Pemprov Jatim, Bhirawa – Perluasan kawasan perkotaan Malang tidak lagi berhenti pada batas administratif Kota Malang. Pertumbuhan ekonomi, pendidikan, pariwisata, dan industri digital mendorong Malang Raya berkembang ke Kota Batu, Kabupaten Malang, hingga Kepanjen. Namun, pertumbuhan itu harus diimbangi konektivitas antarkota agar tidak justru memunculkan kemacetan dan tekanan lingkungan baru.
Pandangan itu disampaikan Ir. Putu Rudy Setiawan, M.Sc., dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang juga merupakan Dewan Pakar Ikatan Ahli Perencana (IAP) Jawa Timur, dalam Focus Group Discussion (FGD) Penajaman Calon Lokasi Kegiatan Nasional Urban Transformation Program (NUTP) untuk Kota Surabaya dan Kota Malang. Kegiatan digelar di Ruang Rapat Binaloka Adhikara, Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Jalan Pahlawan 110 Surabaya, Kamis (5/11) siang.
Menurut Putu Rudy, wilayah Malang kini berkembang sebagai sebuah aglomerasi yang melibatkan Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang. Koridor-koridor perkotaan sudah terbentuk, termasuk Malang–Batu, Malang–Kepanjen, hingga potensi pengembangan ke arah timur dan wilayah lain di Kabupaten Malang.
“Ini bukan lagi sekadar Kota Malang. Ada Malang–Batu, ada Malang–Kepanjen, dan berikutnya berpotensi berkembang ke arah timur serta kota-kota lain di Kabupaten Malang,” ujarnya dalam paparannya.
Kondisi itu sejalan dengan arah pembangunan Malang Raya yang dikonsep sebagai jejaring kawasan yang saling terhubung secara fungsional. Aktivitas ekonomi, pendidikan, pariwisata, investasi, dan mobilitas tenaga kerja ditekan untuk dapat bergerak lintas batas Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.
Putu Rudy menilai basis ekonomi Malang Raya tidak lagi bertumpu pada satu sektor. Selain pendidikan dan pariwisata, kawasan ini juga mulai memperkuat industri, ekonomi digital, serta kawasan industri berbasis teknologi.
Ia menyoroti keberadaan kawasan industri dan ekonomi digital di wilayah Singhasari sebagai salah satu bentuk diversifikasi ekonomi Malang Raya. Kawasan tersebut tidak hanya mengandalkan pariwisata atau pendidikan, tetapi juga mengembangkan teknologi digital, riset, dan pengembangan inovasi.
Diversifikasi ini penting karena Malang Raya tidak dapat hanya bergantung pada sektor jasa dan pendidikan. Kota Batu dikenal kuat pada pariwisata dan pertanian dataran tinggi, sementara Kabupaten Malang memiliki kekuatan pertanian, perkebunan, industri, kelautan, serta pariwisata.
Di balik pertumbuhan itu, Putu Rudy mengingatkan munculnya persoalan pada koridor-koridor radial, terutama jalur yang menghubungkan Kota Malang dengan Kota Batu. Perjalanan warga Malang ke Batu yang semakin padat, katanya, merupakan gejala dari pertumbuhan ekonomi sekaligus ketimpangan kesiapan infrastruktur.
“Kemacetan pada koridor radial muncul karena perkembangan ekonomi yang luar biasa. Tetapi di sisi lain, ada tekanan besar terhadap ruang dan lingkungan,” katanya.
Ia menambahkan, kawasan utara Malang yang mengarah ke Batu semakin terintegrasi secara fungsional. Namun, integrasi itu juga meningkatkan tekanan terhadap lingkungan, ruang terbuka, dan kualitas hidup warga apabila tidak dikelola melalui perencanaan wilayah yang matang.
Dalam FGD tersebut, Putu Rudy juga menyinggung dinamika Surabaya Raya. Menurutnya, dalam sepuluh tahun terakhir infrastruktur Surabaya telah berkembang signifikan, mulai dari jalan tol, jalan arteri, kereta komuter, pelabuhan, hingga bandara.
Namun, ia menilai tantangan utama kini bukan semata-mata membangun infrastruktur baru, melainkan mengintegrasikan antarmoda. Konektivitas antara terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara perlu diperkuat agar mobilitas orang dan barang lebih efisien.
“Persoalannya adalah konektivitas dan keseimbangan. Bagaimana menghubungkan antara terminal Surabaya dengan Juanda, supaya terjadi integrasi antarmoda,” ujarnya.
Dari sisi selatan, Putu Rudy menyoroti jalur ekonomi dari Malang menuju pelabuhan di wilayah Surabaya. Ia menyebut kajian di ITS menunjukkan jalan tol pada koridor tersebut telah mengalami kelebihan kapasitas atau overcapacity.
Karena itu, ia menilai diperlukan peningkatan kapasitas jaringan jalan, baik melalui pembangunan jalan tol baru maupun peningkatan dimensi ruas jalan eksisting. Salah satu opsi yang disebut adalah pengembangan jalan lingkar luar barat, yang menurutnya perlu dikaji ulang fungsinya agar lebih optimal mendukung mobilitas ekonomi.
Ia juga menyinggung rencana jalan tol baru di sisi timur sebagai bagian dari penguatan integrasi antara Surabaya dan kawasan sekitarnya. Baginya, pembangunan infrastruktur tersebut harus diposisikan bukan hanya sebagai proyek jalan, tetapi sebagai instrumen penguatan regionalisasi dan konektivitas ekonomi.
FGD tersebut menjadi bagian dari upaya menajamkan calon lokasi kegiatan Nasional Urban Transformation Program (NUTP) di Kota Surabaya dan Kota Malang. NUTP sendiri merupakan program yang dikembangkan untuk mendorong transformasi perkotaan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Bagi Putu Rudy, Malang Raya dan Surabaya Raya sama-sama berada pada titik penting, pertumbuhan ekonomi sudah berjalan, tetapi arah perkotaan, transportasi, dan perlindungan lingkungan harus dirancang lebih terpadu.
“Kalau pertumbuhan tidak diimbangi konektivitas dan tata ruang, yang muncul bukan hanya kemacetan, tetapi juga krisis ruang dan tekanan lingkungan,” tutupnya. [aya.kt]


