25 C
Sidoarjo
Sunday, April 26, 2026
spot_img

Semarak Sanggring ke-501, Warga Gumeno Lestarikan Tradisi Kolak Ayam

Tokoh masyarakat dan pejabat daerah menghadiri acara “Semarak Sanggring” dalam peringatan 501 tahun tradisi Sanggring di Masjid Jami’, Gresik.

Gresik, Bhirawa

Masyarakat Desa Gumeno kembali menggelar acara tradisi tahunan mereka yakni “Semarak Sanggring” yang ke-501 pada hari Kamis (12/3) sore atau bertepatan dengan malam 23 Ramadan. Kegiatan yang digelar di halaman Masjid Jami’ Sunan Dalem Desa Gumeno ini berlangsung meriah dan dihadiri oleh banyak warga yang berasal dari berbagai daerah.

Acara ini diselenggarakan oleh para takmir masjid bersama masyarakat Desa Gumeno sebagai bentuk dari pelestarian tradisi warisan dari Sunan Dalem, putra dari Sunan Giri. Tradisi Sanggring ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi salah satu kekayaan budaya yang masih terjaga hingga saat ini.

Tradisi pembagian Sanggring atau kolak ayam ini menjadi bagian utama dalam perayaan tahunan yang digelar oleh masyarakat Desa Gumeno setiap malam 23 Ramadan. Kuliner tradisional tersebut juga memiliki nilai historis sekaligus spiritual karena berkaitan dengan kisah Sunan Dalem pada masa lalu.

Ketua Panitia Sanggring, Didik Wahyudi, menjelaskan bahwa tradisi ini bermula dari kisah ketika Sunan Dalem mengalami sakit yang tak kunjung sembuh. Saat itu beliau kemudian mengkonsumsi hidangan kolak ayam dan berangsur sembuh. Sejak peristiwa tersebut, masyarakat Desa Gumeno terus melaksanakan tradisi pembuatan dan pembagian kolak ayam setiap tahunnya. 

Berita Terkait :  Mayoritas Pemdes Sampang Telah Laporkan Realisasi DD Tahap 1

“Ini merupakan warisan dari leluhur kita, yaitu Kanjeng Sunan Dalem. Pada waktu itu beliau jatuh sakit, lalu setelah makan makanan yang sekarang dikenal sebagai kolak ayam, alhamdulillah beliau sembuh. Sejak saat itu masyarakat desa melaksanakan tradisi ini setiap tahun,” ujarnya.

Pada peringatan ke-501 tahun ini, panitia menyiapkan sekitar 3.000 porsi kolak ayam untuk dibagikan kepada masyarakat dan para pengunjung yang hadir. Jumlah tersebut hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, meskipun pada peringatan ke-500, panitia menyiapkan 3.500 porsi untuk memperingati 500 tahun tradisi tersebut.

Didik menyebutkan bahwa persiapan acara ini membutuhkan waktu yang cukup panjang. Panitia bahkan telah memulai persiapan sekitar satu bulan sebelum Ramadan untuk memastikan ketersediaan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam jumlah besar.

“Persiapannya sekitar satu bulan. Sebelum puasa kita sudah mulai memesan bahan-bahan. Karena bahan yang dipakai cukup banyak dan spesial, seperti gula misalnya, tahun ini kita pesan sekitar 650 kilogram,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu panitia sekaligus takmir masjid, Su’udi, mengatakan bahwa proses memasak kolak ayam memiliki aturan khusus yang tetap dijaga hingga saat ini, salah satunya adalah proses memasak yang hanya boleh dilakukan oleh laki-laki warga Desa Gumeno.

“Yang memasak harus laki-laki, tidak boleh perempuan. Selain itu juga diutamakan warga Desa Gumeno. Itu sudah menjadi tradisi sejak dulu dan sampai sekarang tetap kita jaga,” jelas Su’udi.

Berita Terkait :  Kepala Dinsos Jatim Tekankan Disiplin dan Integritas PPPK Paruh Waktu

Proses memasak kolak ayam sendiri dimulai sejak malam 22 Ramadan dengan berbagai tahapan termasuk penyembelihan ayam dan pengolahan bahan hingga menjadi hidangan kolak ayam yang siap untuk dibagikan kepada masyarakat pada malam puncak acara.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang, baik dari warga Desa Gumeno sendiri maupun dari desa-desa atau daerah-daerah lain. Salah satu pengunjung, Putri Sofya Rahmawati, mengaku bahwa ia baru pertama kali datang langsung ke acara ini karena penasaran dengan tradisi Sanggring atau kolak ayam yang telah lama ia dengar.

“Katanya kolak ayam ini selain tradisi turun-temurun juga dipercaya baik untuk kesehatan, seperti obat atau ‘tombo’. Jadi saya penasaran ingin datang langsung melihat acaranya,” ungkapnya.

Menurutnya, tradisi seperti ini sangat penting untuk terus dilestarikan karena tradisi ini tidak hanya untuk menjaga budaya, tetapi juga untuk menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antar warga.

Perayaan Semarak Sanggring ke-501 ini juga turut dihadiri oleh Wakil Bupati Gresik serta para tetua Desa Gumeno. Kehadiran para tokoh masyarakat dan pejabat daerah tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap upaya masyarakat dalam menjaga warisan budaya yang telah berlangsung lebih dari lima abad.

Tradisi Sanggring atau kolak ayam yang berasal dari Desa Gumeno ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Penetapan tersebut menjadi pengakuan atas nilai sejarah, budaya, serta nilai religius yang terkandung dalam tradisi yang diwariskan sejak masa Sunan Dalem.

Berita Terkait :  Kembangkan Tiga Komoditas Unggulan untuk Tekan Angka Kemiskinan

Melali perayaan ini, masyarakat Desa Gumeno berharap tradisi Sanggring dapat terus bertahan dan semakin dikenal luas sebagai bagian dari warisan budaya tak benda yang dimiliki Kabupaten Gresik. Tradisi yang telah berusia lebih dari lima abad ini menjadi bukti kuatnya nilai sejarah, spiritualitas, serta kebersamaan yang masih hidup di tengah masyarakat hingga saat ini. MG7.wwn

Penulis: Niken Ayu Dwi Agustin

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!