Brussel, Bhirawa
Prospek industri zona euro semakin tidak pasti karena produksi yang menurun pada Januari 2026 dan lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah mengancam menggagalkan pemulihan sektor manufaktur zona euro yang rapuh, demikian menurut analisis ING, lembaga keuangan multinasional yang berbasis di Belanda, pada Jumat (13/3).
Produksi industri zona euro turun 1,5 persen secara bulanan (month-to-month) pada Januari, setelah sebelumnya merosot 0,6 persen pada Desember. Angka Januari itu menjadi tingkat output industri terendah sejak Desember 2024, yang menunjukkan bahwa optimisme terbaru di kalangan produsen belum tercermin dalam data produksi aktual, ungkap analisis tersebut.
Penurunan tajam produksi industri di Irlandia memberikan kontribusi signifikan terhadap kemerosotan di bulan Januari. Namun perlambatan tidak hanya terjadi di Irlandia. Jerman, Italia, dan Spanyol juga melaporkan produksi yang lebih rendah dibandingkan dengan Desember, kata analisis tersebut.
Meskipun aktivitas industri pada sebagian besar tahun lalu masih berada di atas level 2024, data terbaru menunjukkan bahwa sektor ini sedang kehilangan momentum.
Kepala ekonom ING, Bert Colijn, memperingatkan bahwa lonjakan harga energi berkepanjangan dapat merusak prospek pemulihan industri padat energi, yang sudah kesulitan sejak guncangan harga energi pada 2021-2022.
Colijn mengatakan bahwa meskipun beberapa sektor masih mampu bertahan relatif baik di tengah guncangan energi sebelumnya, biaya energi yang makin tinggi tetap berpotensi menekan sektor manufaktur dan mengecilkan harapan pemulihan yang lebih luas.
Ketika kepercayaan mulai kembali ke sektor manufaktur, ketegangan geopolitik kembali memunculkan risiko penurunan signifikan terhadap prospek industri zona euro, imbuhnya. [ant.kt]


