32.2 C
Sidoarjo
Friday, August 14, 2026
spot_img

Jembatani Rumah dan Ruang Publik, Jembatani Jaringan


Istri Hayati – Istri Hayati dengan tenang menjawab semua pertanyaan wawancara yang dilontarkan dari Bhirawa, ia bercerita seolah mengulang perjalanan yang telah ditempuh sejak kecil di Lamongan. Lahir 1 Februari 1979, perjalanan hidupnya menyisakan satu benang merah, yaitu tanggung jawab sosial yang berakar dari pengalaman organisasi semasa kuliah dan diuji oleh pilihan hidup antara keluarga dan karier.

Kini, benang itu ia anyam menjadi jaringan bisnis yang bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan ruang untuk mengangkat banyak orang.

Setamat dari Teknik Kimia ITS Surabaya pada 2003, Istri langsung melangkah ke dunia industri. “Beberapa bulan setelah lulus saya bekerja di PT Pura Group di Kudus,” kenangnya, Sabtu (18/7/2026).

Ia mulai sebagai staf R&D dan kemudian dipercaya memegang posisi manajerial di QC Pura Box. Dalam enam tahun di sana, pengalaman teknis dan manajemen membentuk kapasitas profesionalnya, kemampuan yang kemudian menjadi modal penting saat ia beralih ke dunia bisnis.

Namun, bukan hanya karier profesional yang membentuknya. Keterlibatan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ITS sebagai Ketua Komisariat menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, visi sosial, dan semangat pengabdian.

“Di HMI itu selalu ditekankan kepada kami sebagai kader akademisi yang memiliki semangat untuk terus mengabdi dan menciptakan sesuatu dimanapun kaki kita berpijak,” katanya.

Nilai-nilai ini ia sebut mendarah daging dan menjadi sumber kegelisahan ketika ia memilih mundur sementara dari ranah publik.

Berita Terkait :  Antisipasi Musim Hujan Kapolres Himbau Agar Waspada dan Siaga

Setelah beberapa tahun berkarir, Istri memutuskan mengurangi aktivitas publik untuk fokus pada keluarga (domestik). Keputusan itu dilandasi keinginan memberi perhatian pada anak dan keseimbangan hidup. Tapi keputusan domestik itu tidak memadamkan sepenuhnya dorongan berkontribusi pada skala lebih luas. “Saya merasa panggilan hidup saya gedor-gedor,” ujarnya.

Perasaan itu menuntun pada pertanyaan besar, bagaimana memenuhi peran sebagai ibu sekaligus tetap merealisasikan panggilan sosial? Jawabannya muncul lewat bisnis network, sebuah medium yang memungkinkan Istri tetap menjaga ruang domestik sambil menjangkau publik.

Pada 2012, setelah tiga tahun vakum dari aktivitas publik, ia kembali memasuki dunia usaha di Batam. Dua tahun kemudian ia pindah ke Serang dan mulai membangun jaringan yang kini meluas hingga Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Bekasi, dan kota-kota lain.

Istri tidak berjalan sendiri. Ia bergabung dengan PT Harmony Dynamic Indonesia (PT HDI), perusahaan jaringan yang berakar dari Singapura sejak 1986 dan hadir di Indonesia sejak 1993.

PT HDI menempuh model bisnis network dengan lebih dari 100 kantor perwakilan di seluruh nusantara. Produk yang ditawarkan berbasis perlebahan, skincare, body care, dan suplemen kesehatan yang menurut Istri bukan hanya komoditas, melainkan medium pemberdayaan. “Kami identik dengan lebah,” ujarnya lantas tersenyum.

Ia menggambarkan kantor pusat mereka di Menteng yang berbentuk seperti sarang lebah. “Karena memang kita identik dengan lebah. 33 tahun di Indonesia. Ini perusahaan besar dan terbuka untuk semua orang,” kata dia menambahkan.

Berita Terkait :  MedSos Harus Jadi Jembatan Akuntabilitas Politik

Simbol lebah menurutnya pas, kerja kolektif, sistem organisasi, dan produk alami yang memberi manfaat luas. Model bisnis ini, kata dia, sangat inklusif, terbuka untuk siapa saja tanpa memandang latar belakang, usia, atau pendidikan.

Syarat bergabung pun sederhana: hanya perlu mengisi link pendaftaran gratis, email, nomor WA, dan nama, lalu peserta dapat mengakses toko online dan mulai beraktivitas secara online atau offline. [aya.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!