Kab. Probolinggo, Bhirawa – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih menjadi perhatian meski api secara umum telah berhasil dipadamkan. Satgas terus melakukan pemantauan dan pendinginan untuk mencegah bara di dalam tanah kembali memicu titik api.
Hal tersebut disampaikan Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf. Wahyu Ramadhanus Suryawan saat menerima tim media Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata di Posko Penanganan Karhutla TNBTS, Minggu (16/8/2026).
Wahyu mengatakan, penanganan dilakukan secara terpadu melalui operasi darat dan dukungan water bombing. Medan berupa lereng curam dan kawasan berketinggian menjadi salah satu kendala utama, terutama ketika titik api sulit dijangkau dari bawah maupun udara.
“Kalau wilayahnya datar relatif mudah kita atasi. Kendala utama adalah perengan dan ketinggian. Ketika air dijatuhkan dari atas tidak sampai ke titik api, sementara dari bawah juga sulit menjangkaunya,” ujarnya.
Selain medan, kabut dan angin kencang juga menjadi tantangan dalam proses pemadaman. Angin dapat kembali menghidupkan bara yang tersimpan di lapisan humus maupun tanah.
Berdasarkan pemantauan udara pada Sabtu pagi, masih ditemukan satu titik asap di kawasan berketinggian. Karena itu, personel masih melakukan penyisiran dan pendinginan untuk memastikan bara yang tersisa benar-benar padam.
Untuk wilayah Kabupaten Probolinggo, Wahyu menyebut kondisi sudah padam dan hingga kini tidak terdapat indikasi asap maupun titik api. Namun, pemantauan tetap dilakukan karena bara dapat tersimpan di dalam tanah dan muncul kembali sewaktu-waktu.
Penanganan melibatkan kekuatan gabungan yang saat ini tercatat sekitar 1.168 personel. Jika ditambah relawan dan masyarakat lokal, total kekuatan yang terlibat di empat wilayah sekitar TNBTS diperkirakan mendekati 1.500 orang.
Personel tersebut terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, TNBTS, Perhutani, Damkar, Manggala Agni, relawan dan masyarakat. Mereka ditempatkan sesuai sektor dan tugas masing-masing. “Semua bergerak sesuai sektor dan tugas masing-masing,” kata Wahyu.
Selain personel, Satgas juga membutuhkan penguatan peralatan, terutama untuk operasi darat. Peralatan portable dinilai penting untuk menjangkau lokasi yang sulit dimasuki kendaraan maupun personel dalam jumlah besar.
“Untuk operasi darat kami masih membutuhkan tambahan peralatan portable yang bisa dibawa masuk ke medan sulit. Selama ini dalam kondisi tertentu masih menggunakan peralatan manual seperti gepyok dan penggaruk untuk membuka tanah dan memutus bara,” ungkapnya.
Sementara untuk dukungan udara, operasi water bombing masih dapat dilakukan apabila kembali ditemukan titik api atau asap yang membutuhkan penanganan dari udara.
Terkait pembukaan kembali kawasan wisata, Wahyu menegaskan keselamatan masyarakat dan wisatawan tetap menjadi prioritas. Kawasan yang masih memiliki potensi bara atau titik asap belum dapat direkomendasikan untuk dibuka.
“Kami memahami masyarakat dan pelaku pariwisata berharap kawasan wisata segera dibuka. Tetapi prinsip kami adalah keselamatan dan kredibilitas pemerintah. Jangan sampai kita menyatakan aman, kemudian muncul titik api kembali,” tegasnya.
Pembukaan dapat direkomendasikan apabila hasil pemantauan menunjukkan tidak adanya titik api maupun titik asap dan telah dilakukan kajian menyeluruh oleh pihak terkait.
“Kami berharap pariwisata segera dapat berjalan kembali, tetapi tentunya setelah dilakukan kajian dan dipastikan wilayah tersebut benar-benar aman,” pungkasnya.
Kunjungan tim media Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata kemudian dilanjutkan dengan peninjauan sejumlah titik dan pos pemantauan untuk melihat langsung kondisi kawasan terdampak serta proses penanganan karhutla. [fir.kt]


