Oleh:
Intan Devi Ersita
Mahasiswa S2 Magister Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya
Teknologi media sudah sangat membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia saat ini. Kehadiran smartphone, media sosial, platform pesan instan, hingga video pendek telah membuat komunikasi menjadi lebih cepat, praktis, dan tanpa batas ruang. Contoh saja dalam hitungan detik, seseorang dapat berbicara dengan keluarga di kota lain, berbagi foto, mengirim pesan, atau mengikuti berbagai informasi dari seluruh dunia. Teknologi media jelas menawarkan kemudahan yang luar biasa. Akan tetapi di balik segala kemudahan itu, juga masih ada satu ironi yang semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. manusia semakin terhubung secara digital, tetapi justru semakin renggang secara emosional dengan orang-orang terdekat di rumahnya sendiri.
Contohnya, keluarga, yang seharusnya menjadi ruang pertama untuk membangun komunikasi, kehangatan, dan kedekatan emosional. Banyak rumah tangga hari ini tetap tinggal dalam satu atap, tetapi tidak lagi benar-benar hadir satu sama lain. Malah mereka sibuk dengan layar di tangannya sendiri. Contohnya Ayah tenggelam dalam grup WhatsApp kantor, ibu sibuk melihat konten media sosial atau belanja daring, sedangkan anak-anak larut dalam TikTok, YouTube, gim daring, atau percakapan virtual dengan temannya. Semua berada dalam satu ruang yang sama, tetapi percakapan yang dulu hidup di meja makan, ruang keluarga, atau teras rumah perlahan menghilang.
Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi media tidak hanya mengubah cara masyarakat berkomunikasi di ruang publik, tetapi juga mengubah pola komunikasi interpersonal di dalam keluarga. Dulu komunikasi keluarga dibangun melalui tatap muka, percakapan santai, cerita tentang aktivitas sehari-hari, atau diskusi bersama, kini banyak interaksi bergeser menjadi singkat, fungsional, dan serba cepat. Seperti contohnya saat orang tua cukup bertanya lewat chat, “Sudah makan?” atau “Jangan lupa belajar,” meski sebenarnya berada di rumah yang sama. Anak menjawab seperlunya, lalu kembali menatap layar. Komunikasi tetap terjadi, tetapi kehilangan kedalaman, kehangatan, dan kualitas emosional yang menjadi inti dari relasi keluarga.
Teknologi media juga secara perlahan menggeser sebuah ritme kehidupan. Akan tetapi Teknologi tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena semua kembali dan bergantung pada individu setiap manusia. Teknologi media pada dasarnya adalah hanya alat. Sebenarnya teknologi justru membantu keluarga tetap terhubung, terutama ketika anggota keluarga terpisah jarak karena pekerjaan, pendidikan, atau kondisi tertentu. Panggilan video, grup keluarga, dan pesan instan bisa menjadi sarana menjaga kedekatan. Persoalannya muncul ketika teknologi tidak lagi menjadi alat bantu, melainkan mengambil alih ruang interaksi yang seharusnya dibangun secara langsung. Ketika makan malam bersama lebih banyak diisi dengan menatap layar, ketika ruang keluarga sunyi karena semua sibuk dengan telepon masing-masing, atau ketika curahan hati anak kalah penting dibanding notifikasi media sosial, maka ada yang sedang hilang dari relasi keluarga kita.
Seharusnya di dalam keluarga memiliki peran sendiri untuk dapat lebih memberikan edukasi perihal cara penggunakan Teknologi. Sehingga disetiap keluarga tetap memiliki fungsi untuk penggunaan Teknologi agar tetap menjadi hal yang positif dan keluarga tetap terlihat dan menjadi lebih hangat. [*]


