29.4 C
Sidoarjo
Monday, May 4, 2026
spot_img

Menyelamatkan Masa Kecil dari Candu Dunia Maya

Belakangan ini, pemandangan anak-anak usia sekolah dasar yang mahir mengoperasikan platform seperti TikTok, Instagram, hingga X (sebelumnya Twitter) sudah menjadi hal yang lumrah. Namun, di balik kelincahan jemari mereka menyapu layar, tersimpan risiko besar yang sering kali luput dari pengawasan orang tua dan pembuat kebijakan. Saya merasa perlu menyuarakan urgensi mengenai pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur.

Secara regulasi, mayoritas platform media sosial menetapkan batas usia minimal 13 tahun. Namun, kenyataannya batasan ini sangat mudah dikelabui hanya dengan memalsukan tahun kelahiran saat mendaftar. Dampaknya nyata: anak-anak terpapar pada konten yang belum sesuai dengan kematangan emosional mereka, mulai dari perundungan siber (cyberbullying), tantangan berbahaya (online challenges), hingga risiko predator seksual yang mengintai di balik akun anonim.

Selain masalah keamanan, aspek kesehatan mental adalah hal yang paling mengkhawatirkan. Algoritma media sosial dirancang untuk memicu dopamin secara terus-menerus, yang bagi orang dewasa saja sulit dikendalikan, apalagi bagi anak-anak yang bagian otaknya (prefrontal cortex) belum berkembang sempurna untuk mengelola impuls. Akibatnya, anak menjadi mudah cemas, mengalami gangguan tidur, dan kehilangan kemampuan fokus pada pelajaran di sekolah karena terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat melalui standar kecantikan atau gaya hidup yang ditampilkan para pemengaruh (influencer).

Pembatasan ini bukan berarti kita anti-teknologi. Namun, kita perlu menempatkan teknologi sesuai porsinya. Anak-anak lebih membutuhkan interaksi fisik, bermain di alam, dan bersosialisasi secara langsung untuk membangun empati serta kecerdasan emosional. Media sosial, dengan segala hingar-bingarnya, justru sering kali menciptakan isolasi sosial di dunia nyata.

Berita Terkait :  Bupati Sampang Komitmen Daerahnya Bersih Narkoba

Melalui surat ini, saya mengajak para orang tua untuk lebih tegas dalam menerapkan screen time dan tidak terburu-buru memberikan akses penuh media sosial kepada anak hanya karena alasan “takut ketinggalan zaman.” Pemerintah dan penyedia platform juga harus bekerja sama menciptakan sistem verifikasi usia yang lebih ketat, bukan sekadar formalitas centang kotak.

Mari kita kembalikan masa kecil mereka ke dunia nyata, sebelum algoritma merenggut kemurnian masa tumbuh kembang mereka.

Rahmad Budionon
Gebang Putih, Sukolilo Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!