Jombang, Bhirawa – Penelusur sejarah di Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif memberikan analisanya tentang buku biografi Bung Karno berjudul Penjambung Lidah Rakjat (PLR) yang ditulis oleh penulis Amerika Serikat, Cindy Adams.
Menurut Cak Arif, buku PLR yang terbit tahun 1966 itu tidak relevan untuk mengoreksi bahkan untuk mendegradasi dokumen tertulis tulisan tangan ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo dan dokumen tertulis pendaftaran kuliah Bung Karno di THS (Technische Hoogeschool te Bandoeng) atau ITB saat ini.
Di mana pada tulisan tangan ayah Bung Karno itu kata Cak Arif, jelas dituliskan bahwa Bung Karno lahir 6 Juni 1902, bukan 6 Juni 1901, dan demikian pula dengan keterangan yang dituliskan di dokumen THS/ITB bahwa Bung Karno lahir 6 Juni 1902.
Sementara terang Cak Arif, di buku PLR dituliskan perihal wacana ayah Bung Karno untuk memudakan usia Soekarno untuk kebutuhan masuk dari kelas IV Sekolah Ongko Siji Mojokerto ke kelas V Europeesche Lagere School (ELS) Mojokerto.
“Di buku itu dituliskan Bung Karno bergumam, ‘umur saja sudah empat belas’. Keterangan ini sangat tidak masuk akal. Baik jika dihitung dengan menggunakan skema Bung Karno lahir 1902 maupun 1901. Terlebih lagi tidak ada data tertulis yang menyatakan usia Bung Karno memang dimudakan,” beber Cak Arif, Sabtu (04/07).
“Analisa saya, pada usia 14 tahun, Bung Karno sudah bersekolah di HBS (Hoogere Burgerschool) Surabaya. Sementara peristiwa wacana memudahkan usia Bung Karno itu terjadi ketika Bung Karno masih bersekolah di Mojokerto,” beber Cak Arif.
Selain itu kata Cak Arif, dari sisi isi lainnya di buku karya Cindy Adams itu juga terdapat hal-hal substansial yang justru tidak dimasukkan atau dituliskan.
“Seperti sejarah Bung Karno tinggal dan sekolah di Ploso dan Sidoarjo tidak dimasukkan. Padahal jelas Bung Karno pernah mengakui pernah bersekolah di Ploso dan Sidoarjo. Juga ada SK ayahnya bedinas di Ploso dan Sidoarjo,” papar Cak Arif.
Oleh karenanya dalam pandangan Cak Arif, buku PLR yang tidak sempurna dalam sisi isinya, tidak relevan atau tidak boleh digunakan untuk mengoreksi dokumen tertulis tulisan tangan ayah Bung Karno dan dokumen tertulis pendaftaran kuliah Bung Karno di THS (Technische Hoogeschool te Bandoeng) atau ITB.
“Jika ini tidak diluruskan, bakal berdampak besar. Publik akan menyakini buku PLR itu sebagai ‘kitab suci’ yang tidak boleh dikoreksi. Padahal nyatanya, dari sisi isinya saja banyak kekeliruan yang substansial,” pungkas Cak Arif. [rif.kt]


