Jombang, Bhirawa – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz menegaskan pentingnya pesantren membentengi diri dengan ilmu agama yang kuat sekaligus adaptif dalam merespons dinamika zaman.
Imbauan tersebut disampaikan Gus Kikin pada acara Majelis Halaqah Nasional Pesantren Masa Depan di lantai 3 Gedung Yusuf Hasyim, Pesantren Tebuireng, Jombang, Rabu malam (26/8/2026).
Kegiatan strategis ini dihadiri oleh jajaran pengurus dan seluruh anggota Majelis Persatuan Pengasuh Pesantren Indonesia (MP3I).
Gus Kikin mengingatkan seluruh pengasuh pesantren untuk terus memperkokoh fondasi keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di tengah gempuran modernisasi pendidikan.
“Kita membentengi diri agar bisa mengambil manfaat, karena ini sangat penting,” kata Gus Kikin.
“Bahkan saat ini kita merasakan proses pembelajaran lebih banyak mengasah kecerdasan di ranah kognitif dan afektif,” tutur Gus Kikin.
Gus Kikin kemudian menguraikan rekam jejak historis pembaruan sistem pendidikan di Tebuireng.
Menurutnya, Tebuireng sejak era awal telah memelopori integrasi ilmu agama dan ilmu umum.
“Sejarah Pesantren Tebuireng berawal dari pengajaran ilmu-ilmu agama. Kemudian pada 1917 mulai dimasukkan pelajaran ilmu bumi dan matematika, disusul Bahasa Belanda pada 1928, serta sistem klasikal Salafiyah Nizamiyah pada 1933,” papar Gus Kikin.
“Pasca kemerdekaan, didirikan jenjang MTs dan MA, hingga kini berkembang memiliki 18 unit pendidikan,” sambungnya.
Bagi Gus Kikin, langkah integratif ini merupakan wujud pengejawantahan kaidah al-muhafadzatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (merawat tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik).
“Sebagai tanggung jawab kita yang berpegang pada Islam Aswaja, perjalanan ini menjawab perkembangan zaman (al-hawadits). Kita perlu pikirkan bersama di pondok pesantren agar kekuatannya seimbang, tanpa meninggalkan pembelajaran agama,” bebernya.
Gus Kikin menilai, ketepatan dan kecepatan beradaptasi merupakan kunci utama agar para santri tidak terasing dari perkembangan global.
Pihaknya mendorong lembaga pesantren salaf untuk lebih berani melakukan ijtihad pengembangan kurikulum.
“Modernisasi membutuhkan kecepatan untuk mengejar zaman. Pondok salaf terkadang kurang melakukan ijtihad yang seharusnya mengikuti perkembangan zaman,” ungkapnya.
“Di Tebuireng kami mendirikan sekolah-sekolah formal, namun secara prinsip pemikiran kami tetap tidak pernah meninggalkan ajaran agama,” imbuh imbuhnya.
Cicit Pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang intens mengawal pengembangan kemandirian pesantren ini menaruh harapan besar pada forum MP3I agar mampu melahirkan gagasan konkret bagi masa depan generasi muda Islam.
“Mudah-mudahan di dalam forum nanti lahir pemikiran yang benar-benar dibutuhkan santri-santri kita di pondok pesantren saat kelak terjun dan mengabdi di tengah masyarakat,” pungkas Gus Kikin. [rif.kt]



