Prof Dr Zudan Arif Fakrulloh
Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN)-RI, Prof Dr Zudan Arif Fakrulloh, berkunjung ke Situbondo, dengan sederet agenda penting. Prof Zudan kepada sejumlah wartawan menjelaskan bahwa penerapan manajemen talenta menjadi instrumen vital, dalam menciptakan birokrasi yang lebih tepat, cepat, dan akurat.
Kata Prof Zudan, sistem ini diklaim mampu memangkas biaya operasional rekrutmen jabatan, sekaligus menghilangkan budaya subjektivitas dalam pengangkatan pejabat.
“Manajemen talenta adalah instrumen agar kepala daerah dan menteri bisa mencari kader terbaik untuk mewujudkan visi-misi mereka. Kita melakukan percepatan agar pemilihan pejabat dilakukan secara efisien,” ujar Prof Zudan, saat menjadi pemateri sarasehan manajemen talenta di pendopo rakyat Situbondo.
Prof Zudan menjelaskan bahwa Indonesia telah memulai langkah ini melalui KASN sejak 2016, dan mulai tahun 2025, estafet tersebut dilanjutkan sepenuhnya oleh BKN.
“Ya, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, BKN berhasil melakukan akselerasi ke 163 lembaga, melonjak tajam dibandingkan delapan tahun sebelumnya yang hanya mencakup 42 lembaga,” beber dia.
Kekuatan utama sistem ini, sambung Prof Zudan, terletak pada transparansi posisi pegawai dalam sistem penilaian. Pegawai dikategorikan ke dalam kotak-kotak (box) berdasarkan kinerja dan potensi.
“Pejabat yang akan diangkat itu transparan. Kalau dia ada di ‘box 5’, BKN akan menolak pengangkatannya. Kita tegur dan arahkan agar memilih yang berada di ‘box 7, 8’, atau diutamakan yang di ‘box 9’. Jadi, tidak ada lagi istilah like and dislike karena semua terlihat di sistem,” tegasnya.
Prof Zudan kembali menegaskan, salah satu dampak paling signifikan dari manajemen talenta adalah ditiadakannya proses lelang jabatan terbuka (open bidding) yang selama ini memakan waktu dan biaya besar.
“Tidak perlu open bidding lagi. Jika ada jabatan kosong, misalnya Kepala Kesbangpol, bupati atau wali kota tinggal melihat kader terbaik di ‘box 9’ melalui komite talenta. Tinggal diwawancarai untuk melihat kesesuaian target kinerjanya,” tambahnya.
Selain manajemen talenta, Prof Zudan juga menyinggung kebijakan Work From Home (WFH) atau Work From Anywhere (WFA) yang kini mulai diterapkan di berbagai instansi. Kebijakan ini disebut sebagai langkah bijaksana di tengah isu krisis energi global. [awi.gat]


