Presiden Prabowo Subianto coba melobi Rusia untuk mencari BBM (Bahan Bakar Minyak), dan gas bumi. Walau tak mudah, karena setiap negara mengalami krisis energi. Namun bisda jadi, Rusia memiliki cadangan memadai, karena dianggap sebagai “sahabat dekat Iran.” Rusia diharapkan bisa menjadi penghubung (semacam kartel) BBM dari Timur Tengah. Tetapi niscaya, Trump akan “cemburu berat” memantau kedekatan Prabowo-Putin. Karena Amerika Serikat (AS) juga menguasai minyak asal Venezuela.
Presiden Vladimir Putin mengambil paradigma positif menyambut Indonesia sebagai teman, terutama karena terlibat BRICS. Juga hubungan diplomatik selama 76 tahun. Semula BRICS awalnya ber-anggota Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, plus Indonesia. Kini bertambah dengan masuknya Iran, Mesir, dan Uni Emirat Arab. Ironisnya, BRICS dianggap “pesaing” hegemoni ekonomi blok barat. Kini BRICS sudah mencakup lebih separuh populasi dunia. Sekaligus menguasai 35% PDB (Produk Domestik Bruto) dunia.
Usai pertemuan, Presiden Prabowo Subianto, masih meng-anggap perlu berkonsultasi dengan Validimir Putin. Menurut Prabowo, karena Putin berperan sangat positif dalam percaturan geo-politik saat ini. Bahkan Rusia melaksanakan kebijakan bebas-aktif sangat jitu dalam perang Timur Tengah. Rusia, tidak benar-benar diam terhadap Timur Tengah. Tetapi Rusia juga tidak kentara benar menyokong Iran. Lebih tepat lagi, Rusia tidak masuk dalam BoP (Board of Peace) yang dipimpin Trump.
Vladimir Putin, pasti paham benar Indonesia tergabung dalam BoP. Tetapi dianggap sebagai urusan pilihan hak Indonesia. Tidak ada hubungan langsung dengan Rusia. BoP dianggap tidak penting bagai utopis. Bahkan usai pertemuan, agenda dilanjutkan dengan pertemuan terbatas dengan format tête-à -tête. Dalam bahasa Prancis (dibaca tet uh tet), berarti pertemuan empat mata yang intim. Tête-à -tête yang dikemas dalam jamuan santap siang di Blue Hall, Istana Kremlin.
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Rusia telah terjalin selama 76 tahun sejak dibuka secara resmi pada tahun 1950. Sejak zaman Presiden Soekarno, telah sering mengunjungi Rusia. Bahkan “memrintahkan” Rusia untuk memperbaiki makam Imam Bukhori, di Samarkand (saat itu bagian dari Uni Soviet). Imam Bukhori, merupakan perawi (penulis) hadits Nabi Muhammad SAW, yang sangat masyhur di dunia. Sampai tahun 1961, makamnya belum diketahui, dan tidak terurus.
Maka diplomati Rusia-Indonesia memiliki ke-sejarah-an (sekaligus romantisme budaya) yang kuat. Misalnya, betapa kondang sasterawan Rusia Leo Tolstoy. Sampai mempengaruhi tulisan saterawan Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis. Terutama novel “War and Peace,” berisi kesederhanaan, serta melalui pandangan perlawanan tanpa kekerasan (perang). Bahkan pada Januari 2025, telah dibangun monumen (patung) Leo Tolstoy, di Universitas Indonesia.
Rusia menjadi mitra lebih strategis saat ini untuk memenuhi pasok BBM (Bahan Bakar Minyak). Kebutuhan minyak nasional (Indonesia) sekitar 1,6 juta barrel per-hari! Sedangkan produksi minyak Indonesia Cuma sekitar 610 ribu barrel. Kekurangannya 1 juta barrel, harus diimpor. Tetapi dua tanker milik Indonesia masih tertahan. Yakni, VLCC (Very Large Crude Carrier) Pride Pertamina. Serta tanker Gamsunoro, yang biasa melayani kebutuhan non-Pertamina.
Konon berbagai negosiasi dengan Iran, tidak cukup memuaskan. Padahal selain BBM selat Hormuz juga sebagai pintu gerbang impor gas alam cair (LPG, Liquefied Petroleum Gas). Bahkan impor gas sampai 80%. Pemerintah patut melakukan segala upaya sebagai tanggungjawab (kewajiban) pengadaan bahan pokok. Sesuai amanat UU Perdagangan, pada pasal 25 ayat (1). Namun jika perang Teluk berlanjut, maka perlu dimulai pemasalan alih bahan bakar non-fosil, sistemik, dan segera.
——— 000 ———


