Kota Malang, Bhirawa – Suhu udara terik dan atmosfer kering yang melanda sejumlah kawasan di Indonesia belakangan ini tidak hanya berdampak pada ketahanan fisik, melainkan turut memicu ketidakstabilan emosional. Kondisi lingkungan yang ekstrem dinilai mampu menaikkan kadar hormon stres, sehingga seseorang menjadi lebih rentan terpancing amarah.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A., mengungkapkan bahwa ketidaknyamanan akibat paparan suhu tinggi membebani fisik sekaligus psikis. Dalam disiplin ilmu psikologi, fenomena ini berakar pada teori beban stimulus (stimulus overload), yakni ketika tubuh menerima rangsangan lingkungan melampaui ambang batas toleransi normal.
“Apabila stimulus lingkungan yang diterima melampaui kapasitas adaptasi tubuh, kondisi tersebut memicu lonjakan hormon kortisol. Hormon kortisol merupakan salah satu pemicu utama stres,” terang Alifah, Kamis (8/10).
Menurutnya, saat suhu meningkat tajam, tubuh dipaksa bekerja ekstra keras untuk mempertahankan homeostasis atau keseimbangan metabolisme. Rasa lelah berlebih dan ketidaknyamanan fisik ini lambat laun menghambat fungsi kognitif, sehingga proses berpikir rasional tidak bekerja optimal.
Dampaknya, kepekaan emosional melonjak drastis. Seseorang menjadi mudah tersinggung serta kerap mempersepsikan situasi biasa menjadi sesuatu yang memicu konflik. “Perkataan atau tindakan yang sebenarnya bernada netral dapat terdistorsi menjadi sesuatu yang dinilai agresif atau menjengkelkan. Lelucon ringan pun bisa ditangkap sebagai ujaran kasar akibat sensitivitas yang meningkat,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Alifah menyoroti faktor hidrasi dan kualitas waktu istirahat yang memegang peranan krusial dalam pengendalian emosi. Dehidrasi dan gangguan pola tidur terbukti memperburuk daya tahan tubuh, sekaligus mempersempit toleransi mental menghadapi tekanan.
“Kualitas tidur jauh lebih mendasar ketimbang sekadar durasi. Tidur yang terpecah atau tidak nyenyak gagal memulihkan fungsi otak serta sistem syaraf secara optimal,” jelas akademisi UMM tersebut.
Guna mencegah ledakan emosi di tengah cuaca panas, Alifah menyarankan masyarakat segera mereduksi stimulus fisik yang menekan tubuh. Langkah praktis seperti mencari tempat berteduh, mencukupi asupan cairan, hingga membasuh muka mampu menurunkan ketegangan syaraf secara cepat.
“Langkah awal adalah mengenali respons emosi diri sendiri. Pahami hal-hal apa saja yang memicu ketidaknyamanan, lalu segera kurangi paparan panas dan pulihkan kesegaran tubuh agar pengendalian emosi tetap terjaga,” pungkasnya. [mut.wwn]






