32.3 C
Sidoarjo
Monday, November 2, 2026
spot_img

Hujan di Hulu Semeru Picu Banjir Lahar Dingin dan Genangan di Lumajang-Malang

Pemrov Jatim, Bhirawa — Hujan intensitas sedang hingga tinggi di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Glidik pada Senin 2 November dini hari memicu dua kejadian bencana sekaligus di wilayah hilir, banjir lahar dingin di Kabupaten Lumajang dan banjir genangan di Kabupaten Malang. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 05.00 WIB dan hingga laporan diturunkan, sejumlah kawasan masih tergenang air.

Di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, Sungai Glidik meluap dan membawa arus lahar dingin dari hulu Gunung Semeru. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Timur mencatat tangkis sungai sepanjang sekitar 200 meter rusak atau longsor, sementara dua rumah warga rusak akibat terjangan arus.

“Hujan dengan intensitas cukup deras di hulu DAS Glidik selama kurang lebih tiga jam menyebabkan peningkatan aliran di Sungai Glidik. Karena sungai ini merupakan jalur aliran lahar Gunung Semeru, material vulkanik di dasar sungai mudah tergerus dan terbawa arus, sehingga terjadi banjir lahar dingin,” ujar Ari Pudji Astono, Koordinator Humas DPU SDA Provinsi Jawa Timur saat dikonfirmasi Bhirawa, Senin (2/11/2026) pagi.

Data lapangan mencatat curah hujan di Stasiun Pronojiwo mencapai 128 milimeter dalam durasi 12 jam. Sungai Glidik memang dikenal sebagai salah satu jalur utama aliran lahar dingin Semeru, bersama DAS Mujur dan DAS Rejali. Saat hujan deras, material vulkanik seperti pasir dan batu dapat terbawa arus sehingga meningkatkan daya rusak banjir.

Berita Terkait :  Soal Viralisasi Bansos, Anggota Komisi I DPR RI: Pemerintah Tak Perlu Kalah Gengsi dari Gotong Royong Rakyat

Dampak paling serius tercatat pada bangunan pengendalian sungai. Perkuatan tebing atau tangkis Sungai Glidik setinggi sekitar 500 sentimeter rusak dan longsor sepanjang 200 meter. Dua rumah warga juga mengalami kerusakan akibat terjangan air sungai.

Ari menegaskan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan perangkat desa, melakukan monitoring, pendataan, serta pelaporan kondisi terkini.

“Tim kami memantau perkembangan genangan dan kerusakan secara berkala. Untuk penanganan jangka pendek, kami akan memastikan kondisi tangkis yang rusak tidak memperluas dampak kepada permukiman. Sementara itu, pembangunan tanggul bronjong melalui Proyek Strategis Daerah (PSD) tahun ini juga sedang berjalan di lokasi tersebut,” katanya.

Hingga laporan ini diturunkan, genangan masih berada di lokasi kejadian. DPU SDA mengusulkan tiga langkah penanganan lanjutan: normalisasi sungai, perkuatan tangkis sungai, dan pengalihan alur Sungai Glidik.

Pada waktu yang hampir bersamaan, hujan di hulu DAS Glidik juga menyebabkan banjir genangan di Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Luapan terjadi di sekitar Sungai Kedung Ondo dan Kali Sat yang mengalami pendangkalan.

Sedikitnya 70 kepala keluarga tergenang setinggi 40 hingga 50 sentimeter. Jalan desa sepanjang 1,2 kilometer juga tergenang dengan ketinggian air sekitar 30 hingga 50 sentimeter. Berbeda dengan kejadian di Lumajang, belum ada kerusakan bangunan atau infrastruktur yang dilaporkan di lokasi ini.

“Di wilayah Malang, permasalahan utamanya adalah pendangkalan pada Sungai Kedung Ondo dan Kali Sat. Ketika hujan merata selama kurang lebih dua jam di hulu DAS Glidik, kapasitas aliran sungai menurun sehingga air meluap ke permukiman dan jalan desa,” jelas Ari.

Berita Terkait :  Bangun Kawasan Perbatasan, Presiden Jokowi Resmikan 7 PLBN Terpadu Serentak

Curah hujan di Stasiun Pronojiwo tercatat 126 milimeter dalam 12 jam, dengan intensitas yang dinilai cukup deras. Kondisi genangan juga masih berlangsung saat laporan dibuat, dan pemantauan akan terus dilakukan.

DPU SDA Provinsi Jawa Timur menilai kedua kejadian menunjukkan kerentanan wilayah DAS Glidik terhadap curah hujan tinggi, terutama karena sedimentasi dan aliran lahar dari Semeru. Kondisi sungai yang semakin dangkal dapat memperbesar risiko luapan ketika debit meningkat.

“Usulan kami adalah normalisasi sungai untuk mengembalikan kapasitas aliran, perkuatan tangkis sungai agar mampu menahan arus lahar, serta kajian pengalihan alur Sungai Glidik pada titik yang berisiko,” ungkap Ari.

Ia menambahkan, pemerintah provinsi akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, BPBD, dan pemerintah desa untuk mempercepat pendataan kerusakan serta menentukan skema penanganan.

“Kami mengimbau warga di sekitar Sungai Glidik, Kedung Ondo, dan Kali Sat untuk tetap waspada, tidak beraktivitas di tepi sungai saat hujan, serta mengikuti arahan petugas setempat. Pemantauan akan terus dilakukan dan perkembangan kondisi akan disampaikan menyusul,” pungkasnya. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!