25 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

Bertahan di Dunia yang Berubah, Tangkap Peluang

Medy Prakoso
Tahun 2026 kembali dibuka dengan rasa waswas sekaligus harapan. Ketidakpastian global masih membayangi, namun peluang tetap terbuka bagi pelaku usaha yang mampu membaca arah perubahan. Dunia hari ini dan ke depan, adalah dunia yang terus berubah dan perubahan itu bersifat permanen.

Wakil Ketua Kadin Surabaya sekaligus Direktur Utama CV Surya Bhakti Mandiri, Medy Prakoso, menilai bahwa fondasi ekonomi global hingga nasional saat ini masih sangat dipengaruhi oleh dampak pandemi Covid-19. Dampak tersebut, menurut banyak kajian dan pakar, bukanlah peristiwa jangka pendek.

“Covid belum benar-benar usai. Dampaknya bisa terasa hingga 25 tahun ke depan, bahkan sampai 2044. Kita masih berada dalam fase pemulihan,” terangnya, Minggu (4/1).

Kondisi itu tercermin dari dinamika dunia usaha. Sejumlah perusahaan besar tumbang, namun di saat yang sama muncul banyak pelaku usaha baru dengan berbagai skala. Tahun 2026, menurut Medy, masih akan diwarnai upaya pemulihan dari tekanan ekonomi yang terjadi pada 2024 dan 2025.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai investasi sepanjang 2025 tetap besar dan mencatatkan pertumbuhan. Namun, investasi yang tertanam tidak serta-merta langsung menghasilkan dampak instan. Banyak pelaku usaha masih menunggu hasil dari investasi yang ditanam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, meningkatnya investasi Indonesia di luar negeri juga turut memengaruhi dinamika ekonomi domestik. Secara global, peta ekonomi dan teknologi dunia juga mengalami fragmentasi.

Berita Terkait :  Program Sentuh Kebutuhan Rakyat

Tiongkok dan sejumlah negara yang telah lebih dulu terfragmentasi secara ekonomi dan teknologi mulai merambah negara-negara yang relatif tertinggal. Setelah Asia, Afrika diperkirakan akan menjadi sorotan baru sebagai kawasan pertumbuhan berikutnya.

Sementara itu, Amerika Serikat masih akan menghadapi perjalanan panjang penuh fluktuasi. Kebijakan-kebijakan era Donald Trump yang dampaknya belum sepenuhnya berakhir menciptakan “roller coaster” ekonomi, dengan Eropa berperan sebagai kutub berbeda, meski secara substansi masih berada dalam satu koalisi kepentingan.

Kondisi ini akan terus memengaruhi pergerakan makro ekonomi global, mulai dari nilai tukar dolar, harga emas, pasar saham, hingga aset kripto.

Di tengah dinamika global tersebut, Indonesia diperkirakan masih akan fokus pada pembenahan domestik. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengejar target kinerja lima tahunan, dengan percepatan pembangunan fisik dan investasi termasuk melalui skema Danantara setidaknya hingga 2027.

“Tujuannya jelas, membuka peluang daya beli masyarakat dan meningkatkan belanja negara,” jelas Medy.

Pembangunan infrastruktur dan penguatan investasi diharapkan mampu menjadi pengungkit ekonomi nasional, sekaligus menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan eksternal.

Dari sisi sektoral, Medy melihat peluang besar di bidang energi, teknologi informasi (IT), serta hasil bumi yang menopang kebutuhan industri IT dan komponen elektronika. Kebutuhan digitalisasi, modernisasi, dan pemutakhiran sistem jaringan berskala nasional akan terus meningkat.

Konsekuensinya, industri-industri pendukung baru akan bermunculan, terutama di Jawa Timur. Posisi strategis Jawa Timur sebagai pintu gerbang Indonesia Timur menjadi nilai tambah tersendiri.

Berita Terkait :  Geram atas Kejadian KDRT Berujung Maut

“Ini akan berdampak langsung pada peningkatan perdagangan Jawa Timur, baik domestik maupun internasional,” ujarnya.

Di sisi perdagangan, ekspor diproyeksikan masih tumbuh seiring dorongan aktif pemerintah dan meningkatnya investasi Indonesia di luar negeri. Namun, karakter industri Jawa Timur yang kuat juga membuat kebutuhan impor tetap tinggi, terutama untuk suplai bahan baku dan penunjang industri.

Secara proporsi, aktivitas impor diperkirakan masih berada di kisaran 10 persen, terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, rantai pasok industri, serta peluang spekulasi jangka pendek. Sementara itu, pelaku usaha yang ingin bertahan lebih lama di pasar global perlu menanam “benih” jangka panjang yang hasilnya dipanen secara bertahap.

Bagi pelaku usaha yang cenderung berhati-hati, sektor jasa dan usaha riil skala kecil dinilai masih menjadi pilihan relatif aman. Namun, pemahaman terhadap regulasi serta kondisi mikro dan makro ekonomi tetap menjadi kunci.

Pembangunan infrastruktur kenyamanan, keamanan, dan fasilitas publik di Jawa Timur terus berjalan. Hal ini membuat minat investasi di wilayah ini masih terbuka lebar, meski Jawa Timur masih kalah kompetitif dibanding Jawa Tengah dalam hal UMP/UMR. “Ini tantangan sekaligus peluang,” kata Medy.

Menurut Medy, tantangan terbesar ke depan bukan hanya investasi, tetapi pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kewirausahaan. Digitalisasi dan modernisasi memang meningkatkan efisiensi, tetapi di sisi lain menekan serapan tenaga kerja.

Berita Terkait :  Ingatkan Kepedulian Sosial

Karena itu, peningkatan kapasitas SDM dan kewirausahaan menjadi penting agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada sektor formal dan standar UMP/UMR.

Setiap awal tahun, kecemasan selalu hadir. Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap akhir tahun selalu berhasil dilalui, melahirkan para penyintas ekonomi yang tangguh.

“Maka tidak perlu khawatir secara mendalam. Selalu akan ada keadaan baru yang menyelamatkan,” pungkas Medy.

Tahun 2026 bukan tentang menghindari perubahan, melainkan tentang beradaptasi, membaca peluang, dan bertahan di dunia yang terus bergerak. [riq.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru