Surabaya, Bhirawa – Berpindah dari bisnis elektronik ke bisnis minuman terlihat seperti lompatan jauh. Kenyataannya, sebagian keterampilannya terbawa, dan sebagian lagi menjadi keahlian baru yang dipelajari sepanjang jalan. Frans mengalami keduanya.
Sebelum menjadi mitra waralaba Mixue lebih dari empat tahun lalu, ia lama berkecimpung di bisnis ponsel dan produk elektronik. Kini ia mengelola 16 gerai dengan tim berjumlah hampir 100 orang. Dua gerai berada di pusat Kota Surabaya, sisanya tersebar di wilayah sekitarnya.
Sebelum memutuskan masuk, ia membandingkan beberapa merek dengan menelaah sistem produk, posisi harga, dan model bisnis masing-masing.
“Saya menilainya seperti menilai lini produk elektronik. Yang dicari adalah merek dengan permintaan yang stabil dan sistem yang bisa dijalankan berulang,” ujar Frans.
Beberapa hal dari pekerjaan sebelumnya langsung terpakai. Mengelola beberapa toko sekaligus, menetapkan target penjualan, melatih staf, membaca laporan penjualan harian, dan menangani kebutuhan pembeli adalah pekerjaan yang polanya mirip di kedua industri. Namun ada perbedaan yang membuatnya mempelajari keahlian baru. Yang pertama soal barang. Produk elektronik bisa disimpan lama, sementara bahan baku minuman dan es krim punya masa simpan yang lebih pendek. Ia belajar memperkirakan kebutuhan harian dengan lebih cermat agar pasokan di gerai selalu tersedia pada jam ramai.
Yang kedua soal ukuran transaksi. Menjual satu ponsel setara dengan menjual ratusan gelas minuman. Karena itu, ketelitian pada takaran dan pelayanan menjadi jauh lebih penting, sebab setiap detail kecil berulang ratusan kali dalam sehari di setiap gerai.
Yang ketiga soal ritme kerja. Toko elektronik melayani puluhan pengunjung dengan proses penjualan yang panjang, sementara gerai minuman melayani ratusan orang dengan waktu pelayanan hitungan menit. Kecepatan pelayanan menjadi keterampilan yang terus diasah timnya.
Yang keempat soal tenaga kerja. Karyawan gerai minuman umumnya lebih muda, sehingga perekrutan dan pelatihan menjadi kegiatan yang berjalan berkelanjutan sepanjang tahun. Bagi banyak di antara mereka, ini menjadi pengalaman kerja pertama, sehingga gerai turut berperan sebagai tempat belajar keterampilan dasar melayani pelanggan.
“Di sini pelatihan tidak pernah berhenti, dan itu justru bagus. Tim jadi terus berkembang dan selalu ada orang baru yang siap naik,” katanya.
Penyesuaian itu mendorongnya membangun sistem. Setiap gerai dipimpin seorang store manager dengan tanggung jawab yang jelas, dilengkapi pembagian tugas serta mekanisme penilaian dan insentif. Kunjungan langsung ke gerai tetap dilakukan rutin, sementara kinerja harian dipantau melalui sistem digital.
Yang menarik dari jaringan gerainya adalah sebarannya. Hanya dua dari 16 gerai berada di pusat kota, sisanya di kawasan sekitar Surabaya.
Pilihan itu punya dasar bisnis. Di luar pusat kota, pembelinya cenderung berulang karena berasal dari lingkungan sekitar, sehingga hubungan dengan pelanggan terbangun lebih kuat.
Kunjungan di lokasi seperti itu juga lebih merata sepanjang minggu, tidak hanya menumpuk pada akhir pekan. Bagi pengelola banyak gerai, pola yang stabil semacam ini memudahkan penyusunan jadwal kerja dan perencanaan kebutuhan bahan baku.
Cara ia menyiapkan pemimpin gerai pun mengikuti kebiasaan lamanya di ritel elektronik: menempatkan calon store manager berdampingan dengan yang sudah berpengalaman sebelum diberi tanggung jawab penuh. Pola pendampingan seperti ini terbukti bisa dipindahkan ke bisnis minuman.
Sebagai perwakilan mitra berprestasi, ia berkesempatan mengunjungi kantor pusat Mixue di Tiongkok. Sejak itu ia terlibat dalam sejumlah inisiatif perusahaan, mulai dari pengembangan sistem rantai dingin hingga program pemasaran nasional.
“Lokalisasi selalu menjadi salah satu fokus utama Mixue dalam mengembangkan bisnis di Indonesia. Kami terus menyesuaikan produk maupun operasional gerai berdasarkan preferensi rasa, kebiasaan konsumsi, serta karakteristik pasar di berbagai daerah,” ujar Penanggung Jawab Pengembangan Kemitraan (Franchise) Mixue Indonesia, Selly.
Selly menyebut pendekatan itu juga mencakup penyiapan tim di tingkat gerai.
“Kami akan terus memperdalam strategi lokalisasi, termasuk pengembangan tim, agar Mixue benar-benar menjadi brand yang dekat dan dipercaya masyarakat Indonesia,” tuturnya.
Wilayah Jawa Timur sendiri menyimpan ruang tumbuh yang cukup luas. Kota-kota penyangga di sekitar Surabaya terus berkembang, dengan jumlah penduduk usia muda yang besar dan kebiasaan belanja yang mulai menyerupai kota besar.
Mixue kini mengoperasikan hampir 200 gerai di Surabaya. Kegiatan berskala nasional seperti peluncuran Blueberry Series bersama Rachel Vennya sebagai “Store Manager Sehari” turut memperkenalkan menu terbaru kepada pelanggan di Jawa Timur, dengan penjualan yang disebut melampaui dua juta produk dalam waktu sekitar 20 hari.
Sistem waralaba memang dirancang agar dapat dimasuki pelaku usaha dari berbagai latar belakang. Bagian yang paling rumit, seperti mengembangkan produk, membangun pasokan, dan menetapkan harga yang diterima pasar, sudah disiapkan lebih dulu. Yang diperlukan dari mitra adalah kemampuan mengelola tim dan menjaga standar setiap hari. Perjalanan Frans memperlihatkan kemampuan seperti itu ternyata bisa dibawa dari industri yang sama sekali berbeda, dan berkembang menjadi jaringan usaha yang jauh lebih besar. [why]


