27 C
Sidoarjo
Wednesday, April 8, 2026
spot_img

Gencatan Senjata Iran-AS: Napas Lega Sementara, Bukan Solusi Akhir

Kabar mengenai tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran-tepat sebelum tenggat waktu ultimatum yang dikeluarkan Presiden Donald Trump-adalah angin segar yang sangat dinantikan oleh dunia.

Setelah lebih dari sebulan ketegangan yang memuncak menjadi serangan militer langsung-termasuk jatuhnya korban jiwa dan kehancuran infrastruktur-keputusan untuk menghentikan tembakan, setidaknya untuk sementara, adalah langkah taktis yang rasional.

Namun, kita tidak boleh terjebak dalam euforia semu. Gencatan senjata ini, yang ditandai dengan kesediaan Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, lebih mencerminkan “diplomasi panik” atau kebutuhan taktis daripada sebuah iktikad damai yang mendalam.

Konflik yang melibatkan serangan udara ke Teheran dan pembalasan drone ke aset-aset AS di Timur Tengah telah menunjukkan seberapa rapuhnya stabilitas global.

Bagi saya, gencatan senjata sementara ini hanyalah jeda untuk menyusun ulang strategi.

Mengingat jurang perbedaan yang begitu dalam antara kedua belah pihak, tantangan sebenarnya terletak pada perundingan lanjutan yang direncanakan di Islamabad. Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan menerima kesepakatan jangka pendek yang hanya menguntungkan AS, dan menuntut akhir perang secara permanen serta pencabutan sanksi.

Kita perlu mengapresiasi upaya mediator internasional yang bekerja keras menahan laju eskalasi, terutama mengingat risiko ekonomi global akibat blokade Selat Hormuz yang berdampak pada 20 persen minyak dunia. Tapi, ke depan, dunia memerlukan penyelesaian komprehensif, bukan sekadar “pendinginan” selama dua minggu.

Berita Terkait :  Disnaker Situbondo Bakal Gelar Job Fair dan Expo Ketenagakerjaan

Pihak-pihak yang bertikai-terutama AS yang didorong oleh manuver “America First” dan Iran dengan pertahanan kedaulatannya-harus mengutamakan keselamatan warga sipil di atas ego politik. Jika perundingan di Islamabad gagal menjembatani gap ini, dunia berisiko kembali melihat eskalasi yang jauh lebih merusak. Gencatan senjata ini adalah peluang, namun perdamaian sejati masih jauh di ufuk timur.

Dewi Andriana
Warga Karangpilang Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!