Situbondo, Bhirawa – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai wacana perubahan nama Kabupaten Situbondo menjadi momentum positif untuk menggali kembali sejarah daerah.
Emil mengatakan, pembahasan mengenai perubahan nama daerah semestinya dimulai dengan melihat sejarah serta preferensi masyarakat setempat.
“Yang pertama paling punya apa, yang harus dirujuk pertama adalah mereka sendiri. Warga Situbondo punya preferensi apa,” kata Emil dalam acara Diskusi Ruang Temu Kepala Daerah yang digelar Total Politik, Rabu malam (26/8/2026).
Menurut Emil, masyarakat juga perlu mempertimbangkan sejarah dan tokoh-tokoh yang memiliki kaitan dengan daerah tersebut.
Ia mencontohkan Besuki yang secara historis pernah menjadi pusat Karesidenan Besuki di wilayah Tapal Kuda.
“Memang secara historis kan Besuki itu adalah karesidenan, pusat karesidenan di wilayah Tapal Kuda,” ujarnya.
Selain Besuki, Emil menyebut Panarukan juga memiliki posisi penting dalam sejarah Kabupaten Situbondo. Karena itu, menurut dia, munculnya sejumlah gagasan mengenai nama daerah merupakan bagian dari proses dialektika yang wajar.
Emil juga menyinggung perkembangan infrastruktur di wilayah Situbondo, termasuk keberadaan jalan tol yang menghubungkan wilayah tersebut dengan Banyuwangi yang masih dalam tahap pembahasan.
“Besuki itu sisi paling barat dari Situbondo. Tetapi ini kan Panarukan. Nah, ada Besuki, ada Panarukan, ada Situbondo itu sendiri,” kata dia.
Emil menilai pemerintah daerah sebagai pemangku amanah harus memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan pandangan mengenai wacana tersebut.
Menurut dia, langkah Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo yang membuka ruang terhadap berbagai gagasan merupakan hal yang tepat.
“Saya rasa kalau posisi kita, karena kita ini sebenarnya pemangku amanah, kita harus kasih kesempatan dialektika. Jadi, makanya benar yang dilakukan Mas Bupati, ide silakan, kemudian lihat dinamikanya,” tutur Emil.
Ia berharap masyarakat dapat menyampaikan argumen masing-masing, baik yang mendukung perubahan nama maupun yang ingin mempertahankan nama Situbondo.
“Kita juga ingin lihat nih yang pro mempertahankan nama Situbondo punya argumen seperti apa. Yang kemudian, jangan-jangan malah Panarukan, Besuki yang muncul,” ucapnya.
Emil menilai perdebatan mengenai nama daerah justru dapat menjadi pemantik bagi generasi muda untuk mengenal sejarah daerahnya.
Menurut dia, proses tersebut berpotensi membuat anak-anak muda di Situbondo maupun Jawa Timur tertarik menggali sejarah Besuki, Panarukan, dan Situbondo lebih dalam.
“Ini saya pikir dialektika yang bagus dan membuat anak-anak muda di Situbondo, bahkan di wilayah Jawa Timur juga akan penasaran dan mau menggali sejarah juga. Jadi, positif lah dia meresponsnya,” kata Emil.
Sebelumnya nama Kabupaten Situbondo diwacanakan dirubah menjadi Kabupaten Panarukan. Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan wacana itu mencuat dalam diskusi pegiat literasi dan sejarah.
“Itu diskusi teman-teman pegiat literasi dan pegiat sejarah, pada dasarnya diskusi itu tidak boleh dihentikan. Semuanya harus bergulir sebagaimana mestinya,” katanya.
Bupati yang akrab disapa Mas Rio itu mengatakan mengenalkan Situbondo mudah jika dibarengi dengan penyebutan Panarukan.
“Mengenalkan Situbondo itu mudah paling tidak harus ada embel-embel Panarukan, itu ide awalnya. Tapi nanti kembali masyarakat gimana,” pungkas Mas Rio. [awi.kt]



