajuk “Simfoni Raga di Titik Balik” yang diselenggarakan di Graha Sawunggaling UNESA, Minggu (18/1). Acara ini dimulai pada pukul 09.00 hingga 15.00 WIB dengan total 206 peserta. Berbagai penampilan mulai dari tari tradisi hingga reog laskar sawunggaling turut menghiasi panggung kala itu. Melalui acara ini, Bunda Mamik menyampaikan bahwa “Simfoni Raga di Titik Balik” bukan hanya sekadar pemenuhan uji kompetensi saja, tetapi juga medium bagi anak didiknya untuk berkompetisi.
Kegigihan Bunda Mamik dalam menempa talenta-talenta muda pun perlahan membuahkan hasil manis. Kini, anak-anak didiknya tak pernah absen mewarnai panggung pementasan hingga podium perlombaan. Dengan prinsip teguh bahwa karya dari kampung tidak berarti kampungan, Bunda Mamik terus berkomitmen memberikan dukungan bagi para calon seniman muda untuk terus berprestasi di bidang seni.
“Bunda kan ada di pinggiran kota, ya, ada di kampung, jadi pengen banget membawa sebuah seni tari itu tidak kampungan, tapi ada di kampung. Jadi bagaimana caranya, ya harus selalu berusaha yang terbaik untuk prestasi,” ungkap Bunda Mamik, lulusan Seni Tari UNESA.
Dukungan Orang Tua Mengantar Anak-anak Berprestasi
Uniknya, perjuangan ini tidak ia lakukan sendirian. Bunda Mamik ikut melibatkan para orang tua siswa untuk berperan aktif dalam urusan tata rias dan kostum. Bunda Mamik meyakini bahwa tari memang membutuhkan banyak biaya, oleh karena itu ia berusaha untuk tetap memfasilitasi anak dengan selalu mengikuti kegiatan melalui kelas bakat minat untuk orang tua siswa yang memiliki skill merias atau membuat kostum dan aksesoris lainnya. Baginya, dukungan orang tua bukan hanya sekadar materi saja, tetapi juga berasal dari keinginan untuk belajar dan berkarya bersama anak-anaknya.
“Jadi, kita semua saling mendukung, ada anak yang pintar, orang tua yang support, dan Bunda yang siap untuk mendampingi anak-anak menjadi prestasi,” tuturnya antusias.
Bunda Mamik mengaku, pementasan tahun ini lebih maju dari tahun sebelumnya yang hanya menggunakan kostum latihan. Saat pengumuman juara, suasana haru dan tepuk tangan meriah menyelimuti seisi auditorium hingga Bunda Mamik tak kuasa membendung air matanya di atas podium. Isak tangis itu pecah bukan hanya karena anak-anak didiknya berhasil menorehkan prestasi, tetapi juga berkat dukungan dosen dan mentornya, Ibu Eko dan Ibu Alit, yang turut hadir menyaksikan perjalanan karyanya.
“Bunda berharap bisa memberikan sesuatu yang lebih dari hari ini. Bunda selalu berkeinginan mencetak pelestari generasi tradisi. Jadi bagaimana caranya tidak hanya berprestasi, tapi memperkenalkan anak-anak itu selalu cinta dan cinta dan cinta seni tari,” pungkasnya.
Rasa syukur dan percaya diri terus mengakar di relung hatinya, Bunda Mamik berkomitmen akan selalu mendukung dan mengantarkan anak-anak didiknya untuk terus bersinar di panggung seni. mg5.wwn
penulis : Ayun Permata Syahrir (mg5)


