Bhirawa Surabaya – Jawa Timur saat ini mengusung visi strategis sebagai gerbang baru Nusantara. Hal ini tidak terlepas dari kekuatan Jawa Timur yang memiliki 37 pelabuhan, 7 bandara, 12 ruas jalan tol, dan merupakan center of gravity serta menempati posisi penting bagi lalu lintas distribusi barang.
“Lalu lintas distribusi itu baik antar provinsi maupun dari dan ke luar negeri. Pelabuhan Tanjung Perak melayani 24 rute dari 41 rute tol laut, sehingga hampir 80 persen logistik dari dan ke 19 provinsi di Indonesia disuplai dari Jawa Timur,” cetus Kepala Disperindag Provinsi Jawa Timur, Dr. Iwan, S.Hut., M.M., dalam acara sosialisasi Permendag No. 11 Tahun 2026 yang diadakan di Hotel Movenpick Jalan Ahmad Yani Surabaya, Kamis (11/6/2026).
Provinsi Jawa Timur juga mendukung program hilirisasi nasional dengan adanya 13 kawasan industri, 2 kawasan ekonomi khusus, dan 1 kawasan industri halal, menjadikan Jawa Timur sebagai pusat hilirisasi industri bagi bahan mentah hasil pertanian, peternakan, kehutanan maupun pertambangan, khususnya yang berasal dari Indonesia bagian timur.
“Saat ini kita dihadapkan pada kondisi geopolitik dunia yang tidak menentu, seperti rivalitas antar negara, proteksi tarif, perang Ukraina dan Rusia dan Timur Tengah, krisis iklim dan keamanan siber,” ungkap Iwan.
Pelemahan rupiah dan kenaikan harga bahan bakar yang terjadi saat ini juga menjadi cobaan tersendiri bagi dunia industri yang menggunakan bahan impor dalam proses produksinya. Kondisi tersebut tentunya turut mempengaruhi kondisi perdagangan luar negeri dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya Jawa Timur ke depan.
Pada awal Mei kemarin, BPS merilis angka kinerja perekonomian triwulan I 2026. Pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sebesar 5,61 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur pada TW I – 2026 ini mencapai 5,96 persen.
“Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. PDRB Jawa Timur pada TW I – 2026 mencapai angka 888,44 triliun rupiah dan memberikan kontribusi sebesar 14,40 persen pada PDB nasional,” urainya lagi.
Salah satu faktor penting yang harus dijaga agar tetap stabil dan bertumbuh adalah kinerja perdagangan luar negeri. Nilai ekspor Jawa Timur pada bulan Januari–April mencapai USD 8,52 miliar, dengan komoditi utama meliputi tembaga/katoda, perhiasan/permata, lemak & minyak hewani/nabati, dan lain sebagainya. Sebesar 94,32 persen dari total ekspor Jawa Timur didominasi oleh produk industri pengolahan.
Sementara itu, nilai impor Jawa Timur pada bulan Januari–April 2026 mencapai USD 10,39 miliar. Sebanyak 79,4 persen dari total impor tersebut merupakan bahan baku dan bahan penolong bagi industri pengolahan, yang mendukung industri manufaktur dalam negeri.
Dalam rangka promosi dan peningkatan daya saing produk lokal, Jawa Timur menggelar misi dagang, baik misi dagang antar provinsi maupun misi dagang luar negeri. Sejak tahun 2019 hingga April 2026, misi dagang antar provinsi telah dilakukan sebanyak 52 kali di 29 provinsi, dan menghasilkan total komitmen transaksi senilai 40,21 triliun rupiah.
Sedangkan misi dagang luar negeri yang dilaksanakan sejak tahun 2022 hingga bulan April 2026 dilaksanakan sebanyak 7 kali pada 6 negara, dan mencapai nilai komitmen transaksi total sebesar 21,14 triliun rupiah.
Dalam kondisi saat ini, sinergi yang erat antara pemerintah dan pelaku usaha serta asosiasi menjadi prioritas penting. Pemerintah daerah membutuhkan saran, masukan dan update kondisi terkini dari para pelaku usaha, agar dapat dijadikan bahan rekomendasi bagi pemerintah pusat.
“Kami berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga agar situasi tetap kondusif, tidak ada penumpukan bahan baku maupun barang kebutuhan pokok secara masif, menjaga inflasi daerah dan meminimalisir potensi PHK,” pungkas Iwan.
Perlu diketahui, acara ini juga dihadiri oleh Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana; Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan, Moga Simatupang; Kepala Kanwil DJBC Jawa Timur I, Rusman Hadi; Ketua Umum BPP GINSI, Capt. Subandi; Ketua BPD GINSI Jawa Timur, Hana Belladina; dan Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jawa Timur. [aya.kt]


