26 C
Sidoarjo
Tuesday, February 24, 2026
spot_img

Akademik Unair, Ketergantungan Gawai Picu Krisis Kesehatan Mental Anak dan Remaja


Surabaya, Bhirawa
Kesehatan mental harus menjadi perhatian bersama. Pasalnya, beberapa waktu terakhir, rentetan kasus bunuh diri yang melibatkan pelajar dan mahasiswa diberbagai daerah di Indonesia memicu kekhawatiran publik. Peristiwa tersebut dipandang sebagai sinyal peringatan akan meningkatnya tekanan psikologis yang dihadapi anak dan remaja. Termasuk pengaruh kuat paparan digital dalam keseharian mereka.

Akademisi komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo menilai ketergantungan terhadap gawai, media sosial, dan permainan daring menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian serius.

Dosen Universitas Airlangga yang juga Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur itu menyebut anak dan remaja saat ini terhubung secara digital hampir tanpa jeda, namun kerap tidak mendapatkan ruang komunikasi emosional yang memadai.

“Kita hidup di era anak dan remaja terhubung 24 jam secara digital, tetapi sering merasa tidak didengar secara emosional. Tekanan digital ini harus menjadi perhatian bersama keluarga, sekolah, media, dan pemerintah,” ujar Suko, Minggu (22/2).

Menurut Suko, para ahli menilai penggunaan gawai dan media sosial secara berlebihan dapat memengaruhi kualitas interaksi sosial, regulasi emosi, serta pola pikir remaja. Ketika realitas kehidupan tidak sejalan dengan citra di ruang digital, sebagian anak dan remaja mengalami kesulitan mengelola tekanan psikologis.

Akibat kekhawatiran dan dampak penggunaan gawai ini, ISKI Jawa Timur mengimbau adanya langkah konkret untuk menekan dampak negatif ketergantungan digital. Rekomendasi tersebut meliputi peningkatan literasi digital dan emosional di sekolah.

Berita Terkait :  Perkuat Layanan Sosial, 57 Pejabat Struktural Dinsos Jatim Dilantik

Lingkungan keluarga diharapkan berperan aktif dalam membatasi penggunaan gawai pada anak-anak. Selain itu, perlunya pencegahan serta deteksi dini perubahan perilaku melalui peran aktif orang tua dan pendidik sangat dibutuhkan. Perluasan akses layanan kesehatan mental bagi anak dan remaja, serta kampanye nasional mengenai bahaya kecanduan gim daring dan tekanan sosial di media sosial.

“Kasus bunuh diri pelajar dan meningkatnya gangguan mental akibat ketergantungan gawai bukan sekadar angka. Ini realitas yang membutuhkan aksi bersama, bukan hanya respons setelah tragedi terjadi,”tandas Suko.

Sementara itu, fenomena ketergantungan digital juga tercermin dari data layanan kesehatan jiwa Rumah Sakit Menur Surabaya.

Direktur RS Menur Surabaya, Vitria Dewi, menyampaikan dalam dua tahun terakhir, terjadi peningkatan signifikan kasus gangguan jiwa pada anak dan remaja, terutama yang berkaitan dengan penggunaan gawai dan gim daring secara berlebihan.

Berdasarkan data rumah sakit, sejak Januari hingga Juli 2024 sekitar 3.000 anak dan remaja menjalani terapi akibat gangguan tersebut. Mayoritas pasien menunjukkan masalah perilaku dan perkembangan mental yang dipengaruhi ketergantungan digital.

“Ini bukan semata soal teknologi. Persoalan ini berkaitan erat dengan perubahan perilaku, hubungan sosial, dan pengelolaan emosi. Peran keluarga sebagai benteng pertama ketahanan mental sangat krusial,” tegas Vitria. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru