UMKM Naik Kelas, Inovasi Memperkuat Ekonomi Kerakyatan Berkelanjutan (Bagian 1)
Bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), inovasi menjadi kunci untuk mampu bersaing di pasar global yang semakin kompetitif. Konsistensi tersebut mengantarkan Aranaspice naik kelas, dengan produk Spice Chocolate berbahan rempah yang kini mampu menembus pasar Jepang dengan permintaan yang cukup tinggi.
Oleh :
Diana Rahmatus Sholichah
Produk Aranaspice tidak berhenti pada rempah-rempah asli Nusantara. Pengembangan produk terus dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan pasar, baik untuk memperluas pasar ekspor maupun memperkenalkan kekayaan rempah Indonesia ke pasar dunia.
Inovasi tidak hanya dilakukan melalui riset internal. Aranaspice juga aktif membaca tren pasar, mengamati produk kompetitor, serta menindaklanjuti masukan dari buyer di berbagai negara.
Fiunder and CEO Aranaspice, Sri Astutik, mengatakan sekitar 90 persen penjualan perusahaan saat ini berasal dari pasar ekspor. Karena itu, pengembangan produk dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan dan karakteristik konsumen di negara tujuan.
Aranaspice juga aktif mengikuti berbagai pameran F&B untuk memperkenalkan produk sekaligus mencari inspirasi pengembangan produk baru yang dapat diterima oleh berbagai kelompok usia.
“Kalau pameran, kami tidak hanya memamerkan produk. Saya pasti mengambil waktu untuk keliling, mencari ide dari kompetitor negara lain. Mulai dari jenis produknya sampai packaging-nya seperti apa,” ujar peraih Australia Award kategori Women LED MSMEs Ready to Export 2024 dan UKM Orientasi Ekspor Terbaik Binaan Bank Indonesia KPw Jatim 2024 itu, di sela kesibukannya menjalankan usaha, Jumat (25/9).
Salah satu inovasi yang berhasil dikembangkan adalah Spice Chocolate, yakni cokelat yang dipadukan dengan sembilan jenis herbal dan rempah asli Indonesia. Produk tersebut mulai memasuki pasar Jepang pada 2023, setelah melalui proses pengembangan sejak 2019.
Tutik, sapaan akrab Sri Astutik, mengatakan pengembangan Spice Chocolate membutuhkan puluhan kali uji coba hingga menemukan formula dan cita rasa yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Produk tersebut dikembangkan berdasarkan permintaan buyer yang menginginkan produk jamu dalam bentuk yang lebih praktis dan mudah dinikmati. Perpaduan cokelat dengan herbal dan rempah menjadi salah satu inovasi yang kemudian diterima pasar Jepang.
“Ide untuk jamunya dibuat cokelat itu pertama kali diminta buyer. Kami sempat mencoba dengan kopi, tetapi hasilnya kurang enak. Sampai menjadi Spice Chocolate memang membutuhkan puluhan kali trial,” jelasnya.
Saat ini, permintaan Spice Chocolate dari pasar Jepang bervariasi, mulai dari puluhan juta hingga lebih dari Rp100 juta dalam sekali pemesanan. Dalam satu kali order, jumlah minimal mencapai sekitar 200 produk, dengan pengiriman dilakukan menggunakan air freight.
Produk tersebut dibanderol sekitar Rp90 ribu per kemasan. Meski menggunakan sejumlah rempah yang secara tradisional dikenal memiliki manfaat tertentu, Arana Spice belum mencantumkan klaim efikasi pada produk karena belum memiliki sertifikasi yang menjadi dasar untuk klaim tersebut.
“Belum ada, makanya kami belum berani klaim efikasi. Yang kami bawa dalam marketing adalah cokelat dengan unique taste,” kata peraih Juara 1 UKM Berprestasi Jatim 2026 itu.
Bagi Aranaspice, masukan buyer menjadi salah satu sumber penting dalam pengembangan produk. Salah satunya terlihat dari pengembangan minuman berbasis jahe untuk memenuhi kebutuhan pasar Timur Tengah dan Afrika.
Buyer dari Dubai, misalnya, meminta tambahan habatussauda pada produk ginger drink. Sementara buyer dari Filipina yang memasok pasar Afrika meminta cita rasa jahe yang lebih pedas.
Aranaspice juga tengah mengembangkan turmeric latte, minuman berbahan susu, kunyit, dan campuran rempah lainnya. Ide tersebut diperoleh dari buyer Australia. Namun, produk itu masih dalam tahap pengembangan dan saat ini baru dipasarkan ketika perusahaan mengikuti event tertentu.
Pasar Australia dan Jepang menjadi bagian penting dalam pengembangan pasar Aranaspice. Menurut peraih terbaik 1 UKM Berprestasi Jatim 2026 ini, kedua negara tersebut memiliki regulasi yang cukup ketat sehingga menjadi tantangan sekaligus proses pembelajaran bagi perusahaan untuk terus meningkatkan standar produk.
