31.7 C
Sidoarjo
Friday, June 26, 2026
spot_img

PT Pegadaian Persero Menumbuhkan Literasi Investasi bagi Masyarakat

Surabaya, Bhirawa – PT Pegadaian Persero sangat konsen dalam hal literasi investasi di Indonesia. Head of Corporate Communication PT Pegadaian Persero, Riana Rifani menjelaskan pihaknya memiliki beberapa kantor wilayah dengan masing-masing wilayah punya kantor area.

“Kalau misalnya ditanya seberapa luas (area), kami memiliki dua belas kantor wilayah di Indonesia, dengan kantor-kantor area di masing-masing daerah. Jadi ada turunannya lagi, ada area, ada cabang, ada UBC, yang kecil-kecil, yang kayak rumah kecil atau warung, terus ada agen juga. Jadi literasinya kami lakukan masif, di dua belas kantor wilayah,” ujar Fani dalam Pers Conference di Surabaya, Kamis (25/6/2026) sore.

Untuk Jawa Timur sendiri, sambung Fani, berada di peringkat tiga jika dinilai dari segi pertumbuhan nasabah. Menurut Fani, 707.675 nasabah memiliki tabungan emas. “Tapi, masih banyak masyarakat yang menyimpan aset emas di bawah bantal, di tempat garam, di dapur, di kamar mandi, tempat sabun, dan lain-lain,” katanya.

Menurut Fani, fakta ini mengkhawatirkan, karena masih banyak yang menyimpan asetnya di tempat yang keamanannya dipertanyakan. “Itulah tugasnya pegadaian, meliterasi bapak-bapak dan juga ibu-ibu, nenek-nenek di luar sana yang masih menyimpan asetnya dipindahkan ke pegadaian,” ujar dia.

Di balik pernyataan itu, Pegadaian sedang menegaskan satu pesan sederhana, emas bukan sekadar perhiasan atau cadangan saat darurat, melainkan instrumen keuangan yang bisa dikelola dengan lebih aman, lebih rapi, dan lebih produktif.

Di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif, Pegadaian mencoba menggeser kebiasaan lama masyarakat yang selama ini memilih menyimpan emas secara fisik di rumah tanpa perlindungan yang memadai.

Fani menekankan bahwa literasi emas yang dibawa Pegadaian tidak berhenti pada ajakan untuk menabung, tetapi juga menyentuh cara pandang masyarakat terhadap keuangan keluarga. Karena itu, edukasi yang dibangun tidak hanya menyasar kelompok muda, melainkan juga orang tua, pekerja, hingga pelaku usaha kecil yang terbiasa mengelola uang secara harian.

Dalam penjelasannya, Fani mengaitkan pentingnya investasi emas dengan pembagian keuangan rumah tangga yang sehat. Ia mendorong masyarakat agar tidak menghabiskan seluruh pendapatan bulanan untuk konsumsi, tetapi membaginya dalam porsi yang lebih disiplin.

Skema sederhana itu, menurutnya, bisa menjadi pintu masuk menuju kemandirian finansial yang lebih kuat di masa depan. “Tujuannya untuk apa? Untuk financial freedom atau kebebasan finansial,” ujar Fani.

Berita Terkait :  HUT Ke-80 RI, KAI Daop 7 Madiun Gelar Sosialisasi Keselamatan Perjalanan KA

Ia menambahkan, kebiasaan menabung dan berinvestasi sejak dini penting agar masyarakat tidak mudah terjebak utang konsumtif, termasuk pinjaman online yang kerap menjadi masalah baru di rumah tangga dan pekerja muda.

Bagi Pegadaian, emas masih menempati posisi istimewa karena dianggap sebagai aset safe haven. Dalam paparan yang disampaikan, emas dinilai tetap menarik di tengah kenaikan BI rate, pelemahan rupiah, serta kondisi global yang tidak menentu. Justru dalam situasi seperti itulah, minat masyarakat terhadap emas cenderung meningkat karena dianggap lebih tahan terhadap gejolak.

