Kediri, Bhirawa – Pemerintah Kota Kediri mendorong pondok pesantren (ponpes) tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga lingkungan yang sehat, aman dan nyaman bagi santri. Hal itu disampaikan Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati saat membuka Rapat Koordinasi Tim Pembina Pesantren Sehat di Ruang Joyoboyo Balai Kota Kediri, Rabu (19/8).
Vinanda mengatakan, kesehatan di lingkungan pesantren perlu mendapat perhatian karena karakter kehidupan santri yang berlangsung secara komunal. Kondisi tersebut menjadi kekuatan dalam membangun kebersamaan, namun juga memiliki risiko kesehatan apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan lingkungan dan perilaku hidup sehat.
“Ketika berbicara tentang pesantren, tidak hanya berbicara tentang pendidikan agama. Namun juga berbicara tentang kesehatan, keamanan, lingkungan, perlindungan anak, kualitas sumber daya manusia, dan masa depan Kota Kediri,” ujarnya.
Menurut dia, perhatian terhadap kesehatan pesantren mencakup berbagai aspek, mulai kebersihan kamar dan kamar mandi, pengelolaan sampah, sanitasi, makanan dan air, hingga kebiasaan menjaga kebersihan diri. Persoalan gizi, anemia pada santriwati, kesehatan reproduksi, aktivitas fisik serta kesehatan mental juga perlu menjadi bagian dari pembinaan.
“Konsep pesantren sehat tidak boleh berhenti pada pesantren yang bersih secara fisik. Pesantren sehat adalah pesantren yang mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan fisik sekaligus kesehatan mental dan sosial para santrinya,” terangnya.
Vinanda juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang bebas dari perundungan dan kekerasan. Menurutnya, senioritas maupun kedisiplinan tetap harus ditempatkan dalam koridor pendidikan yang sehat.
“Mendidik tidak harus dengan merendahkan. Mendisiplinkan tidak harus dengan kekerasan. Menegur tidak harus dengan mempermalukan,” tegasnya.
Ia berharap santri memiliki ruang yang aman untuk bertanya, menyampaikan persoalan maupun mencari pertolongan ketika menghadapi masalah. Dengan demikian, pesantren dapat menjadi tempat yang mendukung tumbuh kembang santri, baik secara fisik, mental maupun sosial.
Di Kota Kediri sendiri terdapat 68 pondok pesantren berdasarkan data Kementerian Agama. Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Kesehatan sebelumnya telah melakukan pembinaan terhadap pesantren. Pada 2024, sebanyak 40 pondok pesantren tercatat telah mendapat pembinaan, dengan 35 di antaranya memiliki Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) aktif.
Ke depan, Pemkot Kediri menargetkan seluruh pesantren dapat terfasilitasi Poskestren. Fungsinya tidak hanya untuk memberikan layanan ketika santri sakit, tetapi juga menjadi pusat edukasi, pencegahan serta pembudayaan perilaku hidup sehat.
Penguatan kader kesehatan santri atau santri husada juga dinilai penting agar upaya menjaga kesehatan dapat bergerak dari dalam lingkungan pesantren. “Kita ingin Kota Kediri tidak hanya dikenal sebagai kota dengan banyak pondok pesantren. Tetapi juga dikenal sebagai pusat pendidikan agama yang sehat,” kata Vinanda.
Ia menambahkan, upaya mewujudkan pesantren sehat membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pesantren berperan membangun budaya sehat, sementara pemerintah memberikan dukungan kebijakan, fasilitas dan layanan. Kementerian Agama, organisasi keagamaan, puskesmas serta tenaga kesehatan juga diperlukan untuk memperkuat pembinaan.
“Pesantren bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi menjadi ruang yang aman bagi setiap santri untuk tumbuh dan berkembang. Tujuan besarnya menjadikan Kota Kediri sebagai pusat pendidikan agama yang sehat, aman, nyaman dan berkemajuan,” tandas Vinanda. [van.wwn]



