29 C
Sidoarjo
Wednesday, March 4, 2026
spot_img

Mahasiswa Untag Surabaya Kenalkan Inovasi TTG Alat Penanam Biji Jagung Petani Desa Nogosari Kabupaten Mojokerto

Catherin Diah Puspita mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang memperkenalkan Teknologi Tepat Guna (TTG) alat penanam biji jagung bersama rekan-rekannya saat menjalankan KKN kepada petani di Desa Nogosari Kabupaten Mojokerto, kemarin.

Kabupaten Mojokerto, Bhirawa.
Upaya mendorong kemajuan sektor pertanian desa terus dilakukan melalui berbagai inovasi sederhana namun berdampak nyata. Salah satunya ditunjukkan oleh Catherin Diah Puspita mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang memperkenalkan Teknologi Tepat Guna (TTG) alat penanam biji jagung bersama rekan-rekannya saat menjalankan KKN kepada petani di Desa Nogosari.

 Inovasi ini hadir sebagai solusi atas tantangan penanaman jagung yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual.

Bagi sebagian petani, proses penanaman biji jagung membutuhkan tenaga besar dan ketelitian tinggi. Jarak tanam yang tidak seragam dan tenaga kerja yang digunakan lebih banyak menjadi persoalan klasik yang kerap dihadapi di lapangan. Melalui alat penanam biji jagung berbasis TTG, mahasiswa UNTAG Surabaya berupaya menawarkan teknologi sederhana yang mudah digunakan dan sesuai dengan kebutuhan petani desa.

Alat penanam biji jagung ini dirancang dengan mengutamakan prinsip efisiensi dan kemudahan dalam pengoperasiannya, sehingga dapat digunakan oleh petani tanpa memerlukan keterampilan khusus maupun pelatihan yang rumit. Mekanisme kerja alat memungkinkan biji jagung ditanam dengan jarak tanam yang lebih seragam serta kedalaman tanam yang relatif sama pada setiap lubang, sehingga mendukung pertumbuhan tanaman yang lebih optimal dan serempak. Dengan tingkat keseragaman tersebut, proses penanaman dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan metode manual, tanpa mengurangi ketepatan dan kualitas hasil tanam. Selain itu, alat ini dirancang tidak bergantung pada mesin bermotor atau sumber energi tambahan, sehingga lebih hemat biaya operasional dan ramah lingkungan.

Berita Terkait :  UMAHA Sidoarjo Wisuda 567 Lulusan

12 Januari 2026, Catherin Diah bersama rekannya dalam masa pengabdian masyarakat telah melakukan sosialisasi dan pengenalan alat kepada petani Desa Nogosari, karena hal tersebut menjadi momen penting dalam proses inovasi ini. Para petani tidak hanya diperkenalkan pada fungsi alat, tetapi juga diajak memahami manfaat jangka panjang dari penggunaan teknologi tepat guna. Antusiasme terlihat dari keterlibatan aktif petani dalam sesi diskusi dan praktik penggunaan alat di lahan.

Mahasiswa UNTAG Surabaya menekankan bahwa teknologi ini bukan untuk menggantikan peran petani, melainkan membantu meringankan beban kerja mereka. Dengan alat yang lebih efisien, petani diharapkan dapat menghemat waktu tanam, mengurangi kelelahan fisik, serta meminimalkan kesalahan teknis dalam penanaman. Efisiensi tersebut pada akhirnya diharapkan berdampak pada peningkatan produktivitas hasil panen.

Kehadiran alat penanam biji jagung berbasis TTG ini juga mencerminkan peran mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan secara langsung di tengah masyarakat. Inovasi tidak selalu harus berteknologi tinggi dan mahal. Justru teknologi yang sederhana, terjangkau, dan sesuai kebutuhan lapangan sering kali lebih mudah diterima dan berkelanjutan.

Bagi petani Desa Nogosari, pengenalan teknologi ini membuka wawasan baru tentang pentingnya inovasi dalam pertanian. Pertanian desa tidak lagi semata identik dengan cara-cara konvensional, tetapi dapat berkembang seiring dengan kemajuan teknologi yang relevan dan aplikatif. Kolaborasi antara mahasiswa dan petani menjadi contoh nyata bahwa kemajuan pertanian dapat dimulai dari skala kecil.

Berita Terkait :  Dindik Jatim Pusatkan MTU di Satu Wilayah, Dampak Pelatihan Vokasi Lebih Maksimal

Ke depan, inovasi alat penanam biji jagung ini diharapkan tidak berhenti pada tahap sosialisasi. Pendampingan lanjutan serta dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah desa dan pemangku kebijakan terkait, menjadi faktor penting agar teknologi tepat guna ini dapat diterapkan secara berkelanjutan. Dengan sinergi yang baik, inovasi sederhana dapat memberikan dampak besar bagi kesejahteraan petani.

Inovasi teknologi tepat guna dari mahasiswa UNTAG Surabaya ini menjadi bukti bahwa peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam pembangunan sektor pertanian. Melalui pendekatan yang humanis dan berbasis kebutuhan masyarakat, teknologi dapat menjadi jembatan menuju pertanian desa yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan. (why)

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!