Dari sisi bahan baku, pengembangan produk Aranaspice juga melibatkan rantai pasok petani dan masyarakat di sejumlah daerah. Untuk Spice Chocolate, Aranaspice bermitra dengan Coklat Mojopahit di Mojokerto yang sebagian sahamnya dimiliki kelompok tani. Kemitraan tersebut terhubung dengan lebih dari 6.000 petani.
Sementara itu, bahan baku produk rempah Aranaspice diperoleh melalui mitra dari Jember, Kediri, Nganjuk, Jawa Tengah, Wonogiri hingga Nusa Tenggara Timur. Para mitra tersebut turut memberdayakan lebih dari 100 orang, terutama perempuan dan masyarakat di sekitar lokasi usaha.
Perempuan kelahiran Tulungagung tahun 1968 tersebut mengatakan pengembangan inovasi akan terus dilakukan dengan melihat kebutuhan pasar ekspor. Perusahaan juga berencana mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk Spice Chocolate sebagai upaya melindungi inovasi produk yang telah dikembangkan.
“Iya, untuk Spice Chocolate akan kami HAKI-kan,” pungkasnya.
Dapat Dukungan Pemprov Jatim
Perjalanan Aranaspice menembus pasar ekspor tidak lepas dari dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam membuka akses UMKM ke pasar internasional. Dukungan tersebut diberikan melalui berbagai program, mulai dari capacity building, pameran internasional hingga misi dagang ke Jepang.
Tutik mengatakan dukungan Pemprov Jatim telah diterima bahkan sebelum dirinya mengikuti berbagai kompetisi UMKM. Salah satu bentuk fasilitasi yang diperoleh adalah kesempatan mengikuti pameran internasional pada 2024 dan misi dagang ke Osaka, Jepang, pada akhir 2024.
“Sebetulnya kalau Pemprov lewat dinas, mulai dari capacity building ada, kemudian pameran internasional ada. Kemudian bahkan kami menjadi salah satu UMKM yang terpilih untuk dibawa misi dagang ke Jepang. Itu antara lain yang dari Jawa Timur,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai fasilitasi pemerintah menjadi bagian dari proses pengembangan usaha sekaligus membuka peluang untuk memperluas jaringan pasar. Selain pameran dan misi dagang, Pemprov Jatim juga pernah memfasilitasi pendaftaran merek produknya pada 2021.
“Untuk pendaftaran mereknya difasilitasi Pemprov,” katanya. Dukungan terhadap pengembangan Aranaspice juga datang dari sejumlah institusi lainnya. Tutik menyebut perusahaannya mendapat pembinaan dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UMKM, Bank Indonesia, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Untuk membuka akses pasar internasional, Bank Indonesia turut memfasilitasi keikutsertaan Arana Spice dalam sejumlah pameran luar negeri, di antaranya Foodex Jepang pada 2025 dan 2026, Osaka World Expo 2025, serta FHA Singapura.
“Selain itu Trade Expo Indonesia, yang merupakan pameran internasional di Indonesia, juga kami ikuti. Ada yang difasilitasi Jawa Timur, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi, dan tahun kemarin Astra,” jelasnya.
Berbagai fasilitasi tersebut berjalan seiring dengan pengembangan produk rempah yang sejak awal diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Aranaspice tidak hanya menjual rempah dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga mengembangkan produk bernilai tambah dengan memperhatikan standar internasional.
Produk yang dikembangkan antara lain rempah bubuk dengan kemasan berbahan paper yang diklaim lebih ramah lingkungan. Untuk mendukung pasar ekspor, produk tersebut juga telah dilengkapi sertifikasi HACCP, sertifikasi halal, serta izin edar.
“Secara perizinan kami sudah lengkap, secara standar internasional kami sudah punya,” ujarnya.
Ekspor Tembus 10 Negara
Saat ini, produk rempah Aranaspice telah dipasarkan ke sejumlah negara. Tutik menyebut perusahaan telah melakukan ekspor ke 10 negara, di antaranya Arab Saudi, Jepang, India, Mesir, Vietnam, Hong Kong, Makau, Australia, Nigeria, dan Inggris.
Selain memperluas pasar, model bisnis Aranaspice juga mengedepankan penguatan rantai pasok melalui kemitraan dengan pengrajin di berbagai daerah. Salah satu mitra yang awalnya memiliki kapasitas produksi sekitar 36 ton per tahun kini mampu meningkatkan produksinya menjadi sekitar 300 ton per tahun dengan melibatkan lebih dari 50 pengrajin.
Tutik menegaskan, penguatan rantai pasok dilakukan agar produk yang dihasilkan para mitra sejak awal telah memenuhi standar yang dibutuhkan untuk pasar ekspor.
“Kalau kita bicara rempah-rempah, terutama dari sisi raw material, kita harus kuat di supply. Makanya kami lakukan penguatan rantai pasok melalui kemitraan dan pemberdayaan,” pungkasnya. [*]


