25 C
Sidoarjo
Wednesday, April 22, 2026
spot_img

Ironi Hari Kartini, Banyak Perempuan Masih Bertaruh Nyawa di Jalur Estafet Ketelantaran


Oleh:
Rachmat CBS, Kota Surabaya

Peringatan Hari Kartini 2026 di Jawa Timur menyisakan catatan kritis bagi perlindungan kaum hawa. Di saat publik bicara soal kesetaraan di ruang perkantoran, Dinas Sosial (Dinsos) Jatim tengah sibuk menyelamatkan delapan perempuan yang nyaris kehilangan masa depan di jalanan.

Selasa (21/4/2026), menjadi hari yang sibuk bagi petugas evakuasi. Delapan perempuan-termasuk anak-anak dan seorang bayi merah yang tercatat sebagai Orang Telantar (OT). Mereka adalah wajah lain dari “perjuangan perempuan” era modern: berjuang lolos dari jeratan calo dan perdagangan manusia.

Delapan OT yang berhasil ditangani Dsinas Sosial Jawa Timur ini merupakan bagian dari penggunaan sistem digital terbaru untuk menampung dan mengkoordinasikan penanganan orang -rang terlantas.

Kepala Dinsos Jatim, Dra. Restu Novi Widiani MM, tak menampik bahwa perempuan masih menjadi kelompok paling rentan dalam mobilitas sosial. Untuk itu, pihaknya meluncurkan inovasi Sahabat Pulang. Sebuah sistem yang menggabungkan kecanggihan teknologi Face Recognition dengan pendekatan psikososial yang hangat.

“Kami tidak ingin sekadar memulangkan. Lewat Sahabat Pulang, kami memastikan identitas mereka akurat melalui sistem digital terintegrasi, sehingga pemantauan bisa terus dilakukan agar mereka tidak kembali jatuh ke lubang yang sama,” tegas Novi.

Sementara data di lapangan menunjukkan pola kerentanan yang beragam. Ada SN (32), eks buruh sawit yang hartanya dikuras calo pelabuhan hingga menyisakan tangis. Ada pula WR (37), yang berangkat dengan harapan menjadi penjual es, namun justru berakhir di bilik-bilik prostitusi akibat ulah mucikari.

Berita Terkait :  Pemerintah Kota Batu Gencarkan 3M Plus Kendalikan DBD

Bahkan, ada potret kepolosan sekaligus kepiluan dari HY (40). Ia menghabiskan uang bantuan modal dari pemerintah hanya untuk membelikan anaknya nasi goreng seafood di restoran mahal.

Sebuah tindakan yang mungkin dianggap tidak logis, namun bagi perempuan yang terusir dari kemiskinan, itu adalah upaya sesaat untuk merasa berdaya sebagai seorang ibu.

Melalui aplikasi Simlontar dan layanan Jatim Social Care (JSC), Dinsos Jatim kini menerapkan sistem pemulangan estafet. Artinya, setiap perempuan yang dipulangkan akan dikawal secara daring dan luring melalui koordinasi antar-Dinsos di seluruh Indonesia.

Bagi Dinsos Jatim, memaknai semangat R.A. Kartini di masa kini berarti memastikan tidak ada lagi perempuan yang terlantar tanpa perlindungan. “Inovasi ini adalah langkah strategis untuk menjawab persoalan klasik. Kita ingin mereka pulang untuk pulih, bukan untuk kembali ke jalanan,” tutup Novi.

Malam itu, di saat lampu-lampu kota merayakan Hari Kartini dengan kemeriahan, delapan perempuan tersebut mulai bergerak menjauh dari Surabaya. Bukan dengan kebaya, melainkan dengan harapan baru yang dititipkan melalui tangan para pekerja sosial. [rac.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!