28.4 C
Sidoarjo
Wednesday, August 12, 2026
spot_img

Identitas Kebangsaan Setelah 81 Tahun Merdeka

Oleh:
Agung Y. Nugroho
Dosen Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Slamet Riyadi Surakarta
.

Sebelum kita mengeksplorasi realitas yang terjadi, mari kita mulai dengan satu pertanyaan pokok, apa yang terjadi dengan karakter bangsa ini?

Dalam dasawarsa terakhir, masyarakat Indonesia seakan berjalan di atas panggung yang gemerlap namun kehilangan naskah lakon. Kita larut dalam gegap gempita media sosial, tenggelam dalam riuh rendah suara yang saling menghujat, dan mulai kehilangan arah dalam pusaran budaya global. Budaya Indonesia yang dulu dikenal bijak dan arif, kini lebih sering menampilkan sikap impulsif. Masyarakat mulai terdistorsi oleh egosentrisme masing-masing.

Ini bukan sekadar perubahan perilaku ini adalah pertanda perubahan kultur yang lebih dalam. Gencarnya media sosial dan fenomena star syndrome mulai mengubah pola karakter masyarakat Indonesia. Kita bisa menyaksikan sendiri betapa masifnya penggunaan media sosial untuk berekspresi, namun sayangnya ekspresi itu kerap menjelma menjadi saling hujat. Seiring waktu, hal ini menjadi kewajaran mutlak di masyarakat.

Data menunjukkan betapa seriusnya persoalan ini. Populix merilis temuan bahwa 65% anak muda Indonesia merasakan penurunan semangat nasionalisme, dan lebih dari 70% menyebut media sosial sebagai penyebab utamanya . Bahkan dalam studi terpisah, hampir 54% Gen Z mengaku tidak lagi memahami atau menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar statistic ini adalah alarm sosial.

Pertentangan karakter antar generasi pun semakin kuat. Generasi tua memandang generasi muda sebagai pribadi yang kehilangan sopan-santun, sementara generasi muda menganggap generasi tua sebagai penghalang kemajuan dan kebebasan berekspresi.

Berita Terkait :  Wali Kota Eri Cahyadi Ajak Siswa PAUD-SMP untuk Peduli Lingkungan

Ada satu ungkapan Jawa yang begitu dalam maknanya: “Wong Jawa wis ilang jawane, wong wadon ilang wirange, kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange.” Terjemahan bebasnya: orang Jawa kehilangan sifat Jawanya, perempuan-perempuan kehilangan rasa malu, sungai kehilangan pusaranya, pasar kehilangan hiruk-pikuk tawar-menawar. Ungkapan ini menggambarkan betapa manusia Jawa dan secara lebih luas, manusia Indonesia telah kehilangan pegangan pada nilai-nilai luhur yang menjadi warisan leluhur.

Dalam perjalanan sejarah, bangsa Indonesia memang selalu berinteraksi dengan budaya luar. Sejak abad XIV, masuknya agama Islam, kemudian kedatangan bangsa Barat (Belanda) dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya, telah mempercepat proses modernisasi bangsa Indonesia . Namun yang terjadi belakangan ini berbeda. Modernisasi yang berlangsung begitu cepat dan massif terutama melalui digitalisasi telah menciptakan apa yang bisa kita sebut sebagai modernisasi yang nir-identitas.

Seorang filsuf sosial budaya, Sri Aurobindo, menyatakan bahwa tujuan pembangunan ekonomi dan sosial seharusnya adalah kebahagiaan umat manusia lahir dan batin . Dalam konteks ini, pembangunan karakter bangsa bukanlah sekadar persoalan moralitas individual, melainkan fondasi bagi kebahagiaan kolektif. Ketika karakter bangsa tergerus, maka fondasi kebahagiaan itu pun mulai rapuh.

Pemimpin adalah cermin bangsa. Yang kita saksikan akhir-akhir ini adalah kepemimpinan yang tidak lagi menampilkan keteladanan. Gaya bicara yang kasar, sikap yang tidak elegan, dan perilaku yang jauh dari nilai-nilai luhur bangsa menjadi tontonan sehari-hari. Jika pemimpin saja kehilangan adab, bagaimana mungkin rakyatnya akan menjaga kesantunan?

