Surabaya, Bhirawa
Gelombang aksi berujung anarkisme yang terjadi beberapa hari terakhir cukup menarik perhatian publik. Namunyang justru harus diwaspadai adalah pasca-aksi. Menurut Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya Dr Radius Setiyawan MA Ruang publik digital kini dibanjiri beragam informasi. Dalam kondisi riuh seperti ini, masyarakat perlu berhati-hati dan tidak terburu-buru mempercayai setiap kabar
“Karenanya masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hoaks dan disinformasi yang marak beredar pasca-aksi yang berujung kericuhan beberapa hari lalu di sejumlah daerah,”ujar Radius Setiyawan, Selasa (2/9).
Wakil Rektor 4 UM Surabaya ini juga menjelaskan potensi hoaks dan disinformasi sangat mungkin muncul, yang justru dapat memperkeruh keadaan apabila masyarakat tidak cermat dalam menyikapi kabar di media sosial.
Ia menilai, pemerintah dituntut memastikan transparansi informasi. Kecepatan dalam merespons situasi penting, namun kehati-hatian juga dibutuhkan agar kebijakan dan langkah yang diambil tidak semakin mengguncang masyarakat yang sedang rentan.
Di sisi lain, kata dia, daya kritis masyarakat terhadap informasi di media sosial menunjukkan perkembangan positif. Publik semakin mampu memilah mana informasi yang valid dan mana yang menyesatkan.
“Misalnya, banyak netizen dapat dengan cepat membedakan peristiwa demonstrasi damai dengan kerusuhan yang berujung penjarahan, serta menguatkannya dengan berbagai data dan analisis,” ujarnya.
Radius menambahkan sejumlah kajian menunjukkan kerusuhan tidak selalu terjadi secara spontan. Dalam banyak kasus, terdapat aktor atau pihak tertentu yang memang mengarahkan massa menuju tindakan destruktif. “Mereka memahami bagaimana memicu emosi kerumunan hingga berubah menjadi aksi pembakaran dan penjarahan,” katanya menegaskan. [ina.wwn]


