Surabaya, Bhirawa -Pasar perkantoran di seluruh Indonesia khususnya Jakarta menunjukkan pemulihan bertahap yang lebih selektif, dengan dinamika yang kini ditopang oleh relokasi perusahaan dan preferensi atas gedung berkualitas tinggi. Laporan Colliers terbaru menyoroti bahwa pemulihan ini lebih berkaitan dengan penyesuaian kebutuhan ruang ketimbang ekspansi besar-besaran.
Meskipun masih menyisakan tantangan besar berupa ruang kosong yang luas mendekati 3 juta meter persegi di seluruh Jakarta, tren okupansi menunjukkan perbaikan. Di kawasan pusat bisnis (CBD), tingkat hunian rata-rata tercatat sekitar 76 persen pada kuartal kedua 2026, sementara gedung premium mencatat angka lebih tinggi, sekitar 83 persen. Di luar CBD, okupansi perlahan mendekati 70 persen.
Relokasi perusahaan menjadi salah satu pendorong utama aktivitas pasar. Perusahaan kini lebih selektif: bukan hanya soal harga, melainkan kesiapan ruang (fit out siap pakai), kemudahan akses transportasi publik, struktur sewa yang fleksibel, dan kredensial keberlanjutan (ESG). Gedung yang bisa menawarkan paket tersebut berpeluang pulih lebih cepat.
Ketersediaan ruang kosong yang besar menempatkan posisi tawar pada penyewa. Untuk menarik dan mempertahankan penyewa, banyak pemilik gedung menawarkan strategi sewa lebih fleksibel, periode bebas sewa, dukungan fit-out, dan insentif komersial lain. Namun, ada tanda-tanda peningkatan kepercayaan pemilik untuk mempertahankan harga sewa sambil tetap memberikan insentif kompetitif.
Dari sisi pasok, tidak ada penyelesaian proyek baru di CBD pada semester pertama 2026, sehingga total pasokan tetap di kisaran 7,4 juta meter persegi. Terbatasnya pasokan baru diperkirakan akan membantu penyerapan ruang kosong dalam beberapa tahun ke depan dan mendukung stabilisasi tingkat okupansi.
Permintaan diperkirakan akan terus meningkat sampai akhir 2026, didorong oleh sektor logistik, energi, dan fintech, baik dari pemain lokal maupun asing. Namun, karena kondisi pasar masih menguntungkan penyewa, pemulihan yang lebih kuat akan bergantung pada kemampuan pemilik gedung untuk menyediakan fleksibilitas sewa, aksesibilitas, praktek keberlanjutan, serta efisiensi total biaya okupansi.
Ferry Salanto, Kepala Riset Colliers Indonesia, menegaskan bahwa penyewa kini mengutamakan kualitas dan fleksibilitas, gedung dengan struktur sewa adaptif, ruang siap pakai, akses transportasi, dan kredensial keberlanjutan berada dalam posisi lebih baik untuk menarik permintaan.
“Semakin selektifnya penyewa dalam mengambil keputusan, pemulihan pasar perkantoran Jakarta juga didorong oleh kebutuhan kualitas, bukan semata-mata oleh harga. Gedung-gedung yang berpotensi pulih lebih cepat adalah gedung yang menawarkan struktur sewa yang fleksibel, ruang siap pakai, kemudahan akses transportasi publik, serta kredensial keberlanjutan,” kata Ferry menutup.[aya.kt]