Fani menjelaskan bahwa masyarakat tidak harus selalu menunggu kondisi ideal untuk mulai berinvestasi. Menurutnya, emas bisa dibeli sedikit demi sedikit, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tanpa harus menunggu modal besar. Pendekatan ini, kata dia, jauh lebih realistis bagi masyarakat yang baru mulai belajar menyusun portofolio aset.

Ia juga menyinggung perubahan perilaku generasi muda yang kini semakin terbuka pada investasi digital. Menurut Pegadaian, fenomena ini terlihat dari makin banyaknya transaksi emas melalui aplikasi Tring! by Pegadaian. Di sisi lain, gaya hidup generasi muda yang cepat menyerap tren juga membuat edukasi investasi harus disampaikan dengan cara yang lebih ringan dan relevan. “Kalau dibilang FOMO, iya, tidak kita pungkiri,” kata Fani.

Namun, menurutnya, kondisi itu tidak selalu buruk karena pada akhirnya mendorong anak muda mengenal instrumen investasi. Dari situ, Pegadaian melihat adanya peluang untuk mengarahkan kebiasaan impulsif menjadi kebiasaan finansial yang lebih sehat.

Salah satu pintu utama literasi yang kini didorong Pegadaian adalah Tring! by Pegadaian. Melalui aplikasi ini, masyarakat bisa membeli, menjual, mentransfer, hingga menggadaikan emas secara digital. Fani menyebut fitur tersebut sebagai bentuk penyederhanaan akses agar masyarakat tidak perlu selalu datang langsung ke kantor cabang.

Dalam paparan transkrip, Fani menjelaskan bahwa melalui Tring, emas dapat ditransfer layaknya saldo digital, termasuk untuk kebutuhan sederhana seperti memberi THR kepada keluarga. Emas juga bisa dicetak fisik melalui fasilitas tertentu, sehingga tabungan digital tetap memiliki opsi kepemilikan fisik saat dibutuhkan.

Pegadaian juga menekankan pentingnya menjadikan emas sebagai dana darurat karena sifatnya yang likuid. Artinya, emas bisa dicairkan kapan saja sesuai kebutuhan, tanpa harus menunggu jangka waktu yang panjang seperti beberapa instrumen lain.

Berita Terkait :  Tekan Pencemaran Kali Surabaya, Tim Patroli Air Jatim Gandeng Pelaku Usaha dan Industri

Di titik ini, emas diposisikan bukan hanya sebagai aset simpanan, melainkan sebagai instrumen fleksibel yang bisa membantu menghadapi kebutuhan mendadak.

Selain itu, Pegadaian terus memperluas pemahaman masyarakat mengenai fitur-fitur yang ada di Tring. Dari nabung emas, cicil emas, transaksi jual-beli, hingga deposito emas, semuanya diarahkan untuk menciptakan ekosistem emas yang lebih mudah diakses lintas generasi. Dalam komunikasi perusahaan, pendekatan ini menjadi penting karena masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya mengenal layanan digital Pegadaian.

Pegadaian juga menunjukkan bahwa literasi yang dilakukan tidak hanya berhenti pada ajakan, tetapi tercermin pada pertumbuhan bisnis emas yang terus menguat.

Dalam paparan yang disampaikan Fani, transaksi Tring pada akhir Juni 2026 mencapai Rp25,9 miliar, naik dari Rp22,8 miliar pada Mei 2026. Sementara itu, tabungan emas Pegadaian Digital telah terakumulasi setara 20 ton emas dengan valuasi sekitar Rp52 triliun.

Pertumbuhan nasabah juga menunjukkan arah yang positif, terutama dari kalangan generasi muda. Fani menyebut nasabah milenial tumbuh 71 persen, sedangkan nasabah Gen Z tumbuh 193 persen secara year on year. Angka ini memperlihatkan bahwa produk emas digital Pegadaian mulai diterima sebagai instrumen yang relevan bagi kelompok usia produktif.

Pegadaian juga mencatat total kelolaan emas hingga Mei 2026 mencapai 153 ton. Sementara outstanding cicil emas mencapai Rp14,3 triliun dan tumbuh 269 persen secara year on year. Data tersebut memperkuat narasi bahwa emas masih menjadi produk inti Pegadaian, baik dari sisi simpanan, cicilan, maupun layanan pembiayaan berbasis emas.

