Pasuruan, Bhirawa
Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Pasuruan terus memutar otak untuk memperluas jangkauan pengawasan Pemilu di era digital. Tak sekadar sosialisasi tatap muka, lembaga pengawas tersebut resmi meluncurkan Massive Open Online Course (MOOC) Literasi Demokrasi di Ruang PPID Bawaslu Kota Pasuruan.
Inovasi tersebut menjadi jawaban atas tantangan literasi digital yang kian kompleks. MOOC Literasi Demokrasi dirancang sebagai platform edukasi berbasis digital yang bisa diakses siapa saja, kapan saja dan secara cuma-cuma atau gratis.
Fokusnya yakni membedah mekanisme pengawasan, pencegahan pelanggaran hingga seluk-beluk penanganan sengketa Pemilu. Ketua Bawaslu Kota Pasuruan, Vita Suci Rahayu, menyampaikan digitalisasi pendidikan demokrasi sudah menjadi kebutuhan mendesak. Apalagi, arus informasi saat ini mengalir sangat deras dan cepat.
“Melalui MOOC ini, kami ingin membangun kesadaran kritis masyarakat, terutama generasi muda sebagai agent of change. Mereka harus paham dan terlibat aktif dalam pengawasan partisipatif,” ujar Vita Suci Rahayu, Selasa (23/4).
Langkah Bawaslu itu langsung membidik simpul-simpul strategis di kampus. Dalam peluncurannya, sejumlah perwakilan organisasi mahasiswa tampak hadir. Mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas PGRI Wiranegara (Uniwara), BEM Universitas Merdeka (Unmer) hingga berbagai organisasi ekstra kampus lainnya.
Tak sekadar seremoni gunting pita, para aktivis mahasiswa ini langsung dijejali uji coba platform. Di dalamnya, tersedia materi interaktif mulai dari video pembelajaran, bedah studi kasus hingga tugas simulasi. Yang menarik adalah pengguna juga bisa mensimulasikan permohonan informasi publik melalui PPID serta tata cara pelaporan pelanggaran.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya jadi penonton. Dengan platform ini, mereka punya bekal literasi yang kuat untuk menularkannya ke lingkungan kampus secara berjenjang,” jelas Vita Suci Rahayu. [hil.dre]