Soedjatmoko mengingatkan agar manusia Indonesia berhati-hati dan waspada terhadap pembangunan ekonomi yang dibawa dari luar (kapitalisme Barat). Indonesia harus membangun bangsanya berdasarkan pandangan hidup dan kebudayaan sendiri. Sayangnya, peringatan ini seperti angin lalu. Kita lebih sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan mengadopsi gaya hidup konsumeristik tanpa mempedulikan dampaknya terhadap karakter dan jati diri bangsa.

Berita Terkait :  Buka PMM FWP, Kadisdik Pamekasan Berharap Guru Dalami Jurnalistik

Isu-isu dunia semacam LGBT, misalnya, dicerna mentah oleh generasi muda melalui konten media sosial yang tanpa filter. Di sisi lain, kaum agamais mempertentangkannya dengan keras, sementara kaum konservatif menghujat habis-habisan. Tidak ada ruang dialog yang sehat, yang ada hanyalah benturan dan polarisasi.

Bahasa dan ekspresi bicarajuga semakin tidak terkendali. Di media sosial, ujaran kebencian, penyebaran berita bohong (hoaks), dan peniruan budaya asing tanpa filter telah menjadi pemandangan sehari-hari. Yang dulu dianggap tabu, kini dianggap biasa. Yang dulu dijaga sebagai kesantunan, kini dianggap ketinggalan zaman.

Pertanyaan besar yang harus kita jawab bersama: Apakah kita menerima semua ini sebagai identitas baru bangsa? Apakah ini hanya transisi menuju bentuk baru? Ataukah ini memang karakter asli bangsa Indonesia yang selama ini tertutup oleh topeng kesopanan?

Mungkin jawabannya lebih kompleks dari sekadar pilihan di atas. Teuku Jacob (2006: 391) menulis bahwa penetrasi unsur-unsur budaya Barat sudah sedemikian merasuk sehingga seolah-olah itulah budaya dan kepribadian kita. Kita telah kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar-benar menjadi identitas kita dan mana yang hanya sekedar adopsi.

Menurut Koentjaraningrat, terdapat lima konsep sistem nilai-budaya yang cocok untuk pembangunan, di antaranya: orientasi ke masa depan, hasrat untuk mengeksplorasi lingkungan alam, penghargaan terhadap karya, dan kemampuan berorientasi ke sesama serta menghargai kerja sama . Kelima nilai inilah yang seharusnya menjadi pegangan kita.

Berita Terkait :  Gandeng DP3AKB Kemenag Bojonegoro Sampaikan Program Pendidikan Ramah Anak

Jacob Oetama menyatakan bahwa hambatan reformasi di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh persoalan politik, hukum, dan ekonomi, tetapi juga karena kurangnya perhatian pada reformasi budaya dalam arti sikap, orientasi nilai-nilai, dan praktis dalam kerja dan karya. Reformasi budaya berarti kita harus berani kembali ke akar-akar kearifan lokal, tanpa harus menolak modernitas. Seperti yang ditulis oleh Adi Ekopriyono, kita membutuhkan apa yang disebutnya sebagai “Jawa kontekstual” (atau dalam konteks nasional: Indonesia kontekstual) Indonesia yang bisa ngeli nanging ora keli (terhanyut namun tidak tenggelam), tidak tercerabut dari akar budaya sendiri, namun tetap mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Di penghujung usia kemerdekaan kita yang ke-81, mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perdebatan dan bertanya kepada diri sendiri:

“Siapa kita sebenarnya?”
Apakah kita masih bangsa yang ramah, santun, dan gotong-royong seperti yang selalu kita klaim? Ataukah kita hanya menyimpan gambaran masa lalu yang semakin pudar di tengah arus globalisasi yang deras? Atau jangan-jangan, kita selama ini hanya bermain sandiwara munafik di hadapan diri sendiri dan dunia?

Mari kita renungkan. Karena di tengah gemerlap dunia digital dan hiruk-pikuk perdebatan identitas, mungkin inilah pertanyaan paling jujur yang pernah kita ajukan kepada bangsa kita sendiri.

——————— *** ——————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!