Dari sisi kinerja perusahaan, laba bersih Pegadaian per Mei 2026 disebut naik menjadi Rp5,51 triliun dari Rp4,38 triliun pada April 2026. Outstanding loan juga meningkat dari Rp153,6 triliun menjadi Rp155,8 triliun, sedangkan aset naik dari Rp183,8 triliun menjadi Rp186,68 triliun. Meski belum seluruh angka diumumkan karena masih menunggu audit, tren pertumbuhan itu menunjukkan bisnis emas Pegadaian tetap ekspansif.

Di tengah pertumbuhan yang agresif, Pegadaian juga berupaya menjaga kualitas pembiayaan agar tetap sehat. Fani menjelaskan bahwa perusahaan menyiapkan cadangan kerugian penurunan nilai atau CKPN untuk mengantisipasi risiko. Selain itu, Pegadaian juga menjalin kerja sama permodalan dengan perbankan, termasuk BRI sebagai holding, agar likuiditas tetap terjaga ketika terjadi lonjakan buyback.

Untuk menjaga kualitas pembiayaan, Pegadaian menerapkan pendekatan persuasif kepada nasabah yang mengalami kendala pembayaran. Tim operasional akan melakukan verifikasi lebih dahulu melalui WhatsApp, telepon, hingga kunjungan langsung ke alamat nasabah. Langkah ini dilakukan sebelum aset dilelang, agar hak dan kewajiban nasabah tetap dipastikan secara jelas.

Berita Terkait :  PT PGN Tbk Percepat Penguatan Infrastruktur Gas, Arief Handoko: Jawab Tantangan Distribusi dan Akses Energi Nasional

Fani juga menegaskan bahwa proses lelang tidak dilakukan secara sepihak. Menurutnya, Pegadaian sudah melalui tahapan komunikasi dan verifikasi, termasuk berupaya menghubungi nasabah yang alamat atau nomornya tidak lagi aktif. Dalam praktik di lapangan, banyak persoalan muncul karena data nasabah tidak diperbarui ketika pindah rumah atau mengganti nomor telepon.

Untuk keamanan dana dan emas yang tersimpan, Pegadaian berada di bawah pengawasan OJK dan bekerja sama dengan BPT. Dengan begitu, perusahaan menegaskan bahwa emas yang dititipkan masyarakat memiliki perlindungan dan pengawasan yang jelas. Skema ini menjadi bagian penting untuk menjawab keraguan masyarakat yang selama ini lebih terbiasa menyimpan emas sendiri di rumah.

Pegadaian juga mengarahkan strategi literasinya pada generasi muda, terutama Gen Z dan milenial. Selain lewat aplikasi, perusahaan melakukan edukasi melalui konser musik, booth interaktif, aktivitas promosi di ruang publik, hingga kerja sama dengan universitas. Pendekatan ini dipilih karena generasi muda lebih mudah dijangkau lewat pengalaman langsung ketimbang ceramah formal.

Fani mengatakan Pegadaian punya target agar pertumbuhan nasabah Gen Z terus melaju, bahkan di atas 200 persen. Sementara untuk Gen Alpha, perusahaan mulai melakukan pemetaan awal meski pertumbuhannya masih stagnan. Dalam pandangan Pegadaian, membangun kebiasaan investasi sejak dini sangat penting agar generasi berikutnya lebih siap menghadapi perubahan ekonomi.

Di sisi lain, Pegadaian juga membuka peluang pembukaan tabungan emas QQ, yaitu rekening emas yang terintegrasi untuk anak melalui akun orang tua. Skema ini memberi ruang bagi keluarga untuk memulai investasi atas nama anak sejak lebih awal, meski perusahaan belum menetapkan target pertumbuhan spesifik untuk produk tersebut.

Pada akhirnya, literasi investasi yang dibangun Pegadaian bukan hanya soal menjual produk, melainkan mengubah kebiasaan finansial masyarakat. Dari emas yang disimpan di bawah bantal, Pegadaian mendorong emas berpindah ke sistem yang lebih aman, terukur, dan mudah diakses. Di tengah ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, pesan itu terasa sederhana, tetapi justru di sanalah letak kekuatannya. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!