28 C
Sidoarjo
Tuesday, September 29, 2026
spot_img

Mengapa Perpustakaan Tak Dirindukan?

Oleh :
Agus Santoso
Kepala Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Judul ini mungkin terdengar agak menyakitkan bagi kita yang sehari-hari bergelut dengan perpustakaan dan literasi. Tapi, bukankah sesekali kita memang perlu bertanya, masihkah orang datang ke perpustakaan memang karena sebuah keinginan dari hati? Di satu sisi, coba amati dinamika gaya hidup yang tumbuh di sekitar kita. Sejak Pemerintah memberlakukan sistem kerja Work from Home melalui Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/III/2026 tentang Work from Home dan Program Optimasi Pemanfaatan Energi di Tempat Kerja, budaya Work from Cafe justru makin diminati oleh para pekerja kantoran. Mereka bisa duduk berjam-jam di kafe sambil bekerja, berdiskusi, atau sekadar menikmati suasana yang dihadirkan kafe kekinian. Bahkan sekarang mulai menjamur kafe yang menyebut dirinya sebagai “kafe perpustakaan”, hanya dengan menghadirkan beberapa rak dan buku bacaan.

Fenomena ini mungkin dianggap sederhana dan muncul sebagai dampak dari perkembangan jaman. Namun, jangan-jangan perpustakaan kalah dalam satu aspek yang justru paling penting, yaitu membuat orang merasa betah dan merindukan keberadaannya. Perpustakaan sering berpuas diri ketika jumlah bukunya bertambah, teknologi yang semakin canggih, dan berbagai bentuk renovasi ruang dan gedung yang memakan anggaran ratusan juta. Tetapi ada pertanyaan yang mungkin perlu menjadi sebuah refleksi para pegiat perpustakaan, ketika masyarakat sudah tidak punya keperluan di perpustakaan, apakah mereka masih ingin datang? Apakah ada sesuatu yang membuat mereka ingin kembali? Sebab perpustakaan pada akhirnya bukan hanya tentang buku, rak, komputer, atau sistem layanan.

Berita Terkait :  Menjemput Makna di Balik Riuhnya Ramadan

Perpustakaan seharusnya menghadirkan pengalaman pribadi yang berkesan ketika masyarakat berada di dalamnya. Kalau kafe bisa membuat orang merasa, “Saya betah di sini,” mestinya perpustakaan juga bisa membuat orang mengatakan, “Besok saya ke sana lagi.” Barangkali itulah adalah PR besar untuk perpustakaan. Bukan sekadar membuat perpustakaan menjadi lebih modern, tetapi membuatnya lebih dekat, lebih hadir, dan memberikan nilai-nilai kehidupan bagi masyarakat. Perpustakaan yang baik bukan hanya tempat yang dikunjungi ketika dibutuhkan, tetapi tempat yang dirindukan ketika sudah lama tidak didatangi.

Semakin Elit Semakin Sulit!
Tanpa disasadari, terkadang strategi promosi yang dipilih justru membuat perpustakaan terasa jauh. Tampil terlalu eksklusif, aturan terlalu kaku, fasilitas dibuat serba modern tetapi tidak dibarengi dengan pustakawan yang ramah. Pada akhirnya orang melihat perpustakaan sebagai tempat yang bagus, tetapi bukan untuk mereka. Sementara itu, kafe dan mal justru sudah menjadi bagian dari keseharian. Orang rela membayar mahal untuk secangkir kopi, duduk berjam-jam, lalu beberapa hari kemudian mereka ingin kembali lagi. Bukan karena kopinya selalu luar biasa, tetapi karena ada rasa nyaman, ada kebiasaan, bahkan ada kenangan.

Apakah orang punya perasaan dan pengalaman yang sama terhadap perpustakaan? Sebab sebuah tempat tidak menjadi dirindukan hanya karena bangunannya bagus atau koleksinya banyak. Orang kembali karena pernah merasa diterima, terbantu, menemukan sesuatu, atau mengalami momen yang kemudian melekat dalam ingatan. Bagi seorang mahasiswa, misalnya, perpustakaan mungkin adalah tempat ia berulang kali datang mencari referensi, menghabiskan malam menyelesaikan skripsi, bertemu teman, atau mengenang seorang pustakawan yang pernah membantunya ketika hampir menyerah. Hal-hal kecil seperti itulah yang sering tidak tercatat dalam evaluasi tahunan perpustakaan.

Berita Terkait :  KONI Kota Batu Kordinasikan Penyiapan Venue Cabor Porprov 2025

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita memaknai tingkat kunjungan perpustakaan sebagai sesuatu yang lebih bermakna. Bukan hanya fokus pada berpa orang yang datang?, berapa buku yang dipinjam?, atau berapa banyak kegiatan yang diselenggarakan?, tetapi bertanya lebih sederhana, setelah mereka pergi, apakah mereka punya alasan untuk kembali? Kalau jawabannya belum, mungkin persoalannya bukan masyarakat yang tidak menyukai perpustakaan. Bisa jadi, selama ini kita yang belum cukup mengenal apa yang membuat mereka ingin selalu hadir di perpustakaan. Jangan sampai suatu hari nanti kita sibuk mengenang pentingnya perpustakaan, justru ketika perpustakaan berubah wujud menjadi bentuk yang lainnya.

Saatnya “Work from Library” menjadi Gaya Hidup
Istilah “Work from Library” sepertinya kalah tenar dibanding “Work from Café”. Faktanya ajakan “Ayo ngopi”, “Ayo ngafe”, atau “Ayo ke mal” lebih sering disuarakan kalangan masyarakat. Sementara “Ayo ke perpustakaan” masih terdengar seperti ajakan untuk pergi mengerjakan tugas sekolah atau kuliah? Padahal banyak perpustakaan sekarang sudah menghadirkan ruang co-working yang didesain tak kalah menarik dengan cafe. Bahkan juga terdapat spot-spot foto yang bisa dijadikan sebagai sarana “validasi” di kalangan anak muda. Tetapi tetap saja, perpustakaan belum menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat seperti halnya kafe.

Pada Hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati pekan lalu, para pegiat perpustakaan masih sering sibuk menyerukan “ayo berkunjung ke perpustakaan”. Kini saatnya merenungi, “mengapa masyarakat harus terus diajak datang?” Bukankah yang lebih penting adalah membuat mereka merasa membutuhkan perpustakaan? Kehadiran mereka jangan selalu ditafsirkan karena ada tugas, mencari buku, atau harus mengurus sesuatu, tetapi karena memang ingin berada di sana.

Berita Terkait :  Politik Luar Negeri, Sekadar Penonton di "Gray Zone Warfare"

Kafe tidak perlu memasang spanduk setiap hari untuk mengatakan, “Ayo datang ke kafe.” Orang datang sendiri. Mereka bekerja, bertemu teman, membaca, berdiskusi, bahkan hanya duduk sendirian sambil menikmati segelas kopi. Kalau kafe bisa menjadi bagian dari keseharian, mengapa perpustakaan tidak? Mungkin persoalannya bukan pada kurangnya promosi, melainkan pada pengalaman yang ditawarkan. Perpustakaan tidak cukup hanya menjadi tempat yang punya banyak buku. Ia harus menjadi tempat yang membuat orang berpikir, merasa nyaman, dan menemukan sesuatu. Barangkali, dari situlah Work from Library benar-benar bisa menjadi sebuah gaya hidup baru bagi masyarakat.

———— *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!