Oleh:
Nabila Nur Maajida
Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Media sosial sudah lama bukan sekedar ruang berbagi postingan. Bagi lembaga akademik, platform seperti intagram telah menjadi wadah digital yang bekerja selama dua puluh empat jam yang membangun citra, menyapa audiens, dan menegaskan eksistensi di tengah persaingan konten yang tidak pernah berhenti. @komuntag merupakan akun resmi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, adalah salah satu contoh bagaimana institusi akademik memanfaatkan ruang tersebut dengan pendekatan visual yang terencana.
Siapa pun yang membuka akun @komuntag akan langsung menangkap satu hal yaitu dominasi warna merah dan putih. Warna itu bukan dipilih secara sembarangan, kedua warna itu menunjukkan pada identitas visual Untag Surabaya. Universitas yang sejak awal berdiri berakar pada nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme. Dengan mengunci palet warna merah dan putih, setiap poster yang di unggah membawa penanda institusi. Audiens tidak perlu membaca nama akun untuk tahu konten itu datang dari akun mana.
Dalam kajian komunikasi visual, ini disebut sebagai konsisten suatu identitas. Warna yang konsisten membangun desain yang disebut brand recognition yaitu mengidentifikasi suatu brand hanya dengan melihat identifikasi brand, seperti logo dan warna tanpa mengetahui brandnya secara langsung.
” Tantangan terbesar saya bukan hanya membuat desain yang bagus secara estetika, tetapi bagaimana bagaimana mengikuti tren yang terus berkembang tanpa menghilangkan identitas visual Untag.” (Nabila Nur Maajida, Mahasiswa Magang MBKM Komuntag)
Salah satu konten yang setiap tahun di unggah pada feed @komuntag yaitu poster peringatan hari besar. Dari poster yang telah dipublikasikan, terdapat beberapa macam jenis poster, seperti Hari Raya Idhul Fitri, Hari Raya Waisak, Hari Kartini, Hari Buruh, hingga Peringatan Kenaikan Yesus Kristus. Cakupan poster hari besar lintas agama menjadi contoh bahwa media @komuntag hadir untuk semua, tidak terbatas pada satu agama atau satu kepercayaan saja.
Secara visual, masing-masing desain poster menunjukkan penyesuaian yang kontekstual. Poster waisak misalnya, menggunakan warna hitam putih dengan patung budha dan candi sebagai elemen utama, sementara tipografi merah tampil kontras di bagian atas. Hasilnya adalah Kesan khidmat yang sesuai dengan nuansa perayaan keagamaan. Berbeda dengan poster Hari Kartini yang menggambarkan ilustrasi vector bergaya feminism, sosok Kartini Digambar dengan latar belakang merah yang cerah, dikelilingi bunga-bunga berwarna muda. Pilihan gaya ilustrasi ini terasa lebih hangat, personal, dan emosional, cocok untuk momen yang memang berbicara tentang semangat dan inspirasi seorang perempuan.
Poster Hari Buruh mengambil pendekatan yang berbeda lagi. Gambar kepalan tangan yang berdiri tegak menjadi pusat komposisi, diperkuat dengan elemen garis merah di sisi kiri. Energi disampaikan jelas yaitu rasa semangat, perjuanan dan solidaritas. Sementara poster kenaikkan Isa Al Masih yang terlihat lebih tenang dengan latar langit yang cerah disertai gambar burung sedang terbang, memancarkan nuansa damai dan selaras dengan makna dari peristiwa yang diperingati.
Salah satu elemen yang hadir di konten @komuntag adalah penerapan hierarki tipografi. Nama, hari besar selalu tampil sebagai elemen terbesar dan paling dominan, itulah pesan utama yang harus dibaca pertama. Dibawahnya, tagline atau kalimat inspiratif hadir dengan ukuran lebih kecil sebagai penguat pesan. Struktur ini tidak rumit, namun efektif. Mata pembaca akan langsung diarahkan pada informasi yang paling penting tanpa harus berpikir dua kali. Dibagian bawah setiap poster, terdapat garis merah yang memuat informasi berupa kontak dan tautan media sosial prodi secara lenkap yaitu website, TikTok, Instagram, hingga YouTube. Elemen in bekerja ganda yaitu sebagai identitas sekaligus Call to Action (CTA) yang diam-diam mengajak audiens untuk menjangkau lebih jauh.
Menariknya dari proses produksi di balik akun @komuntag adalah keterlibatan mahasiswa magang MBKM dalam pengerjaan konten. Mahasiswa ditempatkan di divisi desain mendapatkan tanggung jawab untuk merancang poster, menjaga konsistensi brand, dan memastikan setiap visual siap di tayangkan sesuai momen. Pengalaman semacam ini menjadi ruang belajar yang tidak bisa digantikan oleh perkuliahan. Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang selama ini mengenal komunikasi visual hanya sebatas teori semiotika Barthes, teori warna, dan prinsip, yang berhadapan dengan pertanyaan parktis yaitu bagaimana membuat desain peringatan Hari Raya Waisak namun tetap beridentitas Untag?, Bagaimana menyampaikan semangat Hari Buruh tanpa kehilangan estetika? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak ada di buku. Namun hanya bisa ditemukan lewat proses mencoba, merevisi, dan menerima masukan langsung dari dosen.
Yang bisa dipelajari dari akun @komuntag adalah sebuah pemahaman sederhana namun sering diabaikan yaitu desain bukan hanya memperindah, namun setiap warna yang dipilih, setiap font yang dipakai, setiap foto yang digunakan adalah keputusan komunikasi yang berbicara tentang hal apa, kepada siapa, dan dengan nada apa. @komuntag, dengan sumber daya yang teratas dan tim yang sebagian besar diisi oleh mahasiswa, menunjukkan bahwa komunikasi visual yang konsisten dan kontekstual bisa menjadi alat yang efektif. Bukan untuk sekedar eksis di media sosial, tetapi untuk membangun kepercayaan, memperkuat identitas, dan menjaga hubungan dengan komunitas. [*